Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Taniya Sembiring
TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Kota Jayapura, Provinsi Papua kembali menegaskan komitmennya dalam menjaga warisan budaya masyarakat adat Port Numbay.
Salah satu caranya dengan menggelar kegiatan Penyusunan dan Penulisan Buku Cerita Rakyat Port Numbay Jilid III Tahun 2026.
Acara ini menjadi langkah nyata dalam melestarikan bahasa dan sastra lisan yang semakin terancam punah.
Baca juga: Afrika Selatan Susul Meksiko Melaju ke Babak Gugur, Nasib Korea Selatan Kini di Ujung Tanduk
Asisten I Sekretariat Daerah Kota Jayapura, Evert Nicolas Meraudje, saat membuka kegiatan menekankan bahwa cerita rakyat bukan sekadar kisah turun-temurun, melainkan warisan budaya yang sarat dengan nilai luhur, kearifan lokal, serta identitas masyarakat Port Numbay.
“Melalui buku ini kita membangun jembatan yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan,” ujarnya saat memberikan sambutan di Jayapura Kamis (25/6/2026).
Pemerintah Kota Jayapura menilai penyusunan buku ini penting untuk mengabadikan cerita-cerita yang selama ini diwariskan secara lisan menjadi karya tulis yang dapat dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Baca juga: Jadwal Kapal Pelni Kumai-Surabaya Juli 2026, Ada KM Lawit dan KM Awu
Lebih dari itu, generasi muda juga diajak terlibat aktif sebagai ilustrator, penerjemah, hingga pengisi audio agar karya yang dihasilkan lebih menarik dan mudah dipahami lintas kalangan.
Ketua Panitia sekaligus Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Jayapura, Grace Linda Yoku, mengungkapkan kondisi bahasa Port Numbay di sepuluh kampung adat semakin memprihatinkan.
Jumlah penutur terus berkurang, sehingga dokumentasi melalui penulisan cerita rakyat menjadi salah satu langkah strategis untuk menyelamatkan bahasa daerah dari kepunahan.
Baca juga: 3 Drum Miras Dimusnahkan, Bupati Puncak Jaya Beri Sanksi Tegas Buat Produsen: Jaga Kamtibmas!
“Kami ingin cerita-cerita rakyat yang hidup di seluruh kampung adat dapat terdokumentasi dengan baik sehingga tetap dikenal dan diwariskan dari generasi ke generasi,” jelasnya.
Tahun ini, kegiatan menargetkan penyusunan 30 cerita rakyat baru serta 10 puisi yang ditulis dalam dua bahasa, yakni Bahasa Port Numbay dan Bahasa Indonesia.
Dengan demikian, selain menjaga kelestarian bahasa daerah, karya ini juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran bagi pelajar, pendidik, peneliti, maupun masyarakat luas.
Pemerintah Kota Jayapura menegaskan akan terus mendukung berbagai upaya pelestarian bahasa dan budaya daerah.
Buku cerita rakyat ini diharapkan menjadi media yang menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas budaya Port Numbay sekaligus memperkuat jati diri masyarakat adat di tengah arus modernisasi.
Baca juga: Warga Jayapura Temukan Mortir Aktif Sisa Perang Dunia II, Dipastikan Masih Aktif
Kegiatan ini bukan hanya sekadar dokumentasi, tetapi juga sebuah gerakan budaya yang menegaskan bahwa masa depan bahasa dan tradisi ada di tangan generasi muda.
Dengan keterlibatan aktif masyarakat, terutama di kampung-kampung adat, pelestarian bahasa Port Numbay diyakini akan tetap hidup dan berkembang, menjadi bagian tak terpisahkan dari kekayaan budaya Kota.(*)