Rumah Beratap Terpal di OKU Timur Jadi Sorotan, 'Kalau Hujan dan Angin Datang, Saya Selalu Waswas'
Welly Hadinata June 25, 2026 12:27 PM

SRIPOKU.COM, MARTAPURA – Di tengah berbagai program pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, masih ditemukan warga yang tinggal di rumah dengan kondisi memprihatinkan.

Salah satunya dialami Nario, warga Dusun 4 Desa Argomulyo, Kecamatan Belitang Jaya, Kabupaten OKU Timur, Sumatera Selatan.

Rumah yang ditemati Nario bersama keluarganya masih berdinding papan dan mengalami kerusakan di sejumlah bagian.

Kondisi paling memprihatinkan terlihat pada bagian atap yang sebagian besar masih menggunakan terpal sebagai pelindung dari panas dan hujan.

Saat cuaca buruk melanda, terutama ketika hujan deras disertai angin kencang, Nario dan keluarganya harus menghadapi rasa khawatir karena kondisi rumah yang dinilai tidak lagi aman untuk dihuni.

Sebagai buruh harian, Nario mengaku belum memiliki kemampuan ekonomi untuk memperbaiki rumahnya secara mandiri. Penghasilan yang diperoleh hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

"Kalau hujan dan angin datang, saya selalu waswas. Takut atap terbang atau rumah rusak lebih parah. Saya ingin memperbaiki rumah ini menggunakan bata dan semen supaya lebih aman, tetapi sampai sekarang belum ada biaya. Saya hanya bekerja sebagai buruh harian, sedangkan istri saya buruh tani dengan penghasilan yang tidak menentu," ujar Nario, Kamis (25/6/2026).

Meski hidup dalam keterbatasan, Nario tetap berharap suatu saat keluarganya dapat merasakan tinggal di rumah yang lebih layak dan aman.

"Saya berharap ada perhatian dari pemerintah. Kalau memang ada program bantuan bedah rumah atau rumah layak huni, mudah-mudahan keluarga kami bisa mendapatkan kesempatan itu," katanya.

Kondisi rumah tersebut juga menjadi perhatian warga sekitar. Salah seorang tetangga, Slamet atau yang akrab disapa Mamok, mengaku prihatin melihat kondisi tempat tinggal Nario yang dinilainya jauh dari standar hunian layak.

Menurut Mamok, kondisi rumah tersebut sudah berlangsung cukup lama dan hingga kini belum mendapatkan bantuan perbaikan.

"Rumah Pak Nario memang sangat memprihatinkan. Kami sebagai tetangga ikut merasa sedih melihat kondisinya. Saat hujan turun dan angin kencang, kami juga khawatir karena rumah itu masih banyak menggunakan papan dan sebagian atapnya terpal. Harapan kami semoga bisa kembali didata dan mendapatkan bantuan dari pemerintah," ungkapnya.

Sementara itu, Pemerintah Desa Argomulyo mengaku telah berupaya mengusulkan warga yang membutuhkan bantuan rumah layak huni melalui mekanisme yang berlaku.

Kepala Seksi Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Desa Argomulyo, Mulyono, mengatakan pendataan terhadap warga yang membutuhkan bantuan perbaikan rumah telah dilakukan beberapa waktu lalu, termasuk terhadap warga dengan kondisi rumah yang memerlukan perhatian khusus.

Menurutnya, pemerintah desa akan terus melakukan pemantauan dan pendataan sebagai bahan usulan apabila program bantuan rumah layak huni kembali dibuka.

"Dulu sudah pernah dilakukan pendataan dan pengajuan untuk warga yang membutuhkan bantuan rumah layak huni. Namun sampai saat ini kami belum menerima informasi lanjutan ataupun realisasi dari pihak terkait. Kami berharap program seperti BSPS atau bantuan bedah rumah dapat kembali dibuka sehingga warga yang benar-benar membutuhkan bisa terbantu," jelas Mulyono.

Kondisi yang dialami Nario menjadi gambaran bahwa persoalan rumah tidak layak huni masih menjadi tantangan yang memerlukan perhatian bersama agar masyarakat dapat tinggal di lingkungan yang aman, sehat, dan layak. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.