Geliat Komunitas Melalar: Menyingkap Pesona Wisata Sejarah dan Religi Jambi Kota Seberang
Darwin Sijabat June 26, 2026 02:04 PM

TRIBUNJAMBI.COM - Kawasan Seberang Kota Jambi, Provinsi Jambi yang kaya akan peninggalan sejarah dan tradisi religi kini mulai dilirik oleh wisatawan lokal hingga mancanegara. 

Geliat pariwisata di wilayah yang dahulunya menjadi pusat peradaban dan pendidikan Islam abad ke-19 ini bangkit berkat inisiatif kreatif sekelompok anak muda setempat yang tergabung dalam komunitas Melalar Grup.

Berawal dari hobi jalan-jalan, komunitas yang resmi berdiri pada Desember 2024 ini berkomitmen menjadi pemandu lokal (local guide) profesional guna memperkenalkan potensi wisata budaya, religi, hingga kerajinan tangan khas seberang. 

Mengusung konsep walking tour, Melalar Grup mengajak para pelancong menyusuri gang-gang perkampungan, menyaksikan keunikan arsitektur rumah panggung perpaduan Melayu, Arab, dan Tionghoa, hingga mencicipi tradisi kuliner lokal.

Sejumlah destinasi ikonik masuk ke dalam rute andalan mereka, mulai dari Jembatan dan Museum Gentala Arasy, empat pondok pesantren tertua peninggalan peradaban Tsamaratul Insan (tahun 1915), kompleks makam cagar budaya penyebar Islam legendaris Sayyid Husein bin Ahmad Baraqbah, pusat kerajinan Batik Jambi di eks-Kampung Pecinan, hingga situs bersejarah Rumah Batu Pangeran Wiro Kusumo yang baru saja ditetapkan sebagai cagar budaya pada tahun 2023.

Meski tergolong baru, eksistensi komunitas ini telah berhasil menarik perhatian agen travel dan pelancong luar daerah, seperti rombongan siswa dari Bengkulu, wisatawan asal Jakarta dan Banten, hingga turis mancanegara asal Australia.

 Melalui kolaborasi bersama pemerintah daerah dan pegiat UMKM setempat, Melalar Grup berharap dapat memperkokoh identitas pariwisata Jambi Kota Seberang sekaligus menggerakkan roda perekonomian masyarakat secara berkelanjutan.

Berikut adalah wawancara  lengkap Mojok Tribunjambi.com yang berjudul "Dari Wisatawan Lokal Hingga Mancanegara Datangi Seberang Kota Jambi" di kanal Tribun Jambi:

Tribun Jambi: Halo Tribuners, jumpa lagi bersama saya Duanto, jurnalis Tribun Jambi. Kita ketemu dalam program Mojok. Nah, kali ini kita menghadirkan kawan-kawan nih, kawan-kawan muda dari seberang Kota Jambi dari sebuah komunitas yang sebenarnya hobi jalan-jalan sih. Mereka hobi jalan-jalan, kemudian membuat sebuah komunitas yang dinamakan komunitas Melalar. Jadi hampir sama sih antara kata melala dengan melalar. Mungkin artinya kurang lebih jalan-jalan ya. Dan hadir di studio Tribun Jambi hari ini Bang Rico dan Bang Zarwan. Nah, beliau hadir dari seberang, salah satu daerah yang khas memiliki kekhasan di Kota Jambi. Mungkin bisa sapa dulu kawan-kawan Tribuners, Bang.

Bang Rico: Halo, selamat siang, sore, siang menjelang sore. Kenalkan saya Rico dari anggota Melalar Grup sebagai wakil sekarang. Heeh, oke.

Bang Zarwan: Saya Zarwan sebagai humas dari Melalar Grup. Oke.

Tribun Jambi: Bang Zarwan dan Bang Rico, selamat datang, Bang, di Tribun, Bang. Ngobrol sedikit nih, ini menarik nih kemarin Bang Rico dan Bang Zarwan cukup lumayan viral di sebuah bangunan tua yang sudah lama. Jadi, lama mungkin terkenal dengan sebutan rumah batu ya, rumah batu. Kemudian ada foto di situ bersama kawan-kawan, nah kemudian viral. Nah, Bang, boleh diceritain dulu komunitas Melalar atau Melalar Grup ini apa, Bang? Boleh ceritain, Bang.

