WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Tanah longsor terjadi di Jalan Administrasi I, RT 001/RW 07, Bendungan Hilir, Tanah Abang, Jakarta Pusat, pada Jumat (26/6/2026) pagi.
Peristiwa tersebut menyebabkan satu rumah warga ambruk hingga rata tanah, sementara satu rumah lainnya mengalami kerusakan sebagian.
Pantauan Wartakotalive.com pada Jumat pukul 14.00 WIB menunjukkan rumah dua lantai bercat hijau itu hanya menyisakan puing-puing.
Bangunan yang berada tepat di tepi Kali Ciliwung tersebut runtuh ke arah bantaran kali.
Baca juga: Waspada! 9 Kecamatan di Jakarta Masuk Zona Rawan Longsor Selama Mei 2026
Area rumah kini telah dipasangi garis polisi berwarna kuning untuk menghindari warga mendekat.
Di sekitar lokasi juga tampak tumpukan sampah liar yang ikut longsor bersama dengan dinding kali.
Bau menyengat tercium dari gundukan sampah yang berada di samping rumah.
Tidak jauh dari lokasi terlihat sebuah alat berat ekskavator yang sebelumnya digunakan untuk melakukan pengerukan kali.
Baca juga: Jalan Putus 3 Tahun akibat Longsor dan Bikin Permukiman Terisolasi, Warga Ngadu ke Wali Kota Depok
Pemilik rumah, Ali Nugroho (44), mengatakan, keluarganya sebenarnya telah mengungsi beberapa hari sebelum rumah tersebut ambruk.
Keputusan itu diambil setelah muncul tanda-tanda pergeseran tanah sejak pertengahan Juni.
"Pada 19 Juni (Jumat) pagi itu sudah mulai ada pergeseran tanah, dari hari itu keluarga sudah saya ungsikan, Senin malam sekitar pukul 22.00 WIB semuanya sudah keluar dari rumah," kata Ali saat ditemui Wartakotalive.com, Jumat.
Menurutnya, rumah yang ditempati ibunya bersama seorang saudaranya itu mulai menunjukkan gejala retak dan miring setelah proyek pengerukan Kali Ciliwung dilakukan di sekitar lokasi sekitar sebulan terakhir.
Baca juga: Sejumlah Wilayah Jaksel dan Jaktim Rawan Longsor, Warga Diminta Waspada
Ali menduga pengerukan kali yang membuat kontur tanah berubah menjadi salah satu penyebab longsor.
Ia juga menyoroti aktivitas truk pengangkut sampah yang setiap hari melintas dan membuang muatan di lokasi pembuangan sampah liar yang berada persis di samping rumahnya.
"Mungkin karena normalisasi kali terlalu dalam, setelah beberapa hari ada pergeseran tanah, ditambah di atas ada tumpukan sampah dan tiap hari truk-truk yang berat itu masuk, bebannya besar sehingga tanah turun," ujarnya.
Tanda-tanda longsor sebenarnya sudah muncul sejak 18 Juni 2026 dan keesokan paginya tanah mulai bergeser.
Baca juga: Penjelasan KLH soal Mantan Kadis LH DKI Tersangka Kasus Longsor Bantargebang yang Tewaskan 7 Orang
"Pak Lurah dan Pak RW sudah mengetahui, kami juga sudah menyampaikan kondisi ini, tapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut dari instansi terkait yang menangani masalah teknis tanah," ucapnya.
Beruntung, saat rumah benar-benar ambruk pada Jumat pagi tidak ada penghuni yang berada di dalam bangunan.
Ali mengatakan, ibunya telah mengungsi ke rumah keluarga yang letaknya tidak jauh dari lokasi kejadian.
"Alhamdulillah tidak ada korban karena semua sudah mengungsi lebih dulu," katanya.
Baca juga: Eks Kepala Dinas LH Jadi Tersangka Longsor Bantargebang, Pemprov DKI Jakarta Beri Pendampingan Hukum
Meski sebagian barang berhasil diselamatkan, masih banyak harta bendanya yang tertinggal di lantai dua rumah karena kondisi bangunan sudah terlalu miring dan membahayakan untuk dimasuki.
"Barang yang di lantai atas seperti lemari tidak sempat diselamatkan karena kami takut rumahnya roboh sewaktu-waktu," ujarnya.
Secara keseluruhan terdapat dua rumah yang terdampak, namun satu rumah mengalami kerusakan sebagian.
Baca juga: Pembuangan Sampah Jakarta Terganggu Imbas Longsor Bantargebang
Setelah kejadian, sejumlah pejabat setempat, termasuk lurah beserta staf dan pengurus wilayah, meninjau lokasi.
Namun hingga kini, menurut Ali, belum ada kepastian mengenai langkah penanganan maupun bantuan yang akan diberikan.
Ia berharap ada tanggung jawab dari pihak terkait apabila nantinya terbukti longsor dipicu oleh aktivitas proyek maupun faktor lain yang dapat dipertanggungjawabkan.
Tumpukan Sampah
Ali juga menyoroti keberadaan tempat pembuangan sampah liar di samping rumahnya.
Menurutnya, tumpukan sampah beberapa waktu terakhir semakin menggunung karena pengangkutan sampah tidak dilakukan setiap hari setelah adanya gangguan operasional di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST).
"Ini bukan TPS resmi, masih pembuangan liar, sampah sering menumpuk sampai berhari-hari, ditambah truk-truk besar yang keluar masuk, menurut saya itu juga ikut memperparah kondisi tanah," katanya.
Saat ini lokasi longsor masih dipasangi garis polisi, sementara warga sekitar diminta waspada terhadap potensi pergerakan tanah susulan di kawasan bantaran Kali Ciliwung tersebut. (m27)