Melihat Wajah Chongqing dari Atas Kapal, Kota Metropolitan di Tepi Dua Sungai
Yocerizal June 26, 2026 08:03 AM

Laporan: Yocerizal *)

MALAM mulai turun ketika kami melangkah ke atas kapal pesiar yang bersandar di kawasan Chaotianmen, Chongqing. Cahaya lampu kota perlahan menyala, memantul di permukaan Sungai Yangtze yang tenang.

Dari kejauhan, siluet gedung-gedung pencakar langit mulai terlihat, menciptakan pemandangan yang berbeda dari kota-kota yang pernah saya kunjungi sebelumnya.

Kunjungan ke Chongqing ini merupakan bagian dari program kunjungan media yang difasilitasi Konsulat Jenderal Republik Rakyat Tiongkok di Medan. Program tersebut diikuti 14 wartawan dari berbagai media yang beroperasi di Sumatera.

Rombongan dipimpin Wakil Konsul Jenderal Tiongkok di Medan, Yu Lei, dan didampingi Ketua Harian Perhimpunan MITSU (Masyarakat Indonesia Tionghoa Sumatera Utara), Juswan Tjoe.

Tur malam dengan kapal pesiar menjadi salah satu agenda yang paling berkesan selama berada di Chongqing. Dari atas kapal, saya dapat melihat secara langsung bagaimana kota ini memadukan sejarah dan modernitas dalam satu bentang panorama yang sama.

Di sisi depan terlihat Plaza Raffles yang menjulang tinggi di kawasan Chaotianmen. Bentuk bangunannya menyerupai layar kapal raksasa yang sedang berlayar di pertemuan dua sungai besar.

Gedung modern itu berdiri megah sebagai simbol kemajuan Chongqing yang kini berkembang menjadi salah satu pusat ekonomi utama di Tiongkok bagian barat.

Baca juga: Dibom 200 Kali, Chongqing Menolak Melupakan Sejarah

Baca juga: Di Chongqing, Tiongkok Merancang Masa Depan Industri Otomotif Dunia

Namun pemandangan yang menarik perhatian saya bukan hanya deretan gedung modern tersebut.

Di seberang sungai, sepanjang Jalan Nanbin, berdiri Kawasan Bersejarah Danzishi. Dari atas kapal, kawasan itu tampak berbeda dengan gedung-gedung pencakar langit yang mendominasi cakrawala kota. 

Bangunan-bangunan bergaya lama yang dipertahankan di kawasan tersebut seolah menjadi pengingat bahwa sebelum menjadi kota metropolitan dengan puluhan juta penduduk, Chongqing telah memiliki sejarah panjang sebagai kota pelabuhan dan pusat perdagangan di tepian Sungai Yangtze.

Kapal Pesiar Chongqing_2
FOTO BERSAMA - Rombongan peserta program kunjungan media dari Indonesia berfoto bersama di atas kapal pesiar saat mengikuti tur malam menyusuri Sungai Yangtze dan Sungai Jialing di Chongqing, Tiongkok, Selasa (23/6/2026).

Perjalanan kapal kemudian membawa saya menyusuri aliran sungai menuju titik pertemuan Sungai Yangtze dan Sungai Jialing. Dari atas dek kapal, pertemuan dua sungai itu terlihat jelas, membentuk lanskap yang menjadi salah satu ikon geografis Chongqing. 

Di sepanjang perjalanan, lampu-lampu kota terus menyala. Jembatan Dongshuimen yang menghubungkan kawasan Yuzhong dengan bagian selatan kota tampak bercahaya di malam hari. 

Struktur jembatan modern itu membentang di atas sungai, menjadi bagian dari jaringan infrastruktur yang menopang mobilitas jutaan warga Chongqing setiap hari. 

Ketika kapal berbelok menuju Sungai Jialing, pemandangan semakin memukau. Pertunjukan cahaya dari gedung-gedung di kawasan Yuzhong memantulkan warna-warni lampu ke permukaan air. 

Di seberangnya berdiri Chongqing Grand Theatre dengan desain arsitektur yang unik dan futuristis. Bangunan tersebut menjadi salah satu ikon budaya kota sekaligus menambah keindahan panorama malam Chongqing. 

Kapal Pesiar Chongqing_3
PEMANDANGAN CHONGQING - Suasana tur malam di atas kapal pesiar saat melintasi kawasan Chaotianmen, Chongqing, Tiongkok.

Bukan Sekedar Perjalanan Wisata

Bagi saya, pelayaran malam ini bukan sekadar perjalanan wisata.

Dari atas kapal, saya melihat bagaimana Chongqing berupaya menjaga warisan sejarahnya sembari terus membangun masa depan. 

Kawasan-kawasan bersejarah tetap dipertahankan, sementara gedung-gedung modern, pusat bisnis, jembatan, dan ruang publik baru terus tumbuh di sekelilingnya.

Perpaduan itulah yang membuat Chongqing terasa unik. Kota ini tidak memilih antara masa lalu atau masa depan, melainkan menempatkan keduanya berdampingan di sepanjang tepian Sungai Yangtze dan Sungai Jialing.

Saat kapal perlahan kembali menuju dermaga, lampu-lampu kota masih berkilauan di kejauhan. Saya pun memahami mengapa tur malam di dua sungai ini menjadi salah satu daya tarik utama Chongqing. 

Dari sini, wajah kota dapat terlihat secara utuh, sebuah kota yang terus bergerak maju tanpa melupakan akar sejarahnya.(*)

*) PENULIS adalah jurnalis Serambinews.com (Serambi Indonesia) yang mengikuti program kunjungan media ke Chongqing dan Beijing, Tiongkok, pada Juni 2026.

Baca juga: Warga Aceh Demo di Kementerian ESDM Jakarta, Tuntut Penjelasan Persetujuan POD Blok Andaman

Baca juga: Sejarah Alam Peudeung Kembali Dikupas, Ditawarkan sebagai Jalan Tengah Polemik Bendera Aceh

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.