Pembangunan Infrastruktur Belum Rampung, Festival Danau Sentani Diundur hingga September
Paul Manahara Tambunan June 24, 2026 10:29 PM

 

Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Putri Nurjannah Kurita

TRIBUN-PAPUA.COM, SENTANI – Pemerintah Kabupaten Jayapura resmi mengundur jadwal pelaksanaan event pariwisata tahunan, Festival Danau Sentani (FDS) 2026.

Festival yang semula direncanakan pada Juli hingga Agustus 2026 tersebut, kini terpaksa ditunda ke tanggal 20 Agustus hingga September tahun ini.

"Keputusan Bupati dan panitia FDS, kita tunda ke 1 September 2026. Sementara untuk pra-festival akan dimulai dari 20 Agustus sampai 1 September," ujar Ketua Panitia FDS, Gilberd Yakwart.

Pernyataan tersebut disampaikan Gilberd usai menggelar rapat koordinasi bersama Bupati dan Wakil Bupati Jayapura di Sentani, Rabu (24/6/2026).

Gilberd Yakwart membeberkan alasan utama penundaan tersebut adalah terkait kesiapan areal utama festival di Dermaga Kalkhote, Distrik Sentani Timur, yang pembangunannya belum rampung.

Baca juga: Temui Wamenparekraf, Bupati Jayapura Promosikan Persiapan Festival Danau Sentani 2026

Berdasarkan laporan dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) serta Dinas Pertanahan, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (DP2KP), penyiapan lokasi tidak memungkinkan jika dipaksakan selesai dalam kurun waktu dekat.

Atas pertimbangan teknis itulah, Bupati Jayapura akhirnya memutuskan untuk menggeser waktu pelaksanaan.

"Infrastrukturnya baru mencapai 35 persen. Setelah ditinjau, proses penimbunan dan pengecoran tidak memungkinkan selesai bulan depan untuk menggelar acara," ungkap Gilberd.

Dengan adanya perubahan jadwal ini, rangkaian acara FDS 2026 nantinya akan berlangsung total selama satu bulan satu pekan.

Rangkaian dimulai dari pra-event pada 20 Agustus, hingga masuk ke puncak festival pada 1 sampai 5 September 2026.

Pergeseran jadwal ini secara otomatis membuat FDS 2026 keluar dari kalender Kharisma Event Nusantara (KEN) yang telah ditetapkan oleh pusat.

Meski demikian, Gilberd optimis hal ini tidak akan menjadi kendala besar. Pihaknya mengaku akan segera melakukan koordinasi intensif dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).

"Kami akan koordinasikan dengan Kementerian Pariwisata, dan kami siap menerima konsekuensinya," tegas pria yang juga menjabat sebagai Asisten I Setda Kabupaten Jayapura ini.

S Gilberd Yakwart usai rapat bersaas
Ketua Panitia FDS Gilberd Yakwart usai rapat bersama Bupati dan Wakil Bupati Jayapura di Hotel Cartenz Sentani, Distrik Sentani

Soroti Minimnya Anggaran Festival

Selain kendala infrastruktur, Gilberd juga blak-blakan mengungkap tantangan lain, yakni minimnya anggaran.

Untuk FDS 2026, pemerintah daerah hanya menggelontorkan dana sekitar Rp 2,5 miliar yang bersumber dari Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Menurutnya, angka ini tergolong sangat kecil untuk membiayai festival berskala besar yang durasinya mencapai sebulan lebih.

"Ini salah satu hal yang cukup berat bagi saya. Pada tahun-tahun sebelumnya, kegiatan festival hanya berlangsung selama empat hari namun didukung anggaran yang tembus hingga Rp 5 sampai 6 miliar," bebernya.

Baca juga: Tambang Emas Ilegal di Kali Jaifuri Ancam Ekosistem Danau Sentani, Walhi Papua Desak Penegakan Hukum

Meski dihadapkan pada keterbatasan dana dan waktu, Gilberd memastikan bahwa FDS tahun ini akan menyajikan konsep yang jauh lebih unik dan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.

Selain menyuguhkan pertunjukan tarian tradisional, pameran kuliner, dan atraksi budaya, panitia akan menggandeng mama-mama Papua di wilayah Sentani untuk menggelar aksi makan papeda dan minum kopi gratis selama satu hari penuh.

Tidak tanggung-tanggung, Pemkab Jayapura juga membidik catatan rekor dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).

"Kami berniat untuk meraih rekor MURI dengan membuat satu juta Hiloy (sagu hancur). Selain itu, kami juga akan mempertontonkan tradisi unik masyarakat lokal di sekitar Danau Sentani, yaitu budaya menyelam sambil mengisap rokok di dalam air," pungkasnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.