Retno Dwi Astuti: Dari Staf Biasa hingga Tiga Kali Jabat Kepala Kantor Wilayah DJP
tarso romli June 26, 2026 12:27 AM

 

 

Baca juga: Hj Heppy Safriani, Bidan Desa yang Kini Berjuang Dampingi Suami Majukan Empat Lawang

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Sumatera Selatan dan Kepulauan Bangka Belitung, Retno Dwi Astuti, memiliki perjalanan karier yang panjang di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak.

Sebelum menjabat saat ini, ia pernah staf juga dan naik menjadi Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pajak serta tiga kali menjabat sebagai Kepala Kantor Wilayah, termasuk di Bengkulu dan Lampung, Jambi dan kini menjabat Kakanwil DJP Sumsel Babel.

Salah satu tantangan terbesar yang pernah dihadapi Retno Dwi Astuti adalah saat menjabat sebagai Kepala Bagian Kepegawaian Direktorat Jenderal Pajak pada masa pandemi Covid-19.

Saat itu, ia harus menyiapkan regulasi dan sistem kerja bagi sekitar 46.000 pegawai DJP yang tersebar di 653 kantor di seluruh Indonesia, mulai dari Sabang, Mentawai, Merauke hingga Sabang.

Tantangan tersebut menuntut perubahan sistem kerja agar seluruh pegawai tetap sehat dan mampu memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

"Covid itu menjadi tantangan tersendiri karena semua sistem dan layanan berubah total, ada pengetatan jam kerja tapi layanan tetap harus maksimal dan ini butuh usaha yang tidak main-main," katanya saat menjadi narasumber talk show Women Corner yang digelar di Kebun Gede, Palembang, Kamis (25/6/2026).

Meski masa sulit itu sudah terlewati, bukan berarti saat ini atau di perjalanan karirnya yang panjang tidak ada tantangan lagi, Retno mengisahkan tantangan lain saat menjabat Sebagai Kepala Kanwil DJP Sumatera Selatan dan Kepulauan Bangka Belitung.

Tantangan yang dihadapi juga tidak kalah besar. Wilayah kerja yang sangat luas mencakup 13 Kantor Pelayanan Pajak (KPP), terdiri dari 10 KPP di Sumatera Selatan dan 3 KPP di Kepulauan Bangka Belitung.

Selain itu terdapat Kantor Pelayanan, Penyuluhan, dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP) yang berada di daerah-daerah yang lebih terpencil.

Untuk memahami kondisi pegawai di lapangan, Retno Dwi Astuti melakukan kunjungan langsung ke berbagai wilayah termasuk Belitung yang jauh dari Palembang dengan mencoba berbagai moda transportasi.

Dalam satu pekan, ia berkeliling Kepulauan Bangka Belitung melalui perjalanan darat, laut, dan udara.

Pengalaman tersebut dilakukan untuk merasakan langsung tantangan yang dihadapi para pegawai.

Sebagian besar pegawai DJP berasal dari Pulau Jawa dan sering kali bertugas jauh dari daerah asalnya.

Sistem mutasi yang berlaku mengharuskan pegawai berpindah tugas minimal setiap tiga tahun.

Sehingga tidak jarang seorang pegawai harus bertugas sangat jauh dari kampung halamannya.

Saat bertugas di Lampung, misalnya, ia pernah memiliki pegawai asal Banyuwangi yang ditempatkan di Curup, Bengkulu.

Untuk pulang menemui orang tuanya, pegawai tersebut harus menempuh perjalanan panjang dari Curup ke Bengkulu, kemudian ke Jakarta, dan melanjutkan perjalanan ke Banyuwangi.

Karena keterbatasan waktu dan jarak, ia hanya dapat pulang sekitar satu kali dalam setahun.

Dari sisi komposisi pegawai, sekitar 65 persen merupakan laki-laki dan 35 persen perempuan. Meski demikian, perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan menduduki posisi strategis.

Baca juga: Bunda Omi: Jadi Anggota DPR RI Akibat Kena Karma, Dulu Benci karena Anggap Anggota Dewan Arogan


33 Tahun berkarir di DJP

Ketika ditanya mengenai sumber semangat dan energi dalam menjalankan tugas, Retno Dwi Astuti mengaku banyak belajar dari ibunya yang dikenal sebagai sosok tekun, teliti, dan sabar.

Dukungan terbesar juga datang dari sang suami yang telah mendampingi selama 33 tahun pernikahan.

Dari total masa pernikahan tersebut, sekitar 23 tahun dijalani dalam hubungan jarak jauh karena tuntutan tugas masing-masing.

Bahkan setelah menikah, ia hanya memperoleh cuti selama tiga hari sebelum kembali ke tempat tugasnya.

Retno Dwi Astuti berasal dari keluarga sederhana. Sang ayah merupakan seorang Bintara TNI yang menanamkan nilai disiplin, kesabaran, dan ketekunan.

Nilai-nilai tersebut menjadi bekal penting yang mengantarkannya meraih kesuksesan hingga saat ini.

Menurutnya, satu kata yang selalu menjadi pegangan dalam kehidupan dan pekerjaan adalah "peduli".

Dalam peduli terdapat nilai ketulusan tanpa mengharapkan balasan, empati terhadap sesama, serta kemampuan untuk memanusiakan manusia.

Peduli juga mengandung makna tanggap terhadap kondisi sekitar, bertanggung jawab atas tugas yang diemban, serta konsisten dalam menjalankan amanah.

Nilai kepedulian tersebut menjadi motivasi untuk selalu memberikan yang terbaik kepada masyarakat.

"Makna peduli sangat banyak di dalamnya juga terkandung komitmen untuk menjaga integritas, menjunjung tinggi kejujuran, serta tidak mengkhianati prinsip-prinsip yang telah diyakini dan dijalankan selama ini," tutup Retno.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.