Cuaca Buruk dan 100 Mil Laut Disisir, Pencarian Nelayan Gorontalo Berakhir Tanpa Hasil
Wawan Akuba June 26, 2026 01:42 PM

 

TRIBUNGORONTALO.COM -- Upaya pencarian terhadap nelayan asal Desa Kayubulan, Kecamatan Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo, Hermana Ali (40), resmi dihentikan setelah Tim SAR Gabungan melakukan operasi selama tujuh hari.

Keputusan tersebut diambil Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Gorontalo setelah seluruh upaya pencarian sesuai prosedur dilakukan, namun korban belum juga ditemukan.

Kepala Seksi Operasi Basarnas Gorontalo, Halidin La Bidu, mengatakan penghentian operasi dilakukan berdasarkan hasil evaluasi yang dilaksanakan setiap hari selama operasi berlangsung.

"Selama kurang lebih tujuh hari kami melaksanakan pencarian, kami tidak menemukan adanya tanda-tanda keberadaan korban," kata Halidin saat diwawancarai di Kantor Basarnas Gorontalo, Jumat (26/6/2026).

Menurutnya, evaluasi dilakukan sejak hari pertama hingga hari ketujuh dengan mempertimbangkan seluruh metode pencarian yang telah diterapkan, luas area yang telah disisir, serta kondisi di lapangan.

"Berdasarkan SOP yang berlaku di Basarnas, evaluasi dilakukan setiap hari. Setelah seluruh upaya dilaksanakan dan tidak ditemukan tanda-tanda keberadaan korban, maka operasi SAR kami hentikan," ungkapnya.

NELAYAN HILANG -- Kasi Operasi Basarnas Gorontalo, Halidin La Bidu
NELAYAN HILANG -- Kasi Operasi Basarnas Gorontalo, Halidin La Bidu menyebut Basarnas Gorontalo resmi menghentikan operasi pencarian Hermana Ali setelah seluruh prosedur dan metode pencarian dijalankan tanpa hasil. Meski demikian, operasi SAR dapat dibuka kembali apabila muncul informasi baru terkait keberadaan korban.

Selama tujuh hari operasi, Tim SAR Gabungan memperluas pencarian dari lokasi kejadian hingga sejauh 25 hingga 30 nautical mile.

Total area yang disisir mencapai sekitar 100 nautical mile dengan pencarian dilakukan ke berbagai arah, mulai dari utara, selatan, timur, hingga barat.

Halidin menyebut tim menerapkan metode pencarian paralel agar seluruh area dapat diperiksa secara maksimal.

"Kami melakukan pencarian secara paralel dengan jarak antarjalur pencarian kurang lebih satu nautical mile," jelasnya.

Meski area pencarian terus diperluas, tim tidak menemukan petunjuk yang mengarah pada keberadaan korban.

Satu-satunya informasi yang diperoleh berasal dari keluarga korban yang menyebut perahu milik Hermana Ali masih berada di lokasi tempat korban memancing.

"Dalam pelaksanaan pencarian kami tidak mendapatkan tanda-tanda ataupun petunjuk. Informasi yang kami terima hanya perahu korban masih berada di lokasi tempat ia memancing," ujar Halidin.

Proses pencarian juga dihadapkan pada kondisi cuaca yang kurang bersahabat, terutama pada hari-hari awal operasi.

Gelombang di lokasi dilaporkan mencapai dua hingga tiga meter dengan kecepatan angin sekitar 10 hingga 15 knot.

"Kendala kami sejak hari pertama sampai hari ketiga adalah cuaca. Ombaknya sekitar dua sampai tiga meter dan angin mencapai 10 sampai 15 knot," katanya.

Meski demikian, operasi tetap dilaksanakan dengan mempertimbangkan keselamatan seluruh personel yang terlibat.

Sebelum operasi resmi dihentikan, Basarnas lebih dahulu menemui keluarga Hermana Ali untuk menyampaikan hasil pencarian.

Pertemuan tersebut turut dihadiri aparat desa serta keluarga besar korban.

"Kami menyampaikan hasil pencarian selama tujuh hari, termasuk luas area yang sudah disisir dan kendala yang kami hadapi di lapangan," ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Basarnas juga menjelaskan bahwa seluruh personel telah bekerja maksimal sesuai standar operasi yang berlaku.

"Kami sampaikan kepada keluarga bahwa tim sudah melaksanakan pencarian sesuai SOP dan semaksimal mungkin, namun korban belum berhasil ditemukan," katanya.

Halidin mengaku keluarga akhirnya menerima keputusan penghentian operasi dan mengikhlaskan korban.

"Keluarga sudah siap menerima dan mengikhlaskan. Untuk saat ini korban kami nyatakan hilang karena belum ditemukan hingga operasi selesai," tuturnya.

Meski operasi resmi ditutup, Basarnas memastikan pencarian dapat kembali dilakukan apabila muncul informasi baru mengenai keberadaan korban.

"Kalau nanti ada informasi dari keluarga ataupun masyarakat yang menemukan tanda-tanda keberadaan korban, maka operasi SAR akan kami buka kembali," tegas Halidin.

Ia mengingatkan para nelayan agar selalu mengutamakan keselamatan sebelum melaut.

Menurutnya, kondisi cuaca harus menjadi perhatian utama agar kejadian serupa tidak kembali terulang.

"Kalau cuaca kurang bersahabat jangan dipaksakan untuk melaut. Apabila sudah berada di laut dan terjadi kondisi yang membahayakan, segera laporkan kepada keluarga atau langsung ke Basarnas supaya kami bisa melakukan tindakan lebih awal," pungkasnya.

Diketahui, Hermana Ali dilaporkan hilang saat pergi memancing di Perairan Teluk Tomini, Kabupaten Gorontalo.

Operasi SAR Gabungan berlangsung selama tujuh hari dengan melibatkan Basarnas, TNI, Polri, pemerintah daerah, dan masyarakat.

Hingga operasi berakhir, korban belum berhasil ditemukan sehingga pencarian resmi dihentikan dan korban dinyatakan hilang. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.