Gubernur Mirza Siapkan 16 Desa Budaya Demi Lampung yang Maju dan Berkarakter
Noval Andriansyah June 26, 2026 12:19 AM

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung — Pemerintah Provinsi ( Pemprov ) Lampung di bawah komando Gubernur Rahmat Mirzani Djausal berkomitmen penuh untuk menjaga keseimbangan antara lompatan kemajuan daerah dan kelestarian identitas lokal.

Baca juga: Usai Tebar 33 Ribu Bibit Ikan Gubernur Lampung Kumpulkan Kades, Begini Pesannya 

Langkah konkret ini diwujudkan dengan menyiapkan cetak biru pengembangan 16 desa budaya di seluruh penjuru Bumi Ruwa Jurai. 

Melalui program strategis ini, pemerintah daerah tidak hanya ingin membentengi generasi muda dari hantaman arus globalisasi, melainkan juga membidik peluang ekonomi baru di sektor pariwisata sejarah.

Proyek mercusuar ini digadang-gadang bakal menjadi magnet baru bagi pelancong nusantara sekaligus menjadi panggung unjuk gigi bagi kekayaan adat Lampung yang sesungguhnya.

Kebijakan pelestarian ini sekaligus menegaskan bahwa modernisasi infrastruktur fisik di Lampung wajib berjalan beriringan dengan penguatan karakter berbasis kearifan lokal.

Sinyal keseriusan tersebut ditunjukkan langsung oleh Gubernur yang akrab disapa Mirza itu saat melakukan peninjauan di Desa Wisata Budaya Marga Teluk yang berpusat di Rumah Adat Lampung Lamban Dalom, Olok Gading, Bandar Lampung, Kamis (25/6/2026).

Kedatangan orang nomor satu di Lampung ini disambut hangat oleh para tokoh adat dan masyarakat setempat melalui prosesi penyambutan sakral yang kental dengan nuansa tradisi.

Dalam orasi budayanya, Mirza menegaskan kemajuan Provinsi Lampung tidak akan pernah bisa dipisahkan dari peran budaya dan hukum adat yang selama ini menjadi fondasi kokoh kehidupan masyarakat.

Ia menjabarkan bahwa lima falsafah hidup masyarakat Lampung, yakni Piil Pesenggiri (harga diri), Nemui Nyimah (terbuka/pemurah), Nengah Nyappur (berbaur), Sakai Sambayan (gotong royong), dan Juluk Adok (gelar adat), telah teruji waktu membentuk karakter masyarakat yang harmonis.

“Melalui lima falsafah ini, masyarakat Lampung selama ratusan tahun dapat hidup berdampingan, damai, dan berkemajuan bersama masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia,” urai Mirza dengan penuh karisma.

Secara khusus, Mirza mengagumi keberadaan Rumah Adat Lamban Dalom di Olok Gading yang berdasarkan catatan sejarah telah berdiri kokoh sejak tahun 1638.

Baginya, situs purbakala tersebut bukan sekadar simbol arsitektur kuno, melainkan ruang edukasi autentik bagi generasi z dan alfa untuk menyelami sejarah peradaban nenek moyang mereka.

Dari total 16 desa budaya yang diidentifikasi oleh Pemprov Lampung, kawasan Kampung Marga Teluk di Olok Gading dipastikan masuk dalam daftar prioritas utama.

Wilayah ini memiliki nilai historis tinggi karena sempat berjaya sebagai pusat perdagangan internasional yang sibuk sebelum akhirnya luluh lantak akibat letusan dahsyat Gunung Krakatau pada tahun 1883 silam.

“Ke depan kawasan seperti ini akan kita hidupkan kembali agar masyarakat Indonesia dapat melihat seperti apa Lampung yang sesungguhnya,” janji Mirza.

Di sisi lain, Mirza tidak menampik bahwa revitalisasi ini memiliki dimensi ekonomi yang kuat untuk mendongkrak durasi kunjungan wisatawan.

Berdasarkan data evaluasi, Lampung sejatinya sukses memikat sekitar 27 juta kunjungan wisatawan nusantara sepanjang tahun lalu.

Sayangnya, rata-rata lama tinggal (length of stay) pelancong masih mandek di angka 1–3 hari saja dengan perputaran uang yang belum optimal.

Oleh karena itu, kehadiran desa budaya ini diharapkan mampu menjadi pemecah ombak kebuntuan sektor pariwisata lokal.

"Kami berharap desa budaya yang dihidupkan kembali dapat menjadi destinasi wisata baru sehingga memberi dampak ekonomi langsung bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat hilir," pungkas Mirza optimis.

(Tribunlampung.co.id/Riyo Pratama) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.