Tangkal Dampak Digital, Pemda DIY Optimalkan Danais untuk Benteng Karakter Anak
Hari Susmayanti June 25, 2026 06:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tengah menghadapi tantangan sosial beruntun yang kian mengkhawatirkan.

Fenomena anak-anak yang turun ke jalanan pada dini hari melakukan tindakan kriminal, maraknya pernikahan dini, rapuhnya ketahanan keluarga akibat absennya peran ayah (fatherless), hingga penetrasi ruang digital yang membawa risiko paparan ekstremisme dan radikalisme kini menjadi alarm keras bagi ketahanan wilayah.

Kondisi tersebut mengemuka dalam diskusi Rembag Kaistimewan bertajuk "Keluarga Berdaya, Keistimewaan Terjaga" yang digelar di Yogyakarta pada Kamis (25/6/2026).

Diskusi ini membedah bagaimana perubahan zaman, gawai, dan keretakan komunikasi internal keluarga secara perlahan mendegradasi moralitas generasi muda di wilayah keistimewaan tersebut.

Berdasarkan data penanganan kasus sosial di DIY, tren penyimpangan perilaku remaja dan kekerasan domestik masih terus ditemukan secara berulang setiap tahunnya.

Unit terkecil masyarakat, yakni keluarga, dinilai mulai kehilangan daya tangkal dan resiliensinya dalam membentengi anggota keluarga dari pengaruh eksternal yang destruktif.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (DP3AP2) DIY, Erlina Hidayati Sumardi, mengungkapkan bahwa manifestasi dari lemahnya pembenahan di tingkat keluarga ini telah meluas ke ruang publik, mulai dari kriminalitas jalanan oleh anak di bawah umur hingga keterpaparan pada ideologi ekstrem.

"Kalau melihat dari kasus-kasus yang kami tangani, kok ya ternyata masih banyak masalah. Kemudian juga yang sering muncul di media ya, ada anak-anak yang ternyata perilakunya menyimpang di jalanan, masih ada di jalanan ketika tengah malam, dini hari, bahkan melakukan tindakan kriminal. Masih ada anak-anak yang terpapar dengan radikalisme, terorisme, kekerasan ekstrem, yang selain membahayakan dirinya juga bisa membahayakan orang lain, begitu ya. Ada anak-anak yang melakukan pernikahan dini. Ya, segala macam permasalahan gitu, dan itu masih kita hadapi, setiap tahun masih ada. Iya," kata Erlina.

Erlina menambahkan bahwa dalam tiga tahun terakhir, DP3AP2 DIY secara khusus menggeser fokus program intervensinya kepada kelompok laki-laki dan para ayah.

Langkah strategis ini diambil menyusul temuan mendalam mengenai tingginya angka pengasuhan yang timpang (fatherless) serta tidak tuntasnya konflik psikologis di kalangan pria dewasa yang berujung pada Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).

"Dan kemudian juga kami 3 tahun terakhir ini, kami fokus pada laki-laki, karena sebagian sangat besar pelaku kekerasan adalah laki-laki. Yang kedua adalah pengasuhan anak itu banyak yang fatherless. Artinya tidak berperannya ayah atau bapak di dalam pengasuhan anak, dipasrahke ke ibunya. Iya, pendidikan maupun pengasuhannya. Dan kemudian juga konflik-konflik KDRT-KDRT ini, itu juga ternyata ada banyak masalah yang setelah kami gali ya dari para pelaku itu, banyak masalah di dalam diri laki-laki itu yang tidak terselesaikan. Sehingga kemudian keluar dalam bentuk perilaku kekerasan, baik terhadap istri maupun terhadap anak. Ini harus dibenahi,"katanya.

" Membenahi dari mulai awal pengasuhan, sehingga terhadap anak laki-laki dan anak perempuan itu kemudian mendapatkan pengasuhan yang seimbang. Bahwa laki-laki itu tidak harus kemudian karena supaya tangguh dan sebagainya enggak boleh mengeluh, enggak boleh menangis, enggak boleh gimana gitu. Itu adalah haknya anak-anak ketika mengalami sesuatu, itu meluapkan emosi psikologisnya, itu adalah normal. Baik anak laki-laki maupun perempuan. Sehingga ketika mereka dewasa, itu juga akan normal, apa psikologisnya gitu. Kalau kita terlalu menekan anak laki-laki, maka kemudian bisa meluapkannya itu dalam bentuk kekerasan. Bisa terhadap diri sendiri tapi juga bisa terhadap orang lain," lanjutnya.

Candu Algoritma Media Sosial dan Pintu Masuk Radikalisme

Di sisi lain, ancaman eksternal yang luput dari pengawasan orang tua kini masuk secara masif lewat gawai.

Ruang privat anak yang diisi oleh interaksi tanpa batas di dunia maya ditengarai menjadi medium doktrinasi baru yang berbahaya.

Anak-anak yang memiliki konflik di rumah cenderung mencari pelarian ke ekosistem digital.