Bang Rico: Oke, sedikit saya menjelaskan. Jadi, komunitas Melalar Grup ini adalah kumpulan dari anak-anak muda yang berada di Jambi Kota Seberang. Terdiri dari dalam ruang lingkup dua kecamatan dan beberapa kelurahan yang ada di Kota Seberang. Jadi, kami ini mempunyai satu visi atau misi yang mana ketika anak-anak muda yang ada di seberang ini mengelola suatu objek, bakalan bisa menjadi daya tarik untuk orang-orang yang bakalan datang ke wilayah Jambi Kota Seberang nanti.

Kalau secara singkatnya, jadi Melalar Grup ini berdiri di tahun 2024 di bulan Desember, yang mana kemarin kami mendapat klien pertama kali itu Gowes dengan bersepeda. Di mana di situlah kami membuat rute dari penjemputannya itu Jembatan Gentala, terus masuk ke Museum Gentala, dilanjutkan dengan ada empat pondok pesantren tertua, selanjutnya Sa'adatuddaren, terus dilanjutkan lagi ke Jembatan Bento, jembatan hijau Bento, dilanjutkan lagi ke Madrasah Nurul Iman, terus dilanjutkan lagi ke Rumah Batu Olak Kemang menjadi titik akhirnya. Itu klien pertama yang dibimbing ya, benar gitu.

Tribun Jambi: Melalar Grup ini isinya berapa orang dan siapa saja yang ada di dalamnya, Bang Rico?

Bang Rico: Kalau grup ini untuk ketuanya itu namanya Wardatin Adelia, perempuan gitu. Jadi kami ada anggota juga, ya saya sebagai wakil di sini posisinya kan. Terus ada humas, ada media juga, terus ada tim keamanan segala macam karena kami ini kalau untuk orangnya itu berjumlah tujuh orang, tujuh orang. Dikarenakan ada beberapa kami ini mau masuk ke Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata), mungkin ada mekanisme yang harus dilengkapi untuk memperlengkapan persyaratan.

Tribun Jambi: Artinya ini komunitas anggotanya adalah anak-anak muda yang ada di seberang ya. Ada di seberang dan mempunyai visi untuk mengenalkan dunia luar bahwa ada semacam pariwisata wisata budaya religi yang ada di seberang. Nah, ini menarik karena selama ini kayaknya belum ada ya yang jadi semacam komunitas yang bisa dibilang guide seperti itu. Selama ini apakah sudah ada di seberang?

Bang Zarwan: Sepertinya kalau untuk secara resmi tidak ada. Karena mungkin yang ada itu ya kalau dari kedatangan tamu dari pemerintah, dari ibu-ibu PKK, mungkin itu yang kalau dulu. Kalau sekarang, dengan adanya Melalar ini kita memang mengkonsepkan bagaimana kita arahkan orang yang ingin datang ke Jambi melihat wisata budaya yang ada di Jambi Kota Seberang khususnya gitu, dari mulai religinya.

Karena kita di seberang itu kalau dulu, di awal abad di tahun 1900 itu menjadi pusat pendidikan di Jambi. Karena ada empat pondok pesantren yang tertua ini. Di tahun 1915 itu dulu ada namanya perkumpulan di seberang itu, perkumpulan para ulamanya namanya Tsamaratul Insan. Kalau sekarang kita tahunya Tsamaratul Insan itu Islamic Center yang ada di depan bandara, padahal itu bukan. Itu ada nama suatu kelompok yang mendirikan beberapa pondok pesantren, yaitu ada Pesantren Nurul Iman yang di Kelurahan Ulu Gedong, Pondok Pesantren Sa'adatuddaren yang ada di Tahtul Yaman, kemudian Al-Jauharain yang ada di Tanjung Johor, kemudian lagi ada di Tanjung Pasir namanya Nurul Islam. Nah, di antara pesantren ini itu berdirinya di kisaran tahun 1915 di awal itu, karena Tsamaratul Insan itu mendapatkan izin resmi dari Residen Jambi di tahun 1915.

