Mengapa Pertandingan Piala Dunia Dimainkan Secara Bersamaan?
Hendra Wijaya June 25, 2026 06:02 AM

Piala Dunia 2026 telah memasuki putaran terakhir babak penyisihan grup, yang berarti kedua pertandingan di masing-masing dari 12 grup akan dimulai pada waktu yang sama.

Alasan di balik kebijakan FIFA mengadakan pertandingan terakhir grup secara bersamaan berawal dari Piala Dunia 1982 dan insiden terkenal yang disebut “Aib Gijon” – pertandingan kontroversial antara Jerman Barat dan Austria yang menghasilkan skor yang memungkinkan kedua tim lolos bersama, sementara Aljazair tersingkir.

Pada saat itu, Aljazair sudah menyelesaikan pertandingan terakhirnya dan berada di posisi yang memungkinkan mereka untuk lolos dari grup. Jerman Barat dan Austria masuk ke pertandingan berikutnya dengan mengetahui bahwa kemenangan tipis bagi Jerman Barat akan cukup untuk memastikan kedua tim melaju, sekaligus menyingkirkan Aljazair berdasarkan selisih gol.

Amerika Serikat akan menghadapi Turki di laga terakhir Grup D, bersamaan dengan pertandingan antara Australia dan Paraguay.

Jerman Barat unggul pada menit ke-10, dan sejak saat itu kedua tim tampak puas dengan hasil tersebut. Mereka seolah-olah sepakat untuk tidak lagi berusaha mencetak gol di sisa pertandingan, yang menimbulkan kemarahan besar dari para pendukung Aljazair yang tidak berdaya.

Akibat insiden tersebut, pada Piala Dunia 1986 FIFA mengubah format turnamen agar pertandingan terakhir di setiap grup dimainkan secara bersamaan. Tujuannya adalah untuk menghindari kemungkinan adanya kesepakatan atau pengaturan hasil yang menguntungkan kedua pihak, karena hasil dari pertandingan lain dalam grup terjadi pada waktu yang sama dan dapat memengaruhi klasemen secara langsung.

Menariknya, format Piala Dunia 2026 justru bisa menimbulkan dinamika baru. Dengan diterapkannya sistem head-to-head sebagai penentu peringkat bagi tim yang memiliki poin sama – menggantikan selisih gol – beberapa tim mungkin memiliki gambaran yang lebih jelas tentang posisi mereka di klasemen dan apa yang dibutuhkan untuk lolos sebelum pertandingan terakhir dimulai.

Ironisnya, situasi ini bisa menguntungkan Aljazair dalam pertandingan melawan Austria. Dengan Argentina sudah dipastikan menjadi juara Grup J, dan empat poin hampir pasti cukup untuk lolos bahkan bagi tim yang finis di posisi ketiga, baik Aljazair maupun Austria tahu bahwa hasil imbang di Kansas City akan membuat keduanya melaju ke babak berikutnya. Situasi serupa juga terjadi di Grup D antara Australia dan Paraguay.

Namun, ada juga alasan bagi Austria untuk tidak menang. Tim yang finis sebagai runner-up Grup J akan menghadapi Spanyol – salah satu unggulan turnamen – di babak 32 besar, sementara tim yang finis di posisi ketiga akan mendapat lawan yang relatif lebih mudah, yaitu Belgia atau Mesir.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.