TRIBUNJATENG.COM, PATI - Suasana haru terasa begitu pekat di Sentra Margo Laras Pati, Jawa Tengah, Sabtu (20/6/2026). Sejumlah orang tua/wali bersama anak-anak mereka tampak melangkah keluar gedung aula dengan mata sembap, basah, dan memerah. Siang itu, baru saja rampung kegiatan pembagian rapor siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 12 Pati, yang dilanjutkan dengan dialog guru dan wali murid.
Seorang ibu tidak malu-malu menampakkan air matanya yang bercucuran. Perempuan paruh baya berkerudung merah ini menggandeng sang putra yang mengenakan jaket bomber biru dongker dengan logo Sekolah Rakyat terpasang di dada kiri. Anak lelaki 13 tahun berkulit gelap dan berperawakan tinggi-tegap itu juga tidak menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca. Tiba-tiba, keharuan itu meledak jadi tangis. Si anak spontan mendekap ibunya ketika kumandang sebuah lagu terdengar dari pengeras suara di gedung aula.
Baca juga: Tak Berkutik, 2 Pelaku Pengeroyokan di Waduk Gembong Pati Diringkus Polisi
Sepenggal bait dari lagu berjudul "Ayah Ibu" oleh grup band Karnamereka itu menjadi musik latar belakang yang membuatnya rawan hati: perasaan harunya memuncak. "Pertunjukan" romansa itu terjadi secara natural, tanpa dibuat-buat, di antara Ahmad Heri Matondang yang akrab disapa Toto dan ibundanya, Juriyah (49). Bagaimana tidak? Keseluruhan lirik lagu tersebut seolah sedang menyenandungkan kisah hidup mereka. Begini bunyi bait-bait lain dalam lirik lagu tersebut.
"Suatu saat nanti kan kugantikan tugasmu Ayah. Doakan aku Ibu, restumu sertai langkahku. Ayah dengarkanlah bahagia pasti datang percayalah. Ibu engkau kuatkan aku.”
“Ibu jangan khawatirkan aku. Ku bukan si kecil yang slalu dimanja Ibu. Aku si pemberani harapan Ibu. Ibu tolong percaya.”
“Ayah katakan pada Ibu. Ku bisa melewati semua pahitku. Meskipun kenyataannya Ayah tahu. Ayah engkau penyelamatku."
M. Kiswanto, ayah Toto, meninggal dunia sekira empat tahun lampau, saat Toto masih duduk di kelas 3 Sekolah Dasar (SD). Sakit gula (diabetes) merenggut sosok tulang punggung di keluarganya itu.
Kehilangan figur ayah membuat Toto hilang arah. Bocah yang sebelumnya penurut dan rajin membantu orang tua membuat jajanan pasar untuk dijual ini menjelma jadi anak nakal. Dia kerap membolos sekolah. Bahkan, dia juga terjerumus pergaulan yang negatif dan menjadi "perokok usia dini".
“Dulu waktu SD saya sering dimarahi Ibu karena bolos sekolah terus. Kegiatannya cuma main-main. Bikin Ibu sedih juga karena ketahuan merokok. Saya merokok mulai kelas 3 sampai kelas 6. Tapi semenjak masuk SR sudah tidak lagi. Sekarang lebih mikir masa depan,” kata remaja asal Desa Dororejo, Kecamatan Tayu ini.
Kehilangan sosok kepala keluarga dan perubahan sikap Toto tidak hanya memukul batin Juriyah, tetapi juga memutus mata rantai pendidikan tiga kakak Toto. Kakak sulungnya yang laki-laki hanya lulus SMP dan kini bekerja sebagai buruh bangunan. Adapun kakak nomor dua yang perempuan terpaksa berhenti sekolah di kelas 8 SMP.
“Anak saya yang nomor dua putus sekolah saat bapaknya mulai sakit-sakitan. Saat itu dia baru kelas 8 SMP. Tapi sekarang sudah ikut program Kejar Paket. Kalau anak saya perempuan yang nomor tiga putus sekolah juga, tapi belum ambil Kejar Paket,” ungkap Juriyah.
Dia mengatakan, sebelum sakit-sakitan, suaminya mencari nafkah bersama dirinya dengan membuat kudapan intip dan sampok untuk disetorkan ke pasar-pasar tradisional di Tayu dan sekitarnya. Sepeninggal sang suami, perekonomian keluarga pincang. Dalam lubuk hatinya, Juriyah tidak ingin Toto, anak bungsunya, juga sampai putus sekolah. Namun, di sisi lain dia tidak yakin sanggup membiayai putranya itu melanjutkan pendidikan.
“Setelah lulus SD maunya lanjut sekolah, tapi saya ragu sanggup menyekolahkan Toto atau tidak,” kata Juriyah lirih sambil menyeka air mata menggunakan ujung jilbabnya.
Di tengah kegundahan itu, suatu hari tiba-tiba Toto membawa kabar baik. Rupanya dia mendapatkan penjelasan tentang program Sekolah Rakyat (SR) dari seorang petugas pendamping Program Keluarga Harapan (PKH).
“Dia bilang ‘Aku masuk SR ya, Bu. Supaya sampeyan dapat bantuan juga’. Kalau saya tergantung keinginan anak saja. Alhamdulillah anaknya sendiri yang punya kemauan. Dia ingin saya tidak terbebani biaya,” ungkap Juriyah.
Untuk diketahui, SR merupakan program unggulan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka melalui Kementerian Sosial (Kemensos). Program ini diperuntukkan bagi keluarga miskin. Selain memberikan pendidikan berasrama gratis kepada anak, program ini juga terintegrasi dengan berbagai bantuan sosial (bansos) dan pemberdayaan ekonomi keluarga.
Juriyah sendiri mengaku mendapatkan bantuan produktif untuk mendukung usahanya memproduksi jajanan pasar. Selain dukungan bantuan kesejahteraan, Juriyah juga merasakan langsung perubahan positif Toto setelah ditempa di SRMP 12 Pati.
“Alhamdulillah sifatnya berubah. Lebih tahu tata krama, bicaranya lebih sopan. Jadi rajin salat, ngajinya juga sudah sampai Al-Qur’an. Padahal dulu nakal, sampai merokok juga. Sekarang sudah tidak lagi. Saya sangat bersyukur,” ujar dia.
Sebagai anak yang sebelumnya pemalas dan selalu bangun siang, Toto mengaku sempat kaget ketika mengikuti rutinitas di SRMP 12 Pati. Saat SD dulu, tidak jarang Toto baru beranjak dari tempat tidurnya pukul 12.00 WIB siang. Di sekolah berbasis asrama ini, kebiasaan buruk itu harus dia kubur dalam-dalam.
“Di sini kegiatannya padat. Bangun jam 4 pagi langsung mandi. Kemudian lanjut kegiatan asrama dan sekolah. Masih ada ekstrakurikuler juga. Saya ikut futsal dan voli. Awalnya berat, tapi karena pembiasaan, juga karena selalu disemangati wali asuh dan guru-guru, sekarang malah saya nikmati,” papar dia.
“Ibu jangan khawatirkan aku. Ku bukan si kecil yang slalu dimanja ibu. Aku si pemberani harapan ibu. Ibu tolong percaya.” Sesuai penggalan lirik lagu ini, Toto meminta ibunya agar tak khawatir. Cukup mendoakan dirinya agar bisa berproses di SR hingga nantinya berhasil menjadi kebanggaan keluarga.
Bangkitkan asa anak broken home
Cerita tentang bagaimana SRMP 12 Pati menjadi harapan baru bagi anak-anak dari kalangan marginal juga dialami oleh Dinda Meila Azzahra (13). Sebelumnya, masa depan gadis pendiam ini tak secerah warna kulitnya.
Dinda adalah anak dari keluarga tak utuh (broken home). Dia lahir dari pernikahan dua budaya. Bapaknya berdarah Sunda asal Karawang. Sedangkan ibunya merupakan wanita Jawa asli Desa Manjang, Kecamatan Jaken, Pati.
Dahulu, orang tuanya mengelola sebuah warung makan di rumah mereka di Desa Manjang. Kehidupan berjalan hangat dan berkecukupan. Dinda kecil juga kerap diajak mengunjungi keluarga ayahnya di Karawang. Namun, badai tiba ketika kedua orang tuanya memutuskan bercerai.
Sang ibu sempat menikah lagi, namun takdir berkata lain. Pada 2023, ibunda Dinda berpulang kepada Yang Mahakuasa. Bapak sambungnya lalu menikah lagi. Sementara, bapak kandungnya setelah bercerai pulang ke kampung halaman dan hampir tidak pernah menyambangi Dinda di Pati.
“Warung makan ibu sekarang tutup karena tidak ada yang mengurus. Setelah ibu meninggal, Dinda sejak umur 10 tahun tinggal dengan saya dan suami,” kata kakak ipar Dinda, Lisa Krisdiyanti (28), yang hadir sebagai wali dalam kegiatan pembagian rapor.
Lisa mengatakan, suaminya, yakni Dedi Feriyanto (29), juga menafkahi adiknya yang masih duduk di bangku Kelas 9 MTs, Muhammad Dida Ardiansyah. Untuk menafkahi keluarga dan dua adik kandungnya, sang suami bekerja sebagai sopir pengangkut ayam di sebuah pabrik.
Menyadari kondisi perekonomian yang serbaterbatas, Lisa sempat pesimistis terhadap masa depan pendidikan Dinda. Saat itulah SR datang menjadi penyelamat. Selain memberikan pendidikan gratis, Lisa melihat SR juga membuat adik iparnya menjadi pribadi yang lebih mandiri.
Meski selama ini Dinda dia kenal sebagai sosok yang pendiam, introver, dan tidak pernah bertingkah aneh-aneh, Lisa tetap melihat ada perubahan positif pada diri adik iparnya itu. Salah satunya terlihat pada kebiasaan sederhana di pagi hari.
“Sekarang bangunnya lebih pagi. Tidak di kamar melulu. Ngajinya juga jadi lebih rajin,” kata dia. Meski tinggal di asrama sekolah, para siswa SRMP 12 Pati memang mendapatkan beberapa kesempatan untuk pulang, misalnya saat libur hari besar keagamaan.
Kini, Lisa berharap SR bisa menjadi kompas yang menuntun Dinda menjadi perempuan yang tangguh, mandiri, dan bermasa depan cerah. “Semoga bisa sukses dan mandiri, soalnya, kan, sudah tidak ada orang tua juga,” harap Lisa lirih.
Dinda sendiri mengaku sangat menikmati kegiatan-kegiatan di SRMP 12 Pati. Dia merasa menjadi pribadi yang lebih produktif.
“Senang karena di sini banyak teman dan banyak kegiatan. Biar nggak tidur-tidur terus. Makanannya juga enak-enak di sini. Kateringnya kadang nasi goreng, ayam, nasi kuning, nasi uduk. Malah lebih enak daripada di rumah,” kata Dinda berseloroh.
Atasi insekuritas dan pacu prestasi anak-anak “istimewa”
Sebelum menjabat sebagai Kepala SRMP 12 Pati, Wulan Fitriyani adalah guru di salah satu SMP Negeri favorit di Pati. Berdasarkan pengalaman terdahulunya, dia menemukan tantangan berbeda saat menakhodai SR.
Para siswa datang dengan latar belakang kognisi bervariasi, bahkan ada sebagian yang belum bisa membaca dan menulis dengan lancar. Selain itu, berhubung SR merupakan program rintisan, banyak yang pada mulanya datang dengan “paksaan”.
Bagi para siswa, awal mula kehidupan asrama adalah sebuah kejutan budaya yang berat. Wulan mengisahkan bagaimana anak-anak mengalami “fase tantrum” akibat kerinduan pada rumah. Polah tingkah mereka pada mulanya sempat menguji kesabaran para pengajar.
Namun, di bawah asuhan Wulan bersama para tenaga pendidik dan wali asuh, SRMP 12 Pati tidak menerapkan kurikulum yang kaku. Sadar bahwa mereka telah kalah start sekitar tiga setengah bulan dibanding sekolah reguler akibat adanya masa matrikulasi, sekolah ini menerapkan kurikulum multi-entry multi-exit. "Di matrikulasi ini kami betul-betul membuat anak nyaman di asrama, mendisiplinkan mereka, membuat karakter mereka, dan membuat mereka paham," jelas Wulan.