Tribun Jambi: Oke, Bang, kita stop dulu. Tribuners, belum banyak yang tahu kan soal ini kan? Mungkin nama-nama aja, mungkin warga Jambi aja asing ya, Bang? Iya, heeh. Oke, Bang kita lanjut, tapi sebelumnya sambil ngopi dong. Oh kopinya cocok nih, kopi AA. Coba Bang, sambil coba kopi Jambi. Oke, menarik. Jadi mungkin berawal dari ini ya Bang, 1900-an ya ide dari situ ya. Nah, Bang, apa sih yang menarik selain peradaban Islam? Di sana ada Museum Peradaban Islam juga kan di Gentala. Kemudian sebenarnya ada jejak-jejak peninggalan di sana. Nah, boleh dipaparin ini Bang, yang menarik mungkin dari yang paling tua sepuh sampai dengan yang terbaru seperti apa Bang di sana?

Bang Zarwan: Iya, kalau dari tua kemungkinan itu kebanyakan di peninggalan rumah rumah-rumah masyarakat di zaman dahulu. Karena di seberang itu ada namanya Kampung Pecinan. Kampung Pecinan itu rata-rata itu isinya rumah-rumah lama dengan berbagai macam model bentuk khas rumah panggung Jambi itu ada di seberang gitu. Bahkan ada rumah itu yang memang arsitekturnya itu beda-beda. Jadi ada ciri khas Melayunya, ada Arabnya gitu, perpaduan arsitektur.

Tribun Jambi: Di daerah mana Bang itu?

Bang Zarwan: Di daerah Kelurahan Ulu Gedong, Olak Kemang itu banyak juga. Rata-rata di daerah Pecinan itu namanya. Dan sekarang masih ada, cuman orang tidak lagi menyebutnya Pecinan karena sudah dibagi-bagi ada Kelurahan Tengah, Jelmu, Ulu Gedong, Kampung Laut.

Tribun Jambi: Ada sekitar tahun berapa di situ?

Bang Zarwan: Di awal tahun 1900 itu sudah ada, bahkan ada namanya Datuk Sintai. Datuk Sintai itu salah satu orang Tionghoa yang masuk Islam. Dari Tionghoa yang Islam itu dikenal dengan Datuk Sintai, itu yang ada yang menyebutkan itu sudah lama di Kampung Pecinan.

Tribun Jambi: Berarti sudah 100 tahunan lebih peradabannya. Nah ini banyak warga Jambi yang belum tahu ini. Ini kayaknya infonya menarik kalau dikupas satu-satu enggak bakal selesai 1 jam pun. Nah, kemudian selain tadi boleh dibilang kawasan Pecinan lawas, ada apa lagi Bang di sana?

Bang Zarwan: Ada makam namanya Sayyid Husein bin Ahmad Baraqbah, salah satu daripada penyebar Islam yang ada di Jambi. Jadi kan ada beberapa masa, dari Datuk Paduka Berhala, kemudian masa daripada Sayyid Husein bin Ahmad Baraqbah, kemudian masuk lagi periode dari Tsamaratul Insan tadi. Dari Tsamaratul Insan itulah mulai berkembangnya agama Islam di Jambi khususnya, karena rata-rata pesantren yang ada di Jambi itu lulusan daripada empat pesantren yang ada di seberang, karena di situ puncaknya dulu. Termasuk mantan gubernur juga, ya termasuk mantan gubernur Jambi, Pak Hasan Basri Agus (HBA). Jadi sebenarnya sudah banyak empat pesantren melahirkan tokoh.

Tribun Jambi: Itu di kisaran tahun berapa makam di situ?

Bang Zarwan: Disebutkan di tahun 1700-an, artinya sudah sekitar abad ke-18, 300 tahun lebih ya. Tahun 1760 dan masih terawat karena menjadi cagar budaya.

