TRIBUNBATAM.id - Warga Jalan Candi Lontar, Lakarsantri, Surabaya, Jawa Timur geger setelah menemukan jenazah seorang nenek berinisial WI (69) meninggal dunia secara tidak wajar di dalam rumahnya pada Selasa, 23 Juni 2026 sore.
Jasad korban pertama kali ditemukan oleh anak kandungnya, Ani, yang baru saja pulang kerja.
Saat ditemukan, korban dalam posisi telungkup tanpa busana di antara batas ruang tamu dan ruang dalam.
Kejanggalan menguat karena adanya luka memar menghitam di kedua pergelangan tangan dan wajah korban, serta hilangnya ponsel dan dompet milik korban.
Saat ini, Polrestabes Surabaya sedang melakukan penyelidikan mendalam dan menunggu hasil otopsi resmi untuk mengungkap penyebab pasti kematian lansia yang dikenal ramah tersebut.
Dikenal Ramah dan Tidak Punya Musuh
Kematian WI menyisakan duka mendalam bagi warga di Jalan Candi Lontar.
Di mata tetangga, korban dikenal sebagai sosok lansia yang sangat baik, ramah, dan tidak pernah memiliki konflik dengan siapa pun.
"Beliau itu baiknya sama warga juga menyapa, saling sapalah, enggak pernah ada pertengkaran di antara tetangga di situ juga. Dan juga sama anaknya juga tidak ada pertengkaran," kenang Ketua RT.
Diketahui, korban tinggal bersama kedua anaknya yang sehari-hari bekerja dari pagi hingga sore.
Pada hari kejadian, rumah dalam keadaan kosong karena cucu korban sedang bermain di rumah temannya lantaran libur sekolah.
Korban sendiri dulu sempat membuka toko kelontong kecil-kecilan di rumahnya, namun sudah tutup sejak satu atau dua tahun terakhir.
Kronologi Penemuan Jasad Korban di Candi Lontar Surabaya
Peristiwa tragis ini bermula ketika anak pertama korban, Ani, pulang kerja sekitar pukul 17.00 WIB.
Saat tiba di rumah, ia mendapati pintu pagar dan pintu rumah dalam kondisi tertutup rapat.
Namun, saat masuk ke dalam rumah, ia mendapati ibunya sudah terbujur kaku.
Ani yang syok segera berlari ke rumah Ketua RT setempat untuk meminta bantuan.
Ketua RT pun membenarkan adanya laporan insiden tersebut.
"Memang di hari Selasa kemarin di tempat kami ada kejadian yang meninggal tidak wajar. Yang pertama kali menemukan anaknya, setelah itu lapor ke saya bahwasanya ibunya meninggal," ujar Ketua RT saat memberikan keterangan, dikutip dari tayangan YouTube SURYA.co.id.
Mendengar laporan itu, Ketua RT bersama tenaga medis lokal langsung menuju lokasi kejadian.
Karena melihat adanya kejanggalan yang nyata, mereka memilih untuk tidak menyentuh jasad korban dan segera menghubungi pihak kepolisian.
Baca juga: Kronologi Nenek Nurhayati Hilang di Lingga, Sempat ke Kandang Ayam lalu Kembali ke Rumah
Kondisi TKP Rapi, Polisi Temukan Luka Lebam dan Lakban Misterius
Berdasarkan pemeriksaan awal di tempat kejadian perkara (TKP), posisi tubuh korban berada di area transisi ruangan rumah.
Ketua RT membeberkan secara detail kondisi pertama kali saat korban dievakuasi warga dan petugas.
"Jadi korban posisinya telungkup, diakses dari ruang tamu ke dalam. Telungkup di situ, kakinya di posisi di ruang tamu, badannya sudah masuk ke ruang dalam. Jadi posisi telungkup dan keadaan pertama kali ditemukan tanpa busana," jelas Ketua RT.
Selain posisi korban yang mencurigakan, ditemukan juga tanda kekerasan fisik berupa bekas luka menghitam pada kedua pergelangan tangan korban.
"Tangannya itu ada kayak semacam bekas ada luka bakar gitu mungkin, jadi ada menghitam gitu. Tangan pergelangannya dua-duanya menghitam. Itu aja yang waktu pertama kali kita lihat. Itu yang jadi ciri kenapa kami melihat itu janggal," tambah Ketua RT.
Selain luka di tangan dan wajah, petugas juga menemukan sepotong lakban misterius berukuran sekitar 15 hingga 30 sentimeter di sekitar jasad korban.
Anehnya, kondisi perabotan di dalam rumah justru tampak rapi, tanpa ada tanda-tanda penggeledahan paksa atau barang berserakan.
"Waktu saya masuk itu memang posisi mulai dari meja sampai di lemari sampai di sekitarnya korban itu tidak ada barang yang jatuh ataupun barang yang berserakan, jadi posisi rapi," kata Ketua RT.
Dugaan Perampokan: Ponsel dan Dompet Korban Raib
Meski kondisi rumah sangat rapi, pihak keluarga menyadari adanya beberapa barang berharga milik korban yang hilang dari tempat penyimpanan semula.
"Kemarin sempat dicari adalah handphone. Jadi handphone-nya kemarin sudah dicari, ditelepon itu memanggil (aktif), jadi posisinya mungkin sudah off (setelah itu). Terus juga mencari dompetnya itu juga enggak ditemukan, dua-duanya benda itu yang dicari kemarin," ungkap Ketua RT.
Menurut keterangan warga, dompet yang hilang tersebut biasanya berisi uang tunai untuk keperluan belanja sehari-hari.
Hilangnya barang-barang berharga ini memperkuat dugaan adanya keterlibatan pihak luar yang sengaja mengincar korban.
Baca juga: Dihujan Batu Cor dan Sabetan Sabuk, 1 Pemuda Tewas dan 3 Luka Berat Dikeroyok di Nganjuk
Teka-teki Kasus Kematian WI di Surabaya
Kasus ini menyajikan teka-teki yang cukup rumit bagi penyidik Polrestabes Surabaya.
Di satu sisi, hilangnya ponsel dan dompet, serta adanya luka lebam dan lakban mengarah kuat pada indikasi tindak pidana pencurian dengan kekerasan (curas) atau pembunuhan.
Luka menghitam di pergelangan tangan diduga berasal dari upaya pengikatan paksa.
Namun di sisi lain, kondisi rumah yang tetap rapi dan pintu yang terkunci rapat memicu spekulasi lain.
Ada kemungkinan pelaku adalah orang yang mengenal situasi rumah, atau korban secara sukarela membukakan pintu sehingga tidak terjadi kepanikan maupun kerusakan perabotan.
Hingga saat ini, kepastian hukum dan motif utama di balik peristiwa ini masih menunggu hasil penyelidikan ilmiah (scientific crime investigation) serta hasil otopsi dari tim dokter forensik Polrestabes Surabaya.
Pihak keluarga menyatakan telah sepakat untuk menyerahkan sepenuhnya kasus ini kepada kepolisian agar misteri kematian sang ibu bisa segera terungkap secara adil.
(TribunBatam.id)