UMY Tembus Ranking Dunia untuk Zero Hunger, Ini Rahasianya
GH News June 24, 2026 10:09 PM
Bantul -

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mencatat kenaikan skor tertinggi pada indikator International Research Network dalam QS World University Rankings (QS WUR) 2027. Salah satu indikator penilaian tersebut dari kontribusi UMY melalui program zero hunger atau pengurangan kelaparan yang sinkron dengan Sustainable Development Goals (SDGs).

Wakil Rektor Bidang Mutu, Reputasi, dan Kemitraan UMY, Prof Ir Slamet Riyadi mengatakan UMY mengalami peningkatan sebesar 92 persen dibanding edisi sebelumnya, dan perbaikan peringkat sebanyak 42 posisi. Ia menyatakan capaian tersebut mencerminkan konsistensi UMY dalam membangun jejaring kolaborasi riset lintas negara.

"Skor yang paling tinggi naik adalah pada International Research Network . Ini menunjukkan bahwa UMY punya jejaring mitra kolaborasi riset yang berkelanjutan di seluruh dunia," ujar Slamet saat jumpa pers di kampus UMY, Bantul, Rabu (24/6/2026).

Secara keseluruhan, UMY menempati peringkat 1.201-1.400 dunia dalam QS WUR 2027. Dari 8.808 institusi yang dievaluasi, hanya 1.504 institusi yang berhasil masuk dalam daftar yang dipublikasikan.

"Di Indonesia sendiri hanya ada 20 perguruan tinggi, salah satunya adalah UMY. Kalau kita lihat, maka UMY ini adalah 14 perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Kemudian, perguruan tinggi Islam terbaik di Indonesia, perguruan tinggi swasta terbaik di Jateng dan DIY, serta perguruan tinggi swasta terbaik kedua di Indonesia," lanjutnya.

Di sisi lain, UMY juga masuk dalam peringkat 201-300 dunia untuk kategori Zero Hunger atau pengurangan kelaparan dalam pemeringkatan Times Higher Education Sustainability Impact Ratings (THE SIR) 2026. Capaian tersebut diraih berkat berbagai program yang dijalankan kampus, mulai dari riset ketahanan pangan, pengurangan sampah makanan, hingga kegiatan yang menyasar mahasiswa dan masyarakat.

Slamet mengatakan capaian itu merupakan bagian dari penilaian terhadap kontribusi perguruan tinggi dalam mencapai Sustainable Development Goals (SDGs) yang dicanangkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

"Untuk SDG 2 yaitu tentang Zero Hunger, itu kita dinilai atas lima indikator," ucapnya.

Dia menjelaskan indikator pertama adalah kontribusi riset dosen dan mahasiswa dalam upaya pengurangan kelaparan. Penelitian tersebut mencakup berbagai bidang, mulai dari pertanian hingga farmasi.

"Berbagai macam riset, inovasi-inovasi yang dilakukan, misalnya di pertanian tentang perbaikan kualitas makanan, tanaman-tanaman pangan dan lain sebagainya," ujarnya.

Selain riset, THE SIR juga menilai pengelolaan sampah makanan (food waste) di lingkungan kampus. Menurut Slamet, UMY berupaya menekan jumlah sampah makanan melalui berbagai kebijakan, seperti penggunaan wadah nonplastik dan pengurangan barang sekali pakai dalam kegiatan kampus.

"Yang kedua adalah indikator tentang campus food waste. Jadi yang ingin dilihat dari THE adalah seberapa banyak sampah yang dihasilkan oleh UMY. Jadi, civitas akademika didorong untuk menggunakan tumbler dan perlengkapan makan yang dapat digunakan berulang kali. Dalam sejumlah kegiatan kampus, penyajian makanan juga dilakukan dengan cara yang lebih ramah lingkungan," ungkapnya.

Indikator lainnya, kata Slamet, adalah upaya kampus dalam mengatasi persoalan kelaparan di kalangan mahasiswa. Salah satu program yang menjadi perhatian adalah "Selasa Masa", yakni kegiatan sarapan bersama mahasiswa yang rutin digelar setiap pekan.

"Kita punya program Selasa Masa. Jadi setiap Selasa itu makan pagi, sarapan habis olahraga bersama mahasiswa," ungkapnya.

Selain itu, THE SIR turut menilai kontribusi perguruan tinggi melalui lulusan bidang pertanian yang dihasilkan. UMY memiliki Program Studi Agroteknologi dan Agribisnis yang masuk dalam indikator tersebut.

Adapun indikator terakhir, Slamet menjelaskan, berkaitan dengan kontribusi kampus kepada masyarakat. UMY dinilai melalui berbagai kegiatan pengabdian, termasuk program Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang mendorong peningkatan ketahanan pangan di sejumlah wilayah.

"Nah, ini dilihat dari aktivitas-aktivitas UMY, misalnya kita mengirimkan mahasiswa KKN atau dosen melakukan pengabdian masyarakat. Di sana mereka punya program-program di dalam pengurangan kelaparan," pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.