Tribun Jambi: Siapa yang merawat Bang di situ?

Bang Zarwan: Dari keturunannya. Jadi di seberang itu ada namanya Kampung Arab Melayu yang mana memang isinya orang Arab dan orang Melayu. Jadi masih banyak di situ orang-orang keturunan Arab yang tinggal di sana. Nah, yang merawat daripada makam beliau tadi adalah keturunan beliau. Sampai saat ini masih terjaga garis silsilahnya, dan itulah yang menjadi kalau sekarang orang-orang yang ingin wisata religi itu pasti ziarah ke sana.

Karena kemarin ada salah satu pesepeda dari Tangerang hendak ke Saudi, kebetulan saya lewat tuh lewat Jembatan Auduri 2, kami mau ke Sengeti lihat tuh ada yang naik sepeda. Kami buntutin, kami stop, beliau ini kami tanya, "Bang, izin mau tanya, mau ke mana gitu?" "Mau ke Saudi," katanya. Kami kaget kami berempat waktu itu. Kemudian tanya, "Loh kok lewat sini?" Ternyata mau ziarah dulu ke makam. Akhirnya dia menjelaskan ternyata makam itu enggak hanya di Sumatera aja dikenal, sampai luar negeri karena keturunannya di dunia yang menjadi utamanya di situ. Di Malaysia ada, di sana ada, keturunan-keturunan beliau itu semuanya bermuara ke Habib Husein bin Ahmad Baraqbah gitu. Jadi selama berapa ratus tahun sudah menyebar.

Tribun Jambi: Oke Bang, apalagi Bang yang ada di sana yang menarik? Mungkin Rumah Batu tadi, saya ingin menjelaskan.

Bang Rico: Oh iya, Rumah Batu. Rumah Batu ini merupakan salah satu rumah yang dimiliki oleh Sayyid Idrus bin Hasan Al-Jufri, dari kalangan habaib, keturunan Arab di Hadhramaut, Yaman. Jadi beliau ini merupakan menantu dari anak buahnya Sultan Thaha pada masa itu. Abangnya Sultan Thaha ini namanya Sultan Zainuddin. Sultan Zainuddin punya anak, jadi anak Sultan Zainuddin ini menikah sama Sayyid Idrus ini. Jadi secara tidak langsung beliau ini diberi gelar Pangeran Wiro Kusumo. Jadi Pangeran Wiro Kusumo ini kan seiring mengembang waktu beliau memiliki rumah itu tadi yang mana adanya Kampung Pecinan pengaruh Tionghoanya, Arab juga dari Habib Husein tadi, terus Eropa dari kolonial bangsa kolonial. Jadi rumah batu itu memiliki ciri khas tiga arsitektur.

Keunikan rumah ini memang dari saran atau usulan dari orang-orang yang terdahulu yang mana rumah ini menjadi tempat perkumpulan atau musyawarah Kerajaan Jambi lah pada masa itu kan. Beliau ini salah seorang pedagang yang terkenal juga pada masa itu sampai ke daerah Berbak. Beliau juga berjualan garam, tembakau, sambil menyebar agama Islam gitu kan.

Tribun Jambi: Boleh digambarin Bang, bangunan itu saat ini kondisi saat ini seperti apa?

Bang Rico: Kalau untuk saat ini bisa dikatakan sudah hampir punah gitu, tinggal beberapa persen bangunan yang ada gitu. Jadi bangunan ini terdiri dari dua lantai gitu kan, bangunan awal dua lantai. Bangunan yang di bawah berbahan batu, bangunan yang di atasnya berbahan kayu. Struktur bawah batu, struktur atas kayu. Jadi memang besar rumah ini memang menjadi tempat pertemuan, tempat peristirahatannya Kesultanan Jambi pada masa itu kan. Jadi memang menjadi tempat yang paling sering dikunjungilah oleh orang-orang. Dan itu bangunan diperkirakan berdiri di akhir abad ke-18 dan masa-masa beliau ini di pertengahan abad ke-19 gitu.

