Perkelahian Remaja Putri di Buleleng Bali Berakhir Damai di Kantor Polisi, Orang Tua Minta Maaf
Putu Kartika Viktriani June 24, 2026 10:21 AM

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA – Kasus perkelahian yang viral di media sosial dan melibatkan dua remaja perempuan di Kabupaten Buleleng akhirnya berakhir damai.

Perselisihan antara Putu AAP dan Komang TW diselesaikan melalui proses mediasi yang difasilitasi Polsek Singaraja pada Selasa 23 Juni 2026.

Proses mediasi berlangsung di Aula Polsek Singaraja sekitar pukul 10.45 Wita dengan melibatkan sejumlah pihak, mulai dari jajaran kepolisian, kepala sekolah, orang tua atau wali, hingga para siswa yang terlibat.

Terungkap bahwa Putu AAP dan Komang TW merupakan siswi salah satu SMP di Kecamatan Buleleng. Keduanya bahkan tercatat sebagai teman sekelas di bangku kelas IX.

Mediasi Dilakukan untuk Cegah Persoalan Berkembang

Proses mediasi dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak agar persoalan tersebut tidak berkembang lebih jauh.

 

Kasi Humas Polres Buleleng, Iptu Yohana Rosalin Diaz mengatakan pendekatan yang dilakukan mengedepankan pembinaan mengingat para pihak yang terlibat masih berstatus pelajar dan berusia di bawah umur.

Baca juga: VIDEO Viral! Dua Remaja Wanita Adu Jotos di Depan Museum Geopark Batur Kintamani Bali

"Melalui mediasi, kedua belah pihak sepakat berdamai dan menyelesaikan permasalahan secara kekeluargaan. Selanjutnya pembinaan akan dilakukan oleh pihak sekolah bersama orang tua," ujarnya seizin Kapolres Buleleng, AKBP Ruzi Gusman.

Dalam proses mediasi tersebut, pihak kepolisian juga menyayangkan tindakan kedua siswi yang terlibat. Selain aksi perkelahian, polisi menyoroti tindakan merekam dan menyebarkan video kejadian hingga viral di media sosial.

Para pelajar diingatkan agar lebih berhati-hati menggunakan media sosial karena jejak digital akan tetap tersimpan dan berpotensi memengaruhi masa depan mereka.

"Kami berharap adik-adik dapat memperbaiki diri dan tidak mengulangi perbuatan serupa. Kalau kejadian seperti ini terulang lagi, tentu akan diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku," tegasnya.

Meski memilih jalur damai, pihak kepolisian mengingatkan bahwa tindakan yang dilakukan para siswi tersebut sebenarnya berpotensi menimbulkan konsekuensi hukum.

Namun, karena keduanya masih berstatus pelajar dan memiliki masa depan yang panjang, penyelesaian secara kekeluargaan dipilih dengan harapan mereka dapat memperbaiki diri.

Kepala Sekolah dan Orang Tua Berharap Kejadian Tak Terulang

Kepala sekolah kedua siswi tersebut mengaku terpukul atas peristiwa yang sempat viral di media sosial.

Ia juga mengapresiasi langkah cepat pihak kepolisian yang memfasilitasi proses mediasi sehingga persoalan dapat diselesaikan secara damai.

"Kejadian ini membuat kami terpukul, apalagi sampai viral di media sosial. Kami berjanji akan membina dan mendidik anak-anak agar peristiwa serupa tidak terulang lagi dan mereka bisa kembali berteman seperti sedia kala," ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, keluarga Komang TW mengaku sedih atas kejadian yang menimpa anaknya dan berharap tidak ada lagi kekerasan antarteman di lingkungan sekolah.

Sementara itu, orang tua Putu AAP menyampaikan permohonan maaf serta berjanji akan membimbing anaknya agar tidak mengulangi perbuatannya.

Sebelumnya Viral Video Perkelahian Dua Remaja Perempuan di Buleleng

Sebelumnya, peristiwa perkelahian remaja kembali menjadi perbincangan di media sosial. Mirisnya, perkelahian tersebut melibatkan dua remaja perempuan.

Video aksi perkelahian itu diunggah pada Sabtu 20 Juni 2026 dan mendapat ratusan respons dari warganet.

Berdasarkan keterangan yang beredar, peristiwa tersebut terjadi di Jalan Gunung Lempuyang, Kelurahan Banjar Tegal, Buleleng.

Dalam video berdurasi 59 detik, terlihat dua remaja perempuan saling melempar tendangan dan pukulan.

Setelah itu, salah satu remaja yang mengenakan celana panjang mengambil botol berisi air lalu menyiram lawannya hingga menangis.

Kapolsek Kota Singaraja, Kompol Gede Juli sebelumnya menyatakan pihaknya telah melakukan penyelidikan terkait peristiwa tersebut.

"Sudah saya lidik. Rencananya kita panggil nanti. Setelah kita undang baru tahu lebih jelas," ucap Kompol Juli, Minggu 21 Juni 2026.

GPS Soroti Budaya Sportivitas dan Ajak Remaja ke Aktivitas Positif

Aksi perkelahian tersebut juga mendapat sorotan dari tokoh publik asal Buleleng, Gede Pasek Suardika.

Menurutnya, perkelahian satu lawan satu di kalangan anak muda sebenarnya bukan hal baru.

"Kalau zaman dulu biasa ada berkelahi satu lawan satu kalau ada masalah. Teman-temannya mengantar, berkelahinya di pantai. Setelah itu selesai dan kembali lagi. Temannya mendamaikan, masalah selesai. Bahkan banyak yang akhirnya bersahabat. Biasanya sih laki-laki," ujarnya.

Namun, ia menyayangkan tindakan penyiraman air yang dilakukan setelah perkelahian selesai.

"Mungkin emansipasi, perempuan tidak mau kalah dengan laki-laki. Tapi seharusnya begitu selesai langsung dipisahkan dan selesai. Kalau seperti ini kesannya tidak baik dan tidak sportif. Jauh dari ciri khas gaya Singaraja," imbuhnya.

GPS juga mengusulkan agar energi para remaja diarahkan ke kegiatan yang lebih positif melalui olahraga bela diri.

"Sekalian saja anak-anak itu dididik jadi atlet bela diri biar ada manfaatnya, daripada hanya untuk tontonan yang tidak bermanfaat," ucapnya.

Selain itu, ia menilai pentingnya peran keluarga, lingkungan, dan sekolah dalam menyediakan lebih banyak aktivitas positif bagi remaja.

"Memang perlu banyak aktivitas positif disiapkan oleh keluarga, lingkungan maupun sekolah, sehingga tidak ada waktu untuk hal-hal yang tidak produktif," pungkasnya. (mer)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.