SERAMBINEWS.COM - Nama Fathimah Azzahra belakangan ini terus bertengger di lini masa media sosial. Wakil Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) ini mendadak jadi sorotan publik setelah tampil lantang dan tanpa tedeng aling-aling melayangkan kritik terhadap berbagai kebijakan pemerintah di sejumlah forum nasional dan program televisi.
Keberanian mahasiswa Fakultas Kedokteran UI angkatan 2023 ini dalam menyuarakan pandangan yang berbeda secara terbuka bahkan kerap ditujukan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto membuatnya cepat dikenal luas. Di mata generasi muda, cara penyampaian Fathimah yang lugas dan percaya diri dinilai sebagai representasi nyata dari suara mahasiswa hari ini.
Potongan-potongan video argumentasinya saat berdebat langsung viral dan memicu diskusi hangat di berbagai platform. Imbasnya, akun Instagram pribadi Fathimah (@fathimahzzhr) langsung diserbu netizen hingga menembus lebih dari 123 ribu pengikut dalam waktu singkat. Dukungan mengalir deras dari sesama mahasiswa, aktivis, hingga figur publik.
"Semangat @fathimahzzhr kamu sangat menginspirasi," tulis warganet bernama Salsa di kolom komentar. Tak ketinggalan, influencer Jerome Polin juga ikut memberikan apresiasi singkat namun tegas, "SUPER KERENN," tulis Jerome Polin.
Baca juga: Dari Syair hingga Debus, Rapai Raja Siwah Pukau Penonton Festival Canang Ceureukeuh 2026
Dalam salah satu tayangan televisi, Fathimah secara blak-blakan mengurai poin-poin kritiknya terhadap gaya kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto yang kini berjalan menuju tahun kedua. Ia mengaku menaruh ekspektasi besar di awal, mengingat perjuangan panjang Prabowo dalam kontestasi politik sebelum akhirnya terpilih.
"Ada satu keanehan dari Pak Prabowo karena dalam bayangan kita setelah Pak Prabowo ini sudah berkali-kali mencalonkan diri, kita punya ekspektasi pak Prabowo ini akan sangat respect kepada rakyat yang sudah berkali-kali dia janjikan," ungkap Fathimah Azzahra.
"Tapi yang kita lihat adalah dalam statementnya pak Prabowo seringkali membuat rakyat sakit hati. 58 persen orang memilih pak Prabowo, tapi pak Prabowo ketika menghadapi kritik, di podium dijadikan bahan untuk mengekspresikan hal-hal yang seperti bercandaan, seperti tidak respect, dan mengenyampingkan orang-orang yang menyampaikan kritik, dibilang antek-antek asing," sambungnya.
Selain masalah retorika di podium, Fathimah juga menyoroti pengamanan demonstrasi mahasiswa yang melibatkan personel TNI. Baginya, keterlibatan aktif TNI dalam menghadapi aksi massa di lapangan memicu alarm kewaspadaan tersendiri.
"Dikatakan oh Pak Prabowo terbuka terhadap kritik, tapi ketika kita aksi, ada TNI yang turut untuk mengawal demonstrasi kita. Ini adalah suatu alarm bagi bangsa kita bahwa turunnya TNI untuk menghadapi demonstrasi ini pertama kali terjadi pasca reformasi dan terjadinya ketika Pak Prabowo menjadi presiden. Kita seperti dejavu menghadapi sejarah bangsa kita," ujar Fathimah.
Baca juga: Anggota DPR RI Irmawan Jenguk Korban Ledakan Kapal Aceh Hebat 2 di RSUDZA Banda Aceh
Dalam kesempatan lain di program TV One News, Fathimah kembali menekankan bahwa rakyat tidak butuh klaim angka-angka statistik di ruang rapat ketika kondisi di lapangan masih mencekik. Generasi muda, menurutnya, mendambakan pemerintah yang cerdas dan visioner dalam membangun sistem.
"Saya ingin menyampaikan bahwa ketika rakyat mengalami kesusahan, ketika orang tahu mengalami anaknya tidak bisa sekolah, yang dia ingin dengar itu bukan kita sudah menghasilkan Rp100 triliun untuk pendidikan, kita sudah mendiskusikan ini di ruang rapat, bukan itu yang ingin rakyat dengar. Yang ingin rakyat dengar adalah anaknya bisa sekolah dan itu yang harus dilakukan pemerintah.
Menurut generasi kami, pemerintah seharusnya bukan sibuk untuk menuduh seseorang adalah antek-antek asing, bukan sibuk mengklarifikasi sana-sini atas isu-isu yang seharusnya bisa mereka cegah sehingga tidak menimbulkan kericuhan, pemerintah harusnya sibuk memikirkan bagaimana caranya supaya kamera yang digunakan untuk menyorot saya ini bukan kamera buatan Jepang, tapi buatan anak bangsa.
Bagaimana caranya anak bangsa bukan cuma menjadi konsumen tapi menjadi orang-orang yang menjadi orang-orang yang menghasilkan ide-ide kreatif. Perlu pemerintah yang solutif, pemerintah yang cerdas, dan pemerintah yang tidak menyalahkan orang tapi membuat sistem," tegas Fathimah.
Di balik posisinya yang kini viral dan panen pujian, jalan yang ditempuh Fathimah ternyata tidak mulus. Di awal tahun 2026, ia dan Ketua BEM UI, Yatalathof Ma’shum Imawan (Althof), sempat menghadapi ancaman keselamatan yang cukup mengerikan.
Teror pembunuhan dari sosok misterius tersebut menghampiri mereka tepat sehari setelah Pemilihan Raya (Pemira) UI selesai dilaksanakan pada 13 Januari 2026. Begitu dinyatakan terpilih sebagai pimpinan baru BEM UI, Fathimah langsung dihujani paket-paket mencurigakan.
Modusnya tergolong nekat, pelaku mengirimkan barang lewat sistem Cash on Delivery (COD) ke alamat Fathimah. Paket pertama berisi gunting dan kursi roda. Belum selesai rasa kagetnya, kiriman berikutnya datang berisi kain kafan, senjata tajam, hingga topeng horor dengan tagihan pembayaran mencapai Rp1,8 juta.
Tidak berhenti di teror fisik, pelaku juga mengobrak-abrik ruang privat Fathimah. Grup WhatsApp keluarga besar hingga lingkungan tempat tinggalnya disusupi. Ponsel orang tua Fathimah pun tak luput dari sasaran gempuran siber.
Fathimah mengungkapkan bahwa pelaku sengaja mengirimkan video berisi ancaman visual pembunuhan yang dimanipulasi menggunakan foto dirinya. Menghadapi situasi yang mengancam nyawa tersebut, Fathimah dan Althof akhirnya langsung mengambil langkah hukum dan melaporkan kasus tersebut ke pihak kepolisian. (*)
(Serambinews.com/TribunnewsBogor)