Oleh: Yocerizal *)
JUJUR saja, tempat pengolahan sampah bukanlah lokasi yang saya bayangkan akan meninggalkan kesan mendalam dalam perjalanan ke Tiongkok.
Ketika mendengar agenda kunjungan ke sebuah pabrik pengolah sampah di Chongqing, yang terlintas di benak saya adalah tumpukan sampah, bau menyengat, dan lingkungan yang kumuh.
Namun anggapan itu runtuh sesaat setelah saya memasuki kawasan Chongqing Sanfeng Yulin Environmental Energy Project, Selasa (23/6/2026).
Tidak ada bau sampah. Tidak ada pemandangan kumuh.
Sebaliknya, kawasan pabrik yang berdiri di atas lahan sekitar 18 hektare itu terlihat bersih, rapi, dan modern. Dari halaman pabrik, perbukitan hijau yang mengelilingi Chongqing tampak membentang di kejauhan.
Sulit membayangkan tempat setenang itu merupakan salah satu fasilitas pengolahan sampah menjadi energi terbesar di kota metropolitan berpenduduk lebih dari 30 juta jiwa tersebut.
Kunjungan itu difasilitasi Konsulat Jenderal Republik Rakyat Tiongkok di Medan dan diikuti 14 peserta, terdiri atas wartawan dari berbagai media di Sumatera.
Rombongan turut didampingi Wakil Konsul Jenderal Tiongkok di Medan, Yu Lei, serta Ketua Harian Perhimpunan Masyarakat Indonesia Tionghoa Sumatera Utara (MITSU), Juswan Tjoe.
Setibanya di lokasi, rombongan disambut Sophie Yang, Director of International Business Division Chongqing Sanfeng Environment Group Corp., Ltd., yang memandu kami berkeliling fasilitas.
Baca juga: Wali Kota Sabang Rotasi 20 Pejabat, Zulkifli Tekankan Peningkatan Kinerja Pelayanan Publik
Baca juga: Longsor Terjang 2 Rumah di Sabang, 5 Warga Terluka dan Dilarikan ke RSUD
Perjalanan dimulai dari ruang pamer dan pusat edukasi lingkungan. Di salah satu dinding terpampang sebuah kalimat sederhana.
"Waste is the resource in wrong place" (Sampah adalah sumber daya yang berada di tempat yang salah).
Kalimat itu ternyata bukan sekadar slogan.
"Bagi kami, sampah bukan sesuatu yang harus dibuang. Sampah adalah sumber daya yang dapat diolah kembali menjadi energi yang bermanfaat bagi masyarakat," ujar salah seorang perwakilan Sanfeng Environment saat memaparkan konsep pengelolaan sampah kepada rombongan.
Filosofi itu menjadi dasar pengembangan perusahaan yang memulai kiprahnya pada 1998 di bidang pengolahan sampah dan teknologi pembangkit listrik tenaga sampah.
Dua tahun kemudian, Sanfeng menjadi pelopor di Tiongkok dengan memperkenalkan teknologi pembangkit listrik tenaga sampah SITY2000 dari Martin GmbH, Jerman, sebelum akhirnya mengembangkan teknologi tersebut secara mandiri.
Kini Sanfeng Environment menjadi salah satu perusahaan pengolah sampah menjadi energi terbesar di Tiongkok.
Perusahaan milik negara itu telah berinvestasi pada 56 proyek pembangkit listrik tenaga sampah di dalam negeri dengan kapasitas pengolahan sekitar 60.900 ton sampah rumah tangga per hari.
Teknologi dan peralatannya juga diterapkan pada 433 jalur insinerasi di 268 proyek di 12 negara dengan kapasitas pemrosesan lebih dari 240 ribu ton sampah setiap hari.
Dari ruang pamer, saya diajak melihat langsung area operasional. Di sinilah saya mulai memahami skala sebenarnya dari fasilitas tersebut.
Sekitar 150 truk keluar masuk kompleks pabrik setiap hari membawa sampah rumah tangga dari berbagai kawasan Chongqing.
Pabrik Yulin memiliki empat jalur pembakaran dengan kapasitas masing-masing 750 ton per hari. Artinya, sekitar 3.000 ton sampah diproses setiap harinya.
Namun yang menarik, saya tidