Pelatih tim nasional Ghana, Carlos Queiroz, melontarkan kritik tajam terhadap standar kepemimpinan wasit di Piala Dunia 2026, dengan menyindir bahwa para ofisial VAR seolah sedang 'ngopi' ketika terjadi momen kontroversial dalam hasil imbang 0-0 timnya melawan Inggris. Pelatih berpengalaman itu terlihat sangat marah setelah tim berjuluk Black Stars tidak mendapat hadiah penalti yang ia anggap sebagai 'penalti dan kartu merah yang jelas' dalam laga di Foxborough tersebut.
Kekecewaan memuncak setelah pertahanan Ghana tampil luar biasa dalam pertandingan bersejarah itu. Pelatih berusia 73 tahun tersebut tidak menahan diri dalam evaluasi pasca pertandingan usai melihat anak asuhnya berjuang keras menahan imbang The Three Lions tanpa gol. Meski Inggris menguasai bola hingga 79 persen — catatan tertinggi bagi tim yang gagal mencetak gol dalam pertandingan Piala Dunia selama 60 tahun terakhir — Queiroz meyakini hasil akhir dipengaruhi oleh kesalahan besar dari wasit. Kontroversi utama terjadi saat Ezri Konsa melakukan tekel keras terhadap pemain pengganti Prince Adu di menit-menit akhir, namun insiden itu dibiarkan tanpa hukuman.
Queiroz menuding Inggris 'sangat beruntung' dan mengkritik VAR. Dalam konferensi pers, pelatih asal Portugal itu dengan nada kesal berkata: "Saya tidak yakin VAR masih berfungsi di Piala Dunia. Apakah kita masih punya VAR? Masih bekerja? Saya ragu, karena penalti lain yang seharusnya diberikan kepada Ghana, penalti yang jelas melawan Inggris, tidak diberikan."
Ia melanjutkan: "Kami punya peluang, dan mereka beruntung. Mereka sangat beruntung. Sekali lagi, VAR tampaknya pergi ngopi. Itu hal yang wajar, saya juga kadang ingin ngopi, tapi itu penalti yang jelas, kartu merah. Kalian ragu soal itu? Kalian yang menonton pertandingan, apakah ragu atau hanya saya yang melihat hal itu di lapangan?"
"Maaf atas nada sarkasme saya, tetapi jika saya mengatakan hal seperti ini dengan serius, saya bisa dihukum. Jadi saya harap kalian paham bahwa saya sedang bercanda," tambahnya dengan nada sinis.
Ketegangan di pinggir lapangan juga terjadi antara Queiroz dan bintang Inggris, Jude Bellingham. Insiden itu berlangsung saat jeda babak pertama setelah gelandang Real Madrid tersebut melakukan tekel keras terhadap Jerome Opoku, yang membuat bangku cadangan Ghana bereaksi keras.
Queiroz menjelaskan insiden itu dengan berkata: "Niat saya hanya ingin memintanya untuk tenang setelah tekel tersebut. Itu bisa menjadi kartu kuning kedua dengan jelas, karena dia mengangkat kaki ke arah pemain kami. Saya khawatir karena pemain saya tidak dalam kondisi 100 persen sehat. Dia bereaksi dengan kata-kata kasar, dan dari situlah semuanya bermula." Sementara itu, Bellingham menanggapi insiden tersebut sebagai "hanya bagian dari semangat kompetitif," meski Queiroz menambahkan bahwa sang gelandang menggunakan "kata yang tidak ada dalam buku kehidupan."
Hasil imbang tersebut membuat kedua tim masih harus bekerja keras di pertandingan terakhir fase grup, meski keduanya berada dalam posisi yang baik untuk lolos ke babak 32 besar. Inggris, yang sebelumnya menang 4-2 atas Kroasia, tetap memuncaki klasemen dengan empat poin. Ghana juga mengoleksi empat poin setelah kemenangan tipis atas Panama, dengan selisih gol menjadi pembeda menjelang laga terakhir yang sangat menentukan.
Inggris akan berusaha mengamankan tiket ke babak berikutnya saat menghadapi Panama di East Rutherford pada hari Sabtu, sementara Ghana akan bertemu Kroasia di Philadelphia. Meski sempat melontarkan sindiran soal VAR, Queiroz tetap optimistis terhadap semangat juang timnya. Ia menutup wawancara dengan mengatakan: "Mereka lebih lama menguasai bola, kami lebih banyak berjuang, kami bertarung lebih keras, kami menciptakan peluang kami sendiri, mereka juga punya peluang di akhir. Saya pikir mereka puas, dan saya juga puas dengan hasil imbang ini."