Tribun Jambi: Saya sempat udah agak lama sih, waktu itu masih banyak tanaman-tanamannya, mungkin sekitar 10 tahun kemarin kondisinya masih berbeda dengan sekarang. Dulu kayaknya kotor ya, maksudnya banyak tanaman. Sekarang dari foto yang terbaru yang saya peroleh kemarin sudah dibersihkan ya?

Bang Rico: Iya, jadi rumah ini kan sempat menjadi polemik gitu, Pak. Jadi kan secara hukum undang-undang Cagar Budaya itu ketika bangunan ini lebih dari 50 tahun maka harus disepakati mengambil langkah jadi cagar budaya gitu kan. Jadi perbaikan antara pemilik rumah sama pemerintah belum clear pada masa itu kan. Namun sekarang di tahun 2023 ini telah ditetapkan sebagai cagar budaya, artinya alhamdulillah kita nunggu proses dari pemerintah lagi kelanjutnya seperti apa gitu kan.

Tribun Jambi: Ada penanda waktunya enggak Bang, temuan di sana? Penanda waktu mungkin ada tertulis tanggal berapa dibangun?

Bang Rico: Kalau sekarang belum ada, itu diperkirakan kisaran tahun 1850-an peradaban situ mulai ada aktivitas gitu kan, cuma ada yang di akhir abad 18 juga gitu kan masih menjadi perbincangan. Tapi kalau perkiraan bangunan Rumah Batu ini berusia sekitar sudah satu abad lebih ya. Kalau dari foto itu ada kan ada Masjid Batu, Masjid Batu itu juga hampir beriringan sejaman, karya dari Sayyid Idrus juga. Kemudian menariknya bentuk batu bata kemudian ada sisa genteng kan di sana. Genteng dan batu bata pada tahun 100 tahun lalu bentuknya berbeda dengan batu bata dan genteng yang ada sekarang.

Bang Rico: Heeh, jadi rumah itu kan dari motifnya itu ada gambar naga gitu kan, melambangkan Tionghoa. Ada ukiran dari detailnya masih ada sedikit sekarang. Terus kalau Eropanya itu tadi kan dari look atau lengkungan gaya-gaya kemewahannya gitu kan. Terus di Melayu itu jelas dari berbahan kayu seperti rumah panggung biasa berbahan atas, struktur atas itu kayu. Jadi kalau melihat dari foto itu, atas ini tuh ada juga lagi melambangkan China gitu kan ada naga-naga juga gitu kan kalau gambar dari foto, cuman kondisi sekarang kan sudah hampir mau habis gitu, mungkin tinggal 10 persen lagilah.

Tribun Jambi: Apa ya, dinding kemudian ini sudah... tapi itu dikumpulkan itu?

Bang Rico: Iya, bahan-bahannya semua dikumpulkan di samping rumah tersebut. Yang mengumpulkan dari keturunan ada yang mengelola sekarang. Yang mengelola dari keturunan juga masih membersihkan gitu kan, yang rumahnya berada di situ. Cuman selama ini berkoordinasi dengan Balai Pelestarian Kebudayaan.

Tribun Jambi: Oke Bang, Rumah Batu kemudian selain itu apa lagi Bang Zarwan? Apa lagi Bang, dari Batik Jambinya?

Bang Zarwan: Batik Jambi, banyak sih, sangat banyak kalau banyak itu yang dicari dari orang luar ke Jambi di mana jual batiknya gitu. Nah, di seberang itu banyak sangat banyak rumah pembuatan batik seperti yang kami pakai ini.

Tribun Jambi: Oke, ini motif apa Bang?

Bang Zarwan: Kalau ini durian pecah, durian pecah ya. Jadi di seberang itu banyak sekali rumah-rumah pembuat pengrajin batik yang masih tradisional. Dan juga dari Walikota sekarang kita itu ada katanya mau dibuat Kampung Batik gitu. Jadi memang di daerah Pecinan tadi yang dulunya daerah Pecinan itu bakal dibuat Kampung Batik untuk wisata itu. Nah, rute yang dibikin oleh Melalar ini juga ke Kampung Batik ini ya, maksudnya ke pengrajin-pengrajin batik ini ya. Yang paling populer motif apa Bang kalau di sana?