Ketua Tim (Katim) Pencegahan Densus 88 Satgaswil Yogyakarta, Ipda Bagus, menegaskan bahwa fenomena kenakalan remaja dan kejahatan jalanan merupakan fase awal yang harus diintervensi sebelum berkembang menjadi tindakan terorisme. Ada pola adaptasi kekerasan, sikap fanatik, serta pembentukan solidaritas kelompok eksklusif yang mengarah pada paham intoleransi.

Ipda Bagus menjelaskan bagaimana mekanisme algoritma media sosial dan game online berbasis kekerasan bekerja merusak pola pikir anak-anak secara terstruktur tanpa disadari oleh orang tua mereka.

"Kenakalan remaja ini kan media yang digunakan anak-anak ini kan ketika anak-anak punya masalah ini kan larinya ke media sosial dan game online. Di mana media sosial ini semakin kita mencari, itu kan akan menjadi FYP atau algoritma dari media sosial kan begitu. Misalnya kita mencari kekerasan, kan akan lama muncul-muncul, nah. Sehingga apa, anak-anak ini akan mindset-nya udah kekerasan terus gitu," papar Ipda Bagos.

Ia mengimbau agar setiap keluarga mampu membangun pola komunikasi dua arah yang terbuka untuk memitigasi anak-anak mencari validasi identitas di kelompok kriminal.

Baca juga: SPMB 2026: Pemkot Yogyakarta Tambah Kuota Jalur Afirmasi Disabilitas SMP Negeri

Orang tua dituntut peka dalam mendeteksi setiap perubahan perilaku sekecil apa pun pada anak.

"Peran keluarga ini sangat penting bahkan keluarga ini bisa dikatakan sangat menentukan. Karena apa? karena ketika keluarga atau orang tua ini melakukan pengawasan terhadap pergaulan anak, aktivitas anak, anak ini eh bisa dapat mencegah kemudian menanamkan nilai-nilai kebangsaan, moral, agama, kecintaan tanah air. Kemudian keluarga juga membangun komunikasi yang terbuka kepada anak. Anak ini pengin didengar, pengin diperhatikan. Nah, ketika orang tua ini membangun komunikasi yang terbuka dengan anak, ketika anak ini punya masalah ini pasti akan cerita ke anak sehingga akan mendapatkan solusi dari orang tua,"ucapnya.

" Beda halnya ketika orang tua ini tidak membangun komunikasi dengan anak. Anak bermasalah pasti akan mencari pelarian. Pelarian eh mencari jati diri kemudian akhirnya apa, lari ke tadi ke kelompok-kelompok kriminal. Hmmm. Dan saya harap juga keluarga ini juga akan nantinya ke depannya akan eh apa namanya, bisa mendeteksi. Mendeteksi perubahan-perubahan pada anak. Misalkan contohnya anak pulang dari bermain atau pulang dari sekolah anak ini tiba-tiba mudah marah, tertutup, nah saya harapkan orang tua tadi bisa mendeteksi sehingga bisa mencari tahu permasalahan anak apa, sehingga orang tua bisa memberikan solusi sehingga si anak ini tidak mencari pelarian sehingga nanti yang ditakutkan lari ke pergaulan," urai Ipda Bagus.

Menyikapi desakan modernitas dan ancaman digital tersebut, Pemerintah Provinsi DIY menekankan pentingnya optimalisasi instrumen regulasi lokal.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan DIY, kewenangan kebudayaan diamanatkan untuk memelihara nilai, adat istiadat, dan tradisi luhur yang mengakar di masyarakat.

Sekretaris Paniradya Kaistimewan, Ariyanti Luhur Tri Setyarini, menggarisbawahi bahwa penanaman budi pekerti tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada lembaga sekolah formal.

Ranah domestik harus dikembalikan fungsinya sebagai peletak batu pertama pembangunan moral lewat daur hidup kebudayaan Jawa (mitoni, tedak siten hingga prosesi pranikah).

"Kewenangan kebudayaan diselenggarakan untuk memelihara dan mengembangkan hasil cipta, rasa, karsa, dan karya yang berupa nilai-nilai, pengetahuan, norma, adat istiadat, benda seni, dan tradisi luhur yang mengakar dalam masyarakat di Daerah Istimewa Yogyakarta. Nah, nilai-nilai itu pertama kali diajarkan itu pastinya di keluarga. Bukan kemudian anak lahir langsung sekolah, tidak. Tapi pasti semua nilai-nilai itu diajarkannya di dalam keluarga," ucapnya.

" Nah, pusat budaya kita yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta, Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat sendiri kan juga mempunyai beragam tradisi yang itu berkaitan erat dengan bagaimana kita itu meningkatkan kualitas keluarga. Misalnya sejak sebelum menikah ada prosesi misalnya siraman. Kemudian pada saat menikah sendiri penuh dengan doa dan makna. Nanti setelah menikah dan menjadi keluarga, ketika kemudian kita secara resmi dan kemudian anggarbini, itu juga ada proses mitoni. Jadi prosesnya tidak hanya kemudian ketika sudah memutuskan, bahkan sebelum menjadi keluarga itu sudah dimulai dengan harapan-harapan yang baik,"urainya.

