Kesuksesan di Liga Premier jarang terwujud dalam semalam. Setiap manajer mewarisi tantangan yang berbeda—mulai dari membangun kembali tim yang kesulitan hingga mempertahankan dinasti juara—dan dampak keputusan mereka sering kali diukur selama beberapa musim, bukan hanya satu kampanye. Sementara beberapa membutuhkan waktu untuk menerapkan filosofi permainan mereka, ada juga yang langsung tampil gemilang, mengubah klub sejak hari pertama dan menghasilkan pencapaian yang melampaui ekspektasi tertinggi sekalipun.
Dari kejutan dalam perebutan gelar dan rekor jumlah poin hingga trofi yang telah lama dinantikan dan kebangkitan yang dramatis, Liga Premier telah menyaksikan sejumlah musim debut manajer yang luar biasa. Dalam artikel ini, kami meninjau musim-musim debut terbaik oleh para manajer dalam sejarah Liga Premier, dengan menyoroti pencapaian mereka, konteks di baliknya, serta warisan yang ditinggalkan oleh kampanye yang meninggalkan kesan mendalam itu.
Jose Mourinho, Chelsea – 2004-05
Musim debut Jose Mourinho bersama Chelsea menjadi tolok ukur bagi semua musim pertama manajer lainnya di Liga Premier. Chelsea mengumpulkan 95 poin, memenangkan gelar dengan keunggulan 12 poin atas Arsenal, dan hanya kebobolan 15 gol dalam 38 pertandingan liga—catatan pertahanan terbaik yang belum pernah terpecahkan hingga kini. Mereka juga menjuarai Piala Liga pada musim itu, menjadikannya dua trofi di tahun pertama Mourinho di sepak bola Inggris. Ia mengambil alih skuad kaya raya namun haus gelar, dan langsung menanamkan struktur serta mentalitas yang membuat Chelsea nyaris tak terkalahkan. Chelsea hanya kalah sekali di liga sepanjang musim, yaitu saat tandang ke Manchester City pada bulan Oktober.
Antonio Conte, Chelsea – 2016-17
Antonio Conte tiba di Stamford Bridge pada musim panas 2016 setelah musim terakhir yang sulit bagi Jose Mourinho, dengan Chelsea menyelesaikan musim sebelumnya di posisi ke-10. Respons Conte luar biasa: 93 poin dan gelar juara Liga Premier, total poin tertinggi kedua dalam sejarah klub. Conte menerapkan formasi tiga bek yang revolusioner, sementara Diego Costa kembali ke performa terbaiknya dan menjadi pencetak gol terbanyak di liga. Chelsea memenangkan 30 dari 38 pertandingan dan hampir tak tersentuh di puncak klasemen setelah mencatat 13 kemenangan beruntun antara Oktober dan Desember, yang praktis memastikan gelar sebelum musim berakhir.
Carlo Ancelotti, Chelsea – 2009-10
Carlo Ancelotti membawa Chelsea meraih gelar Liga Premier dan Piala FA dalam musim pertamanya, menjadikannya manajer pertama dalam sejarah klub yang memenangkan dua trofi utama sekaligus. Chelsea mencetak 103 gol liga pada musim tersebut—rekor baru Liga Premier saat itu. Didier Drogba menutup musim sebagai pencetak gol terbanyak dengan 29 gol di semua kompetisi, sementara Frank Lampard menambah 22 gol. Chelsea memastikan gelar di hari terakhir musim dengan kemenangan 8-0 atas Wigan Athletic—sebuah hasil yang menggambarkan kekuatan menyerang luar biasa mereka sepanjang musim. Kampanye itu tetap menjadi salah satu musim paling komplet yang pernah dijalani Chelsea.
Manuel Pellegrini, Manchester City – 2013-14
Musim pertama Manuel Pellegrini di Manchester City menghasilkan gelar Liga Premier kedua klub dalam tiga tahun, yang diraih pada salah satu akhir pekan paling dramatis dalam sejarah kompetisi. City mengakhiri musim dengan 86 poin dan mencetak 102 gol liga, serta memenangkan Piala Liga untuk melengkapi dua trofi di tahun pertamanya di sepak bola Inggris. Gelar juara dipastikan pada hari terakhir melawan West Ham, setelah persaingan ketat dengan Liverpool hampir sepanjang musim. Pellegrini menggantikan Roberto Mancini dan berhasil memaksimalkan potensi skuad yang memang dibangun untuk menang.
Rafael Benitez, Liverpool – 2004-05
Rafael Benitez menutup musim debutnya di Liverpool dengan finis di posisi kelima Liga Premier, yang tampak biasa saja jika dilihat dari tabel klasemen. Namun, kisah sesungguhnya jauh lebih menakjubkan. Benitez membawa Liverpool menjuarai Liga Champions 2004-05 dengan cara yang paling legendaris. Dalam final di Istanbul, Liverpool bangkit dari ketertinggalan tiga gol untuk menyamakan kedudukan 3-3 melawan AC Milan sebelum menang lewat adu penalti—sebuah kebangkitan yang dikenang sebagai salah satu momen paling luar biasa dalam sejarah sepak bola Eropa. Benitez, yang datang dari Valencia setelah memenangkan dua gelar La Liga berturut-turut, memberikan trofi Piala Eropa kelima bagi Liverpool di musim pertamanya di Anfield.