Pengabdian 31 Tahun yang Melegenda, Mahout TNWK Berduka atas Kepergian Gajah Indra
Noval Andriansyah June 26, 2026 01:19 AM

Tribunlampung.co.id, Lampung Timur - Suasana di lereng rawa Taman Nasional Way Kambas ( TNWK ) Lampung Timur sore itu mendadak hening dan diselimuti duka yang teramat mendalam.

Baca juga: Kabar Duka dari TNWK Lampung Timur: Gajah Sumatera Indra Mati pada Usia 42 Tahun

Siswo, seorang mahout (pawang gajah), tak mampu membendung air matanya saat melihat Indra, gajah jantan tangguh yang telah menemaninya selama bertahun-tahun, tiba-tiba ambruk dan kehilangan kekuatannya untuk berdiri. 

Di tempat itu, di bawah langit senja Minggu (21/6/2026), sang raksasa lembut yang biasanya begitu gagah memimpin patroli hutan, tampak begitu rapuh berjuang melawan rasa sakit yang menggerogoti tubuhnya selama sembilan tahun terakhir.

Tim dokter hewan dan sesama gajah jinak sempat bahu-membahu selama lebih dari 20 jam di tengah sulitnya medan rawa, memohon mukjizat agar sang pejuang bisa tegak kembali.

Namun takdir berkata lain, pada Senin (22/6/2026) pukul 11.06 WIB, Indra memilih menyudahi segala lelahnya dan mengembuskan napas terakhir, meninggalkan ruang kosong yang menganga di hati para perawatnya.

Bagi dunia konservasi Lampung, kepergian Indra bukan sekadar hilangnya satu ekor satwa terlatih, melainkan berpulangnya seorang pahlawan tanpa tanda jasa.

Sejak mulai dilatih di Pusat Latihan Gajah (PLG) TNWK pada tahun 1995, gajah jantan asal Desa Karang Sari ini telah mendedikasikan lebih dari tiga dekade hidupnya berada di garda terdepan untuk menghalau konflik berdarah antara gajah liar dan pemukiman manusia.

Di kalangan para mahout, dokter, dan aktivis, Indra dikenang sebagai sosok pelindung yang memiliki karakter kuat, sangat berani, namun berhati lembut.

Sayangnya, ketangguhan Indra mulai diuji oleh sebuah tragedi memilukan pada akhir tahun 2017. Usai menuntaskan misi kemanusiaan menghalau konflik satwa di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), truk yang mengangkut Indra mengalami kecelakaan lalu lintas yang parah.

"Peristiwa tersebut mengakibatkan trauma fisik serius. Hasil pemeriksaan medis menduga Indra mengalami gangguan pada ruas tulang belakang (suspect ruptur os vertebrae) yang secara bertahap memengaruhi gerak dan kesehatannya," kenang Kepala Balai TNWK, MHD. Zaidi, dengan nada emosional, Rabu (24/6/2026).

Sejak cedera tulang belakang yang menyakitkan itu, Indra terpaksa dipensiunkan dari tugas-tugas berat di belantara hutan. Ia menghabiskan sisa hidupnya di bawah perawatan penuh kasih sayang tim medis, jauh dari hiruk-piruk ketegangan konflik lapangan.

Kini, dengan kepergian Indra di usia 42 tahun, populasi gajah jinak pelindung di TNWK kian menyusut dan hanya tersisa 60 ekor—terbagi atas 34 ekor di PLG dan 26 ekor di unit mitigasi Elephant Response Unit (ERU).

Sebagai penghormatan terakhir atas kesetiaannya kepada bumi Lampung, tindakan nekropsi (bedah bangkai) dilakukan secara transparan oleh tim dokter gabungan PLG, Rumah Sakit Gajah, dan Sumatran Rhino Sanctuary (SRS) dengan disaksikan oleh aparat TNI-Polri sebelum jasadnya dimakamkan dengan layak di dalam pelukan tanah Way Kambas.

Gajah Indra mungkin telah tiada, namun jejak-jejak kakinya yang pernah meredam amarah hutan akan selalu abadi dalam ingatan setiap mahout yang pernah berjalan bersamanya.

(Tribunlampung.co.id/Hurri Agusto)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.