Bang Zarwan: Motif Angso Duo, Kapas Humas, Batanghari, sangat banyak itu.

Tribun Jambi: Itu batik tulis atau batik cap?

[20:58] Bang Zarwan: Batik tulis, cuma sekarang sebagian sudah dicap untuk meminimalisir waktu gitu kan. Kalau untuk proses batik tulis ini kalau satu kain dasar itu bisa hampir 5 bulan 6 bulan pengerjaan prosesnya untuk menghasilkan satu kain. Kalau sekarang kan lebih simpelnya itu dicap ya kan, cuman cara pengerjaannya hampir sama cuman beda dicap sama ditulis saja.

Tribun Jambi: Bang, ada info enggak, lembaran mungkin lembaran kain yang ada disimpan di sana yang paling ibaratnya paling tua ada?

Bang Rico: Kalau motif-motif lawas atau batik lawas sih palingan dari bahan katun gitu masih ada itu, masih disimpan. Ada yang mungkin berusia 100 tahun ada itu, palingan beberapa tempat batik lah gitu kan yang ada simpan di sanggar ada gitu kan, terus di rumah-rumah warga yang pengrajin gitu sebagainya ada.

Tribun Jambi: Oke Bang, sebenarnya kalau ngomongin seberang memang enggak ada habisnya ya. Jalan dari ujung ke ujung pun pasti tiap perhentian pasti ada titiklah. Nah, di sana tradisi ngopi ada enggak Bang?

Bang Zarwan: Ngopi iya, kalau untuk ngopi kalau istilah sana mutur, mutur makan pagi makan pagi. Jadi ketika pagi mesti mutur, biasanya kawannya kopi tapi kebanyakan yang jual itu nasi gemuk kemudian kue-kue, kue goma namanya, risol. Itu kalau pagi itu makan Rp10.000 kenyang itu.

Tribun Jambi: Masih masuk bagian dari tur enggak?

Bang Zarwan: Masuk, masuk. Jadi kami setiap akhir misalnya di Rumah Batu menjadi titik akhir kan, jadi kue-kue khas seberang ini kami sajikan juga di sini kan, seperti kue pedamaran atau kue kapal gitu kan, kue muso, kue-kue yang ada di seberang lah. Yang minta dicicipkan, "Wih enak," kata peserta gitu kan.

Tribun Jambi: Menarik ya sebenarnya, menarik. Butuh berapa lama Bang tur itu membutuhkan waktu berapa lama?

Bang Rico: Kalau untuk perjalanan itu kurang lebih hampir 2 kilo atau 3 kilo, kalau untuk waktunya itu memakan 2 jam sampai 2 setengah jam. 2 sampai 2,5 jam iya.

Tribun Jambi: Nah ini boleh info spill-spill apa ya, tarifnya?

Bang Zarwan: Kalau tarif itu ada di akun kita, ada beberapa tarif yang paketan. Jadi kami memang kasih paket ada cuman beberapa destinasi, misal di tiga titik atau dua titik itu tergantung. Tapi kami itu pakai minimal biasanya minimal 10 orang.

Tribun Jambi: Sejauh ini paling banyak yang ikut berapa orang masuk dalam satu kali tur itu?

Bang Zarwan: Yang dari sekolah kemarin ada yang sampai dari... ada 50 dari siswa Bengkulu, siswa Bengkulu oh yang hadir.

Tribun Jambi: Yang ikut itu bukan hanya dari Jambi aja ya?

Bang Zarwan: Malahan kebanyakan yang kami guide itu orang luar. Oke, sebutin Bang dari mana aja kemarin? Yang terakhir kita dari Australia, ada turis Australia, dari Jakarta, dari Banten, kemudian dari Bengkulu. Itu yang kita kerja sama juga dengan orang-orang yang membuka tur ke Jambi jadi dia masukkan kami sebagai destinasi mereka gitu. Jadi kan orang-orang luar kan kenalnya sekarang Candi Muaro Jambi, jadi kan orang itu ke Jambi pasti nginapnya di hotel kota Jambi. Jadi alangkah sayangnya orang-orang itu katanya mendingan main ke seberang gitu. Jadi makanya orang-orang yang memang mau ke Muaro Jambi itu rata-rata mampir ke seberang gitu kan untuk menambah waktunya untuk pikniknya menjelang ke Candi Muaro Jambi.

