Transformasi Digital Sate Rembiga Goyang Lidah, Pasarkan Produk ke Berbagai Daerah hingga Global
Idham Khalid June 25, 2026 09:22 PM

 

TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM - Asap tebal membumbung dari dapur pembakaran Sate Rembiga Goyang Lidah di Jalan Dakota, Rembiga, Kota Mataram, Kamis (25/6/2026). Aroma khas bumbu sate yang menguar hingga ke jalan kerap menggoda pengendara untuk menoleh dan singgah.

Di dalam rumah makan tersebut, para karyawan tampak sibuk melayani pelanggan yang memesan beragam menu andalan, mulai dari sate rembiga, ayam pelecingan ayam taliwang, bebalung hingga plecing kangkung. Sejumlah pengunjung terlihat menikmati hidangan di berugak (gazebo) yang tersedia di area restoran.

Daging yang empuk dengan bumbu pedas yang meresap hingga ke dalam serat daging menjadi ciri khas yang terus dipertahankan untuk memberikan pengalaman kuliner terbaik bagi pelanggan.

Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang dirintis keluarga Muslehudin (49) ini menjadi salah satu pelaku usaha kuliner lokal yang mampu bertahan dan berkembang di tengah pesatnya  tantangan ekonomi.

Berdiri di atas lahan sekitar 60 are, Sate Rembiga Goyang Lidah kini dilengkapi area parkir luas, tempat bemain anak, serta musala yang nyaman bagi pengunjung.

Sejarah Sate Rembiga

GELIAT UMKM - Owner Sate Rembiga Goyang Lidah, Muslehudin ditemui di sela pekerjannya, Kamis (25/6/2026).
GELIAT UMKM - Owner Sate Rembiga Goyang Lidah, Muslehudin ditemui di sela pekerjannya, Kamis (25/6/2026). (TRIBUNLOMBOK.COM/Idham Khalid)

Muslehudin merupakan generasi ketiga yang mempertahankan resep warisan keluarga. Cikal bakal usaha ini bermula pada 1973 ketika Hj Nafisah, neneknya, menciptakan resep sate berbumbu pedas khas Lombok untuk memanfaatkan sisa daging sapi yang tidak terjual dari usaha pengepul dan jagal sapi.

Pada dekade 1990-an, keluarga tersebut mendirikan warung sate pertama di Jalan Dr Wahidin, Rembiga. Seiring waktu, usaha itu berkembang dan dikenal luas sebagai salah satu ikon kuliner Lombok.

Muslehudin mulai terlibat aktif mengembangkan usaha keluarga sejak 2010. Saat itu, ia bersama istrinya memasarkan sate rembiga melalui kegiatan car free day di Jalan Udayana, Mataram.

“Dulu saya hanya mampu berjualan di car free day. Hanya produksinya 2 kilogram daging sapi,” ujarnya saat ditemui Tribun Lombok.

Melihat tingginya minat masyarakat terhadap sate rembiga, Muslehudin kemudian membuka rumah makan di Jalan Dakota dan terus mengembangkan usaha tersebut.

Tantangan dan Tranformasi Digital

GELIAT UMKM - Tampak seorang karyawan Sate Rembiga Goyang Lidah saat duduk di meja kasir, Kamis (25/6/2026). (TRIBUNLOMBOK.COM/Idham Khalid)

Perjalanan membangun usaha hingga memiliki sekitar 30 karyawan tidak berjalan mulus. Salah satu tantangan terberat yang dihadapi adalah pandemi Covid-19 yang menyebabkan pembatasan aktivitas masyarakat dan menurunkan jumlah pelanggan secara drastis.

“Yang paling ngeri itu pas Covid, karena kan banyak orang tidak boleh ke mana-mana, ada pembatasan, jadi omzet kami itu turun drastis. Syukur-syukur masih bisa gaji karyawan,” ungkapnya.

Baca juga: Bank NTB Syariah Salurkan KUR Rp40 Miliar untuk UMKM dan PMI

Di tengah tekanan tersebut, Muslehudin memilih melakukan transformasi strategi pemasaran. Ia mulai memanfaatkan berbagai platform digital untuk memperluas pasar dan mengurangi ketergantungan pada penjualan langsung di lokasi usaha.

“Nah sejak 2019 itu sudah mulai kami membangun sistem. Awalnya pelanggan ke sini, sekarang kami memanfaatkan platform digital ini untuk menjual produk kami,” katanya.

Menurut Muslehudin, hampir seluruh platform digital dimanfaatkan untuk mendukung pemasaran produk, mulai dari marketplace hingga media sosial.

“Alhamdulillah dengan memanfaatkan platform digital ini, masalah saat Covid itu bisa teratasi dan sampai sekarang bisa bermanfaat. Bahkan kami sudah mengirim produk ke luar daerah, yang terbanyak itu ke Pulau Jawa, kota-kota besar. Sate Rembiga sekarang bisa dipesan di Shoppe, Tokopedia, platform media sosial juga ada,” ujarnya.

Transformasi digital tersebut menjadi titik balik dalam perkembangan usaha. Pada 2021, usaha keluarga ini resmi berbadan hukum sebagai Industri Kecil Menengah (IKM) Goyang Lidah dengan fokus memproduksi makanan olahan steril, seperti sate rembiga dan ayam taliwang dalam kemasan.

Produk-produknya kini tidak hanya dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia, tetapi juga telah dibawa konsumen ke sejumlah negara, seperti Jerman, Arab Saudi, dan Turki. Sementara pada 2024, kapasitas produksi meningkat signifikan hingga mencapai 15.000 kemasan per hari saat momentum event MotoGP Mandalika, dengan penjualan online yang stabil di kisaran 1.000 hingga 4.000 kemasan per hari.

Saat ini, omzet usaha tersebut mencapai rata-rata sekitar Rp50 juta per bulan atau mendekati Rp1 miliar per tahun, menandai keberhasilan transformasi dari usaha keluarga sederhana menjadi IKM kuliner yang mampu menembus pasar yang lebih luas melalui pemanfaatan teknologi digital.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.