Riuh percakapan memenuhi Hall Exhibition Taman Budaya Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, saat Kulon Progo Job Fair 2026 digelar. Ratusan pencari kerja memadati setiap sudut ruangan. Namun, di tengah keramaian itu, ada kisah yang diam-diam menyentuh hati.
SEORANG pria berusia 61 tahun berjalan perlahan sambil sesekali menoleh ke arah perempuan muda di sampingnya. Mereka berpindah dari satu stan ke stan lain, menunggu kesempatan yang mungkin bisa mengubah hidup.
Pria itu bernama Samikan. Ia bukan pencari kerja. Kedatangannya hanya untuk menemani putrinya, Bekti Hilda Aristi (19), mencari pekerjaan pertama.
Bekti adalah penyandang disabilitas rungu.
Sejak lahir, pendengarannya tidak berfungsi sehingga ia tumbuh dalam dunia yang sunyi. Cobaan hidupnya tak berhenti di sana. Saat usianya baru tiga tahun, sang ibu meninggal dunia.
Sejak saat itu, Samikan mengambil peran ganda sebagai ayah sekaligus ibu. Petani asal Kalurahan Bumirejo, Kapanewon Lendah, itu membesarkan Bekti seorang diri, mengantarnya bersekolah, mengajarinya berkomunikasi dengan bahasa isyarat, hingga kini setia mendampingi putrinya mencari pekerjaan.
Di balik keterbatasan yang dimiliki, Bekti tak pernah berhenti belajar. Ia baru saja lulus dari Sekolah Menengah Luar Biasa (SMLB) di Panjatan, Kulon Progo.
Bekti tidak datang ke job fair dengan tangan kosong.
Ia memiliki keterampilan tata boga dan tata busana yang diperolehnya selama sekolah. Selain itu, ia juga piawai berkomunikasi melalui bahasa isyarat maupun tulisan di telepon genggam.
Prestasinya pun tak sedikit. Pada 2024, Bekti pernah menjadi finalis lomba merangkai bunga tingkat nasional.
Informasi mengenai bursa kerja itu diketahui Samikan dari pesan yang diterima putrinya melalui telepon genggam. Tanpa berpikir panjang, ia mengantar Bekti datang ke lokasi, berharap ada pintu yang terbuka untuk masa depan anaknya.
Saat ditanya pekerjaan seperti apa yang diharapkan untuk Bekti, Samikan tak memasang target tinggi.
“Dapat kerjaan untuk hidup mandiri. Yang penting halal. Cocok atau tidak, nanti anak yang menjalani,” ujarnya.
Bagi Samikan, yang terpenting bukanlah jenis pekerjaan atau besarnya penghasilan, melainkan kesempatan agar Bekti bisa berdiri di atas kakinya sendiri.
Namun, ia mengakui belum memahami secara utuh peluang kerja yang tersedia bagi penyandang disabilitas.
Karena itu, ia berharap ada pendampingan agar putrinya dapat menemukan pekerjaan yang sesuai.
“Kalau yang ahlinya nanti mengarahkan ke mana, ke mana, ya lebih baik,” katanya.
Harapan Samikan sejalan dengan upaya Pemerintah Kabupaten Kulon Progo untuk memperluas akses kerja bagi penyandang disabilitas.
Kepala Dinas Tenaga Kerja Kulon Progo, Bambang Sutrisno, mengatakan pihaknya mendorong perusahaan peserta job fair membuka kesempatan bagi penyandang disabilitas.
“Ini juga kita minta dari perusahaan-perusahaan menyediakan peluang untuk disabilitas. Paling tidak satu-satulah,” ujarnya.
Tak hanya itu, Disnaker juga membuka pelatihan kerja bagi penyandang disabilitas dan menggandeng komunitas-komunitas di desa agar memanfaatkan momentum bursa kerja tersebut.
Menurut Bambang, langkah itu mulai membuahkan hasil. Pada penyelenggaraan job fair sebelumnya, empat penyandang disabilitas berhasil memperoleh pekerjaan.
Sebagai bentuk afirmasi, Disnaker bahkan berencana menggelar job fair khusus penyandang disabilitas pada akhir 2026.
“Sebagai wujud apresiasi dan afirmasi untuk kaum disabilitas ini, kita adakan job fair khusus disabilitas,” kata Bambang.
Kulon Progo Job Fair 2026 sendiri diikuti 26 perusahaan dengan total 2.055 lowongan pekerjaan. Di antara ribuan peluang itu, Samikan dan Bekti terus menyusuri stan demi stan. (Kompas.com)