Tribun Jambi: Ini bagian dari kekayaan budaya di Jambi, iya betul, dan itu banyak orang belum tahu. Makanya kami dari Melalar memang mulai untuk mengenalkan daripada kekayaan budaya yang ada di seberang, terutama religinya gitu dan juga yang lainnya. Ini yang menarik, kalau itu sampai dengan luar negeri kemudian luar Jambi, dari Jawa, kemudian Kalimantan, Sulawesi ya. Apa yang membuat mereka tertarik datang ke seberang kalau menurut abang-abang?

Bang Rico: Kalau menurut saya lebih ke rumah rumah panggung gitu kan. Jadi memang ketika kita tur itu mulai memasuki perkampungan menyusuri rumah-rumah gitu kan, jadi ketika orang melihat, "Wah ini mewah rumah ini pasti mahal," katanya kan. Merasa ada hal yang baru, ada yang baru pertama kali lihat, ada yang pertama kali mungkin mendengar rumah rumah panggung gitu kan. "Kenapa enggak ada air bawahnya?" padahal ini kan musim kata saya kan. Makanya kami jelasin di seberang tuh kalau banjirnya musiman gitu, pasti dalam 1 tahun ada satu kali iya sudah pasti.

Dan di bawah rumah panggung biasanya ada perahu. Jadi memang orang-orang luar tuh cuman ada juga saya kemarin dari terakhir itu tamu dari Australia itu menunjukkan rumah ini sama seperti rumah orang tuanya di Australia, rumah panggung. Oh ada kesamaan, kesamaan sekolahnya juga itu. Ada keunikan sekolah di yang di Nurul Iman itu arsitektur Nurul Iman, jadi empat pondok ini tadi beda-beda arsitekturnya, gedung-gedungnya itu berbeda. Dua lantai tapi kayak pakai kayu, nah ternyata ketika dia melihat yang dari Australia itu dilihatkannya, "Ini sama dengan sekolah saya, ini sama dengan rumah saya." Oh di sana juga rumah panggung dan berbahan kayu, kayu juga gitu berbentuk persegi.

Bang Zarwan: Dan juga di seberang itu rumahnya ada filosofi tersendiri gitu jadi bukan hanya dibikin rumah tapi seperti ada aturan yang tak tertulis. Misalnya di tangganya itu, di penaikan untuk tangganya itu ada ruang tempat khusus untuk cuci kaki sebelum memasuki sebelum naik tangga. Ada tempat cuci kaki, kemudian lagi ada tangga di belakang kalau ada acara itu khusus perempuan. Jadi perempuan naik dari belakang, oh iya gitu perempuan naik dari belakang, yang laki-laki di depan kalau ada acara biasanya itu acara yasinan kumpul-kumpul biasanya itu yang perempuan khusus di belakang gitu lewat tangga belakang langsung gitu.

Dan juga memang ada itu rumah kalau istilah kalau dulu mungkin itu rumah orang kayanya itu rumahnya dua lapis, dindingnya dua lapis, dinding kayunya dua lapis. Ada yang dari kayu ulin, dari kayu tembesu. Nah tuh jadi memang ada ciri-ciri khusus lah di seberang itu ketika mereka melihat, "Oh ini baru lihat saya rumah bentuk kayak gini gitu." Itu banyak membuat ini ya, wisatawan itu tertarik. Jadi memang ibarat kalau kita melihat mata kita melihat suatu hal yang indah itu pasti terkejut gitu kan, iya mewah gitu kan gitu.

Tribun Jambi: Model turnya mereka jalan kaki atau menggunakan sepeda atau menggunakan kendaraan atau seperti apa?