Strategi untuk meredam tantrum dan mendongkrak kemampuan siswa adalah dengan membuat mereka “sibuk”. Sekolah menyediakan beragam pilihan kegiatan ekstrakurikuler. Setiap sore, anak-anak disibukkan dengan berbagai aktivitas positif. Bagi anak yang memiliki kemampuan kognisi di bawah rata-rata, guru memberikan pendampingan khusus, seperti membacakan ulang materi kelas secara perlahan, terutama bagi anak-anak yang memiliki tipe belajar auditori.
Perlahan tapi pasti, dinding-dinding keraguan itu runtuh. Berbulan-bulan digembleng, progres luar biasa pun terlihat. "Sekarang bisa saya katakan 100 persen anak sudah bisa membaca," ujar Wulan penuh syukur. Tak hanya melek huruf latin, anak-anak juga diajarkan melek huruf hijaiyah melalui tes penempatan mengaji, bahkan beberapa di antaranya kini sudah menjadi tahfiz yang hafal 1 hingga 2 juz Al-Qur'an. Kebetulan seluruh siswa SRMP 12 Pati beragama Islam.
Anak-anak yang dulunya mengalami insekuritas dan kehilangan motivasi bahkan kini berani menepuk dada di panggung prestasi. Prestasi akademik dan nonakademik mulai mengalir. Lima anak dari SRMP 12 Pati berhasil menggondol medali di Kejuaraan Karate tingkat Jawa Tengah di Demak. Di ajang Popda, seorang siswa yang dulunya kerap tantrum, berhasil menduduki peringkat keempat dalam cabang olahraga lari.
Tak hanya olahraga, dalam bidang seni, anak-anak didik Wulan juga sudah berani tampil unjuk gigi di depan umum. Mereka sukses menampilkan tim hadroh saat kunjungan Menteri Sosial, serta tim paduan suara dan tim tari di Pendopo Kabupaten.
Bagi Wulan, melihat anak-anak yang dulunya bimbang kini berani tampil di depan publik adalah piala yang sesungguhnya. "Itu suatu prestasi bagi anak-anak kami, mampu mengalahkan insecure-nya mereka," tandas dia.
Melek teknologi
Ketika ditanya apa mata pelajaran favorit mereka, Toto dan Dinda kompak menjawab, “KKA (Koding dan Kecerdasan Artifisial).” Alasannya, menurut mereka karena mudah dan menyenangkan.
Menurut guru KKA SRMP 12 Pati, Naftalina Ulik Adhelia, bagi sebagian orang, mata pelajaran yang dia ampu mungkin terdengar rumit untuk diajarkan pada anak-anak underprivileged. Namun, lewat pendekatan kreatif, materi sulit itu berubah menjadi menyenangkan.
"Kami menekankan berpikir komputasi agar anak bisa menyelesaikan masalah lewat tahapan logis. Kami ajarkan menyusun blok kode sambil bermain game. Anak-anak yang tadinya kesulitan, sekarang sudah bisa membuat animasi sendiri. Bahkan saat ditanya, mimpi mereka kini ingin menjadi programmer dan desainer game," ungkap dia.
Hadiah yang melebihi ekspektasi
Saat berdialog dengan wali dan siswa di SRMP 12 Pati, Jumat (15/5/2026), Menteri Sosial Saifullah Yusuf menyebut SR sebagai hadiah atau persembahan untuk keluarga-keluarga yang paling tidak mampu.
Apalagi, Pati akan memiliki Gedung SR permanen di Tlogowungu yang saat ini masih dalam tahap pembangunan. Saat ini, progresnya disebut telah mencapai 85 persen. Setelah gedung itu siap beroperasi, anak-anak dan tenaga pendidik akan hijrah dari Sentra Margo Laras, tempat mereka masih “menumpang” saat ini.
Pria yang akrab disapa Gus Ipul tersebut menjelaskan bahwa Gedung SR Pati nantinya mampu menampung seribu siswa dari jenjang SD, SMP, dan SMA. Fasilitas yang disediakan pun tergolong lengkap, mulai dari asrama bagi siswa dan guru, laboratorium, hingga sarana olahraga.
“Ini adalah persembahan Bapak Presiden Prabowo untuk keluarga-keluarga paling tidak mampu, keluarga yang secara sosial-ekonomi berada di desil 1,” ucap dia.
Sebagai sebuah “hadiah”, SR dinilai oleh Plt Bupati Pati Risma Ardhi Chandra telah melampaui ekspektasinya. Bahkan, menurutnya tidak berlebihan jika SR disebut sebagai “Kampus Rakyat”. Sebab, menurutnya fasilitas pendidikan yang disediakan tak kalah dari perguruan tinggi.
“Rata-rata SMP di Pati, kalau dihitung (biaya pembangunannya) tidak sampai Rp 10 miliar. Sedangkan Gedung SR ini Rp 200 miliar. Luar biasa. Fasilitas komplit. Makan teratur, gizi dan kesehatan diperhatikan. Tidur nyaman, kamar mandi bersih. Ini melebihi ekspektasi saya,” kata dia dalam acara Open House 1 Tahun SRMP 12 Pati di Sentra Margo Laras, Jumat (19/6/2026).
Chandra bahkan membandingkan SR dengan sekolah asrama tersohor, Taruna Nusantara (TN). Menurutnya, SR adalah hadiah luar biasa dari pemerintah karena memberikan kesempatan pada anak-anak kurang mampu untuk merasakan kualitas pendidikan yang tak kalah dari TN, yang notabene dikenal sebagai sekolah kalangan “kelas atas”.
Putus rantai kemiskinan struktural
Rektor Universitas Ivet (Unisvet) Semarang, Dr. Luluk Elyana, M.Si., menilai inisiatif SR sebagai sebuah lompatan paradigma, dari pendekatan karikatif yang sekadar berfokus pada bantuan sosial langsung, menuju pemberdayaan sumber daya manusia jangka panjang.
“Kemiskinan struktural sering kali diwariskan bukan hanya karena ketiadaan biaya, melainkan karena ketiadaan lingkungan yang mendukung pengembangan mindset, karakter, dan resiliensi,” ucap pakar pendidikan usia dini ini, Rabu (24/6/2026).
Menurut Luluk, melalui model sekolah berasrama dan kehadiran wali asuh, intervensi negara tidak berhenti di gerbang sekolah. Anak-anak ditarik dari lingkungan yang rentan menuju ekosistem yang dirancang untuk membangun mentalitas pantang menyerah.
“Di sinilah pendekatan pembelajaran yang mindful sangat krusial agar anak-anak ini dapat meregulasi emosi dan fokus pada pembelajaran yang bermakna,” jelas dia.
Sebagai praktisi pendidikan, Luluk memiliki harapan jangka panjang terhadap SR yang melampaui metrik kelulusan atau penyerapan tenaga kerja. Harapan terbesarnya adalah melihat program ini berevolusi menjadi purwarupa ekosistem pendidikan yang secara sosiologis dan pedagogis mampu memutus rantai kemiskinan dari akarnya.
Kan kugantikan tugasmu ayah
Suatu hari, saat duduk di boncengan sepeda motor, Toto bertanya pada ibunya, “Bu, apakah saya boleh bercita-cita jadi TNI?”
Juriyah, ibunda Toto, tidak langsung menimpali. Hatinya berdebar, pikirannya dibebani rasa takut. Sebagai seorang janda tak berpunya, ia takut tak bisa mengantarkan putra bungsunya itu mewujudkan mimpi.
“Tapi Toto bilang, ‘Kata wali asuh di SR, kalau aku berprestasi bisa jadi TNI.’ Jadi saya mendukung saja,” ucap Juriyah.
Ketika ditanya apa alasannya ingin jadi TNI, Toto menjawab, dia ingin membanggakan dan melindungi sang ibu. Menggantikan peran mendiang ayahnya sebagai penopang keluarga.
Sementara, lantunan lagu “Ayah Ibu” dari Karnamereka masih terdengar memenuhi ruangan: "Suatu saat nanti kan kugantikan tugasmu Ayah. Doakan aku Ibu, restumu sertai langkahku. Ayah dengarkanlah bahagia pasti datang percayalah. Ibu engkau kuatkan aku.” (mzk)
Baca juga: Gangster WKWK vs Pati All Star Gagal Tawuran, 7 Remaja Diamankan Polresta Pati