Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ahmad Syarifudin
TRIBUNSOLO.COM, SOLO – Sebanyak 13,59 ribu pengangguran masih tersebar di Kota Solo. Kondisi tersebut membuat berbagai program penyerapan tenaga kerja, termasuk job fair, menjadi magnet bagi para pencari kerja yang berharap segera mendapatkan pekerjaan dan penghasilan tetap.
Pemerintah Kota Solo melalui Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) terus berupaya menekan angka pengangguran dengan mempertemukan pencari kerja dan perusahaan melalui bursa kerja, pelatihan berbasis kompetensi hingga program penempatan tenaga kerja ke luar negeri.
Sekretaris Dinas Tenaga Kerja Kota Solo, Windi Satriawan, mengatakan salah satu tantangan yang dihadapi saat ini adalah banyaknya pencari kerja, terutama lulusan SMA, yang belum memiliki gambaran jelas mengenai bidang pekerjaan yang ingin ditekuni.
“Kondisi eksisting yang kita hadapi dengan pencari kerja rata-rata belum memahami job fair ini company profile masing-masing perusahaan mereka mau kemana. Sehingga dari teman-teman perusahaan mengedukasi pencari kerja tersebut. Terutama lulusan SMA masih bingung. Ini baru cari informasi,” ungkapnya, Kamis (25/6).
Menurut Windi, setiap tahun Kota Solo terus menghasilkan penduduk usia kerja baru. Jika tidak diimbangi dengan penyerapan tenaga kerja yang memadai, kondisi tersebut berpotensi menimbulkan persoalan sosial dan ekonomi.
“Tiap tahun memproduksi pengangguran mereka belum menentukan pilihan mau kuliah atau bekerja. Jangan sampai bonus demografi menjadi bencana demografi. Supaya nanti tingkat ketergantungan generasi muda berkurang sehingga tidak bergantung ke orang tuanya,” terangnya.
Data Agustus 2025 menunjukkan jumlah Penduduk Usia Kerja (PUK) di Kota Solo mencapai 426,69 ribu orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 301,59 ribu masuk kategori angkatan kerja, terdiri atas 288,01 ribu penduduk bekerja dan 13,59 ribu pengangguran.
Untuk mengurangi angka tersebut, Disnaker rutin menggelar job fair dan pelatihan kerja. Setiap penyelenggaraan job fair, sekitar 30 persen peserta berhasil terserap ke dunia kerja.
“Di job fair tujuannya mempertemukan antara pemberi kerja dan pencari kerja. Harapannya banyak terserap di situ. Selain itu kita juga melakukan pelatihan berbasis kompetensi ke arah penempatan kerja tidak hanya dalam negeri tapi juga luar negeri,” jelasnya.
Baca juga: Datang ke Job Fair Solo, Difabel Penjual Tisu Adu Nasib Demi Kejar Impian Umrohkan Orang Tua
Selain pelatihan kompetensi, pemerintah juga membuka pelatihan kewirausahaan serta program pelatihan bahasa Jepang bagi calon tenaga kerja yang akan ditempatkan di luar negeri.
“Selain pelatihan berbasis kompetensi, ada juga pelatihan kewirausahaan. Pastinya dia juga menggandeng pekerja lebih banyak. Kalau program yang sudah dijalankan untuk yang pelatihan luar negeri 40 yang kita latih belum selesai. Penguasaan bahasa ke N4 kemarin baru N5. Porsi APBD juga terbatas,” jelasnya.
Windi juga mengingatkan masyarakat agar tidak hanya bergantung pada peluang kerja di sektor pemerintahan yang jumlah formasinya terbatas.
“Memang harapan bekerja di sektor pemerintah masih tinggi. Namun ada keterbatasan formasi kebijakan moratorium,” tuturnya.
Career Expo yang digelar di Balai Kota Solo juga menjadi harapan baru bagi para pencari kerja difabel. Posisi customer service menjadi buruan para pencari kerja difabel.
Sutrisno Ciptadi (35), salah satunya. Mantan customer service yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) itu berharap bisa kembali bekerja di bidang yang sama.
“Paling ya sesuai pengalaman sebagai Customer Service. Udah di Customer Service di Jogja,” tuturnya.