Bang Zarwan: Tergantung, tergantung request lah sebenarnya. Cuman kebanyakan kalau kami itu lebih enaknya tur berjalan kaki, jadi menikmati. Jadi berjalan sekitar 2 km itu kemudian berhenti di titik ini titik ini gitu. Tapi terkadang tidak terasa mereka apalagi kalau turnya sore, agak agak mendung ketika melihat rumah-rumah itu mereka terlena foto-foto, "Kok udah sampai aja gitu ke tujuan gitu kan?" Nah udah 2 jam lebih gitu kan.

Ada juga kita pakai bus kayak kemarin kita membawa Ibu Walikota Jambi sama Kepala Dinas Pariwisata itu pakai bus. Jadi kita cuma dari titik misalnya dari Kota Baru kami langsung lewat Auduri 2 langsung ke tujuan. Tujuan pertama kami di Pondok Pesantren Sa'adatuddaren kan itu satu jalur aja dari seberang enaknya. Jadi Sa'adatuddaren, kemudian lanjut lagi masuk lagi ke bus, lanjut lagi ke makam Habib Husein, masuk lagi ke bus. Pokoknya ketika di titik kita turun langsung melihat langsung. Akses jalan-jalan sudah bagus juga ya? Kalau sekarang sudah lebar, jalan sudah layaklah bisa kan gitu kan.

Tribun Jambi: Nah, Bang, targetan ke depan apa Bang, targetan dari Melalar ini?

Bang Rico: Kalau target dari Melalar ya kalau bisa Melalar menjadi komitmennya kuat untuk masyarakat seberang gitu kan. Yang mana ketika barang ini sudah dijadikan menjadi wadah gitu kan, alangkah baiknya lebih diperkokohkan lagi baik itu strukturnya, terus visi misi yang lebih jelas gitu kan. Sehingga masyarakat mengenal Melalar ini mempunyai identitas, jadi ketika orang mau ke Jambi ke Kota Jambi atau ke seberang dia ingin berwisata ingat langsung sama Melalar gitu kan, langsung ada tujuannya. Oke, mungkin dari Bang Zarwan ada?

Bang Zarwan: Iya, kalau dari saya ya dengan adanya Melalar ini ya salah satu cara kita untuk memperkenalkan budaya lokal terutama di seberang gitu. Apalagi kami sudah mulai berkoordinasi dengan pemerintahan dari Dinas Pariwisata, Kecamatan, dan memang mereka sangat mendukung dengan adanya Melalar ini. Dan kita juga ke depan itu inginnya banyak menjalin kerja sama terutama untuk membangkitkan UMKM, kemudian tempat-tempat yang memang nanti sudah layak kita untuk menjadikan tempat wisata kita bakal urus tempatnya, kemudian lagi kita koordinasi dengan pengelolanya gitu. Dan juga membangkitkan daripada UMKM yang ada di seberang gitu. Kalau sekarang kan datang ke seberang apa sih ya gitu kan, nah itu yang inginnya kita itu ketika mereka datang ada orang yang membawa mereka, mengarahkan mereka, ialah Melalar tadi. Dan itu juga kami kerja sama dengan masyarakat-masyarakat penggiat daripada UMKM seperti batik dan sebagainya gitu. Melalar ini bakal menghidupkan suasana seberang ya jadi orang ketika ke seberang tidak ragu-ragu lagi jadi ada tujuan gitu kan.

Tribun Jambi: Eh Bang Rico sebagai penutup, kami ingin Bang Rico membuat satu pantun silakan, Bang. Seberang dari seberang mantap-mantap pantunnya.

Bang Rico: Kalau pantun jujur saya belum bisa gitu kan cuman saya cobalah oke, oke. Jadi kalau sebenarnya pembukaan tadi tuh ada pantun kan, "Burung malam di atas batu, assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh." Kadang-kadang bukan ini kan lupa kan. Jadi kalau memang Jambi ini memang rajanya pantun kata ada orang dulu, "Nak dua pantun seiring," katanya kan. Terus jadi pantun ini memang dilestarikan harus kan, jadi mungkin langsunglah saya grogi nih.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.