TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Terbentur saat terjatuh, mengalami kecelakaan lalu lintas, atau terkena benda keras di kepala sering kali dianggap tidak berbahaya jika tidak terlihat ada luka atau darah.
Padahal, benturan pada kepala dapat menimbulkan cedera serius di dalam otak yang tidak langsung terlihat dari luar. Karena itulah, setiap trauma kepala perlu mendapat perhatian serius.
Tidak hanya luka di kulit kepala yang harus diperiksa, tetapi juga kemungkinan adanya perdarahan, gangguan pada otak, hingga cedera pada leher yang menyangga kepala.
Direktur Bethsaida Hospital Serang, dr. Tirta Mulya Juandi, menjelaskan bahwa benturan pada kepala selalu melibatkan perpindahan energi yang dapat menimbulkan kerusakan di bagian dalam kepala.
Menurut dr. Tirta, prinsip cedera kepala dapat dijelaskan melalui perpindahan energi.
Saat kepala menerima benturan, energi dari luar tidak hilang begitu saja. Energi tersebut diteruskan menuju bagian dalam kepala.
Tulang tengkorak memang kuat, tetapi energi benturan tetap akan diteruskan menuju jaringan otak.
Besarnya kerusakan bergantung pada seberapa besar energi yang diterima dan bagaimana kondisi jaringan otak saat benturan terjadi.
Akibatnya, seseorang dapat mengalami perdarahan di dalam otak maupun di ruang-ruang yang mengelilingi otak.
Pada beberapa kasus, kondisi ini tidak langsung terlihat dari luar. Karena itu, seseorang yang tampak masih sadar setelah kecelakaan belum tentu benar-benar aman.
Baca juga: Tak Semua Cedera Kecelakaan Terlihat dari Luar, Dokter Beberkan Organ yang Paling Berisiko
Tirta menjelaskan bahwa tidak semua pasien dengan trauma kepala mengalami perdarahan.
Ada pula pasien yang tidak menunjukkan perdarahan pada pemeriksaan awal, tetapi tetap mengalami gangguan fungsi otak.
"Sering pada beberapa kasus, tidak tampak pendarahan, tapi kelainannya ada," ungkap Tirta saat peluncuran Trauma Center Bethsaida Hospital Serang, Banten, Jumat (26/6/2026).
Kondisi seperti inilah yang membuat pemeriksaan menyeluruh menjadi penting, terutama bila pasien mengalami benturan cukup keras atau muncul keluhan setelah kecelakaan.
Selain memeriksa kepala, dokter juga harus memastikan tidak ada cedera pada leher.
Menurut Tirta, kepala memiliki ukuran dan berat yang jauh lebih besar dibandingkan leher sebagai penyangganya.
Akibat benturan keras, tulang maupun struktur pada leher dapat mengalami pergeseran yang berisiko menekan saraf.
Karena itu, pada setiap kasus trauma kepala, pemeriksaan leher menjadi bagian yang tidak boleh diabaikan.
Penanganan yang terlambat dapat meningkatkan risiko gangguan saraf hingga kelumpuhan.
Baca juga: Stroke dan Jantung Sering Tanpa Gejala, Kenali 4 Indikator Kesehatan Utama Sebelum Terlambat
Benturan pada wajah juga menjadi salah satu cedera yang cukup sering ditemukan, terutama akibat kecelakaan lalu lintas.
Trauma dapat menyebabkan patah tulang hidung, rahang atas, rahang bawah, hingga cedera pada rongga mata.
Dalam kondisi tertentu, penanganannya tidak cukup dilakukan oleh satu dokter spesialis.
Beberapa kasus memerlukan kerja sama dokter bedah saraf, dokter THT, dokter bedah mulut, dokter ortopedi, hingga dokter spesialis mata.
"Kasus-kasus tadi itu baik perdarahan, kita sudah sering menangani, bahkan sampai kasus-kasus ini juga dioperasi sampai 3 dokter," lanjut Tirta.
Kolaborasi tersebut diperlukan karena cedera pada wajah sering mengenai lebih dari satu struktur tubuh dalam waktu bersamaan.
Cedera mata juga menjadi perhatian pada kasus trauma.
Tirta mencontohkan pengalaman menangani pasien yang matanya terkena serpihan aluminium saat bekerja.
Meski ukurannya kecil, serpihan logam dapat masuk hingga bagian belakang bola mata dan memerlukan penanganan segera oleh dokter mata yang memiliki kompetensi khusus pada retina.
Penanganan cepat menjadi kunci untuk mempertahankan fungsi penglihatan pasien.
Menurut Tirta, penanganan trauma kepala tidak berhenti setelah pasien berhasil melewati fase kritis.
Yang tidak kalah penting adalah mencegah kerusakan otak yang dapat menyebabkan kecacatan permanen dan menurunkan kualitas hidup pasien.
Karena itu, pemeriksaan penunjang, penanganan cepat, serta kolaborasi berbagai dokter spesialis menjadi bagian penting dalam setiap kasus trauma kepala.
Cedera yang terlihat ringan di luar belum tentu ringan di dalam.
Itulah sebabnya benturan pada kepala tidak boleh dianggap sepele, terutama jika terjadi setelah kecelakaan, jatuh dari ketinggian, atau terkena benturan keras.
Pemeriksaan sejak dini dapat membantu dokter menemukan cedera yang tidak tampak, sehingga penanganan dapat dilakukan sebelum kondisi berkembang menjadi lebih berat.