Ia berharap proses rekrutmen bagi penyandang disabilitas dapat semakin terbuka.
“Semoga dipermudah rekrutmennya. Awalnya PHK Oktober 2025. Perusahaan mengurangi pegawai. Ini mau nyari kerja di Solo,” jelasnya.
Harapan serupa disampaikan Ika Widyasari (34). Lulusan D3 Manajemen itu berharap perusahaan dapat lebih memahami kemampuan dan kebutuhan pekerja difabel.
Baca juga: Pelaku Bisnis Hotel di Solo Keluhkan Fresh Graduate Sering Ghosting Usai Diterima Kerja
“Yang sesuai pengalaman tapi juga tidak menuntut cepat-cepat. Yang pengen didapat yang bisa menerima difabel yang bisa mengerti difabel kan kemampuannya sendiri-sendiri,” jelasnya.
Demi Mimpi Umrahkan Orang Tua
Di antara ratusan peserta Career Expo, Nur Hidayat (37) menjadi sosok yang menarik perhatian. Pria difabel yang sehari-hari berjualan tisu di pinggir jalan itu datang membawa harapan besar mendapatkan pekerjaan tetap.
“Kepengen umrohin orang tua. Insyaallah kalau bisa,” ungkapnya.
Selama ini Nur bertahan hidup dari hasil berjualan tisu dengan pendapatan yang tidak menentu.
“Selama itu jualan tisu di pinggir jalan. Kadang-kadang habis kadang-kadang enggak. Sehari 40 ribu,” tuturnya.
Selain ingin memberangkatkan kedua orang tuanya ke Tanah Suci, ia juga ingin membantu pendidikan adiknya.
“Pengennya banggain orang tua punya penghasilan juga. Mau nguliahin adek. Adek umur 20 udah kerja,” katanya.
Di sisi lain, perusahaan peserta job fair juga menghadapi tantangan tersendiri dalam proses rekrutmen. Learning and Development Manager Alila Hotel, Vincent Rudy Ardita, mengungkapkan banyak pelamar fresh graduate yang menghilang tanpa kabar setelah mengikuti proses seleksi.
“Sering banget di-ghosting sama teman-teman freshgrad,” ungkapnya.
Menurut Vincent, tidak sedikit pelamar yang sudah dinyatakan diterima, tetapi kemudian tidak hadir tanpa memberikan konfirmasi kepada perusahaan.
“Biasanya mereka sudah diterima tapi tidak muncul. Yang kami sayangkan tidak adanya konfirmasi,” jelasnya.
Ia berharap para pencari kerja lebih terbuka jika memutuskan menerima pekerjaan di tempat lain.
Baca juga: Perusahaan di Solo Belum Capai Target 1 Persen Pekerja Difabel
“Sebenarnya kalau sudah diterima di tempat lain nggak apa-apa banget kasih tahu aja HRD-nya tidak bisa bergabung karena sudah diterima. Jadi tidak bisa bergabung. Jadi tidak menghabiskan waktu panjang sampai satu bulan tapi ternyata nggak jadi join kan sedih juga,” ungkapnya.
Selain itu, Vincent menilai masih banyak pencari kerja yang memiliki ekspektasi kurang tepat terhadap dunia kerja perhotelan.
“Ekspektasi teman-teman bekerja di hotel dingin, adem, bahagia, seru. Pekerjaannya seru tapi saat orang lain liburan saatnya kita bekerja. Ketika teman-teman pengen healing dengan teman-temannya, kalau kerja di hotel nggak bisa. Harus kita bantu orang untuk healing. Ekspektasi mereka kerja selalu adem ternyata bawa koper harus berdiri,” jelasnya.
Melalui berbagai program penempatan kerja dan pelatihan yang terus digencarkan, Pemerintah Kota Solo berharap angka pengangguran terbuka dapat terus ditekan. Tahun ini, Disnaker menargetkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) turun hingga kisaran 3,5 persen dari posisi 4,5 persen pada Agustus 2025.
“Harapan kami bisa 3,5 atau 4 sudah sangat bagus,” ungkap Windi. (amd)