" Mitoni, lahir tingkepan, brokohan kemudian nanti setelah lahir tedak siten, kemudian sunatan tetesan, kemudian balik lagi nanti daur hidup menikah lagi, mitoni seperti itu. Nah, itu adalah adat tradisi yang kemudian mampu meningkatkan kualitas kehidupan kita secara bukan raga atau itu tidak, tapi secara moral spiritual kita kemudian menjadi mempunyai value yang lebih karena kita isi dengan doa, kita isi dengan harapan. Itu mulainya semua nilai-nilai itu dari keluarga. Diajarkannya dari keluarga. Budi pekerti, bagaimana orang tua mencontohkan perbuatan yang baik, memberikan suri teladan, itu semuanya awalnya adalah dari keluarga," tutur Ariyanti.

Ariyanti menambahkan, kurikulum khusus seperti Pendidikan Khas Jogja tidak akan berjalan efektif tanpa adanya sinkronisasi dan komitmen di dalam rumah tangga.

Oleh sebab itu, alokasi Dana Keistimewaan (Danais) dikerahkan untuk memperkuat simpul-simpul pemberdayaan keluarga di tingkat bawah.

"Iya, apalagi di di era kalau yang bilang kekinian gitu, kemudian ada judi online, ada internet apa yang media sosial, hoaks. Itu kebutuhan akan peran keluarga itu sangat penting. Itu kemudian nilai-nilai itu harus terus dimasukkan, nah itu melaluinya adalah dengan dari keluarga

Sekolah itu misalnya sekarang ada pendidikan khas Jogja, pun tidak bisa hanya dari sekolah yang memberikan pendidikan itu kepada anak. Pendidikan khas Jogja pun kita titipkan kepada keluarga. Jadi dana istimewa supaya lebih murakabi, migunani, mrantasi, maka ya itu peran keluarga dioptimalkan, seperti itu," tambahnya.


Sebagai langkah konkret jangka panjang, Ngarsa Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X menginstruksikan seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemda DIY untuk melakukan kerja kolaboratif terintegrasi.

Kebijakan penanganan ketahanan keluarga ditarik ke tingkat kalurahan (desa) sebagai basis operasional keistimewaan.

Kolaborasi lintas sektor ini diwujudkan secara nyata melalui integrasi berbagai program ekonomi dan sosial di tingkat daerah.

Upaya tersebut di antaranya dimotori oleh DP3AP2 DIY yang berfokus mengembangkan kelompok ekonomi produktif perempuan melalui program Desa Prima untuk mendongkrak daya tawar ekonomi ibu rumah tangga, sekaligus memberikan edukasi pengasuhan anak yang setara jender.

Penguatan sektor domestik ini disokong pula oleh Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan yang menggulirkan program Lumbung Mataraman berbasis pemenuhan pangan keluarga.

Sementara di sektor hulu, Kementerian Agama bersama lembaga konsultasi memperketat edukasi pranikah komprehensif, termasuk melalui program Generasi Berencana (GenRe) dan Forum Anak Daerah, guna memfasilitasi penyembuhan luka psikologis masa kecil (trauma healing) calon pasangan sebelum membangun bahtera rumah tangga baru.

Seluruh ekosistem perlindungan ini dilengkapi oleh Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) DIY yang menyediakan layanan asesmen psikologis gratis, baik secara tatap muka (offline) maupun via platform digital, demi mendeteksi secara dini potensi konflik rumah tangga yang tersembunyi.

Di tingkat akar rumput, program penguatan budaya berbasis masyarakat ini mulai memperlihatkan dampak nyata.

Ketua Desa Prima Kartini Kalurahan Wedomartani, Hastuti Setyaningrum, memaparkan bagaimana pemanfaatan fasilitas sarana kebudayaan dari sokongan Danais mampu menyediakan ruang aktivitas komunal positif bagi anak-anak remaja agar terhindar dari pergaulan jalanan negatif.

"Sejauh ini Danais sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Cuma jadi kita apa memberikan kesempatan pada masyarakat untuk memahami, melestarikan, kemudian bisa mengembangkan budaya yang ada di sekitarnya melalui beberapa kegiatan. Seperti misalnya ada pelatihan, ada edukasi, ada penguatan budaya berbasis masyarakat yang diadakan oleh kelurahan. Begitu sangat berperan penting dalam membantu masyarakat apa ya, menciptakan satu untuk ketahanan, menguatkan ketahanan dalam keluarga. Contoh yang gampang kalau di tempat kami itu kalau ada gamelan dari Danais ya, itu dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar untuk latihan karawitan. Kami ada balai budaya, nah itu dimanfaatkan untuk latihan tari, seperti itu. Jadi banyak sekali program-program dari Danais yang kita rasakan manfaatnya secara langsung oleh masyarakat," pungkas Hastuti. (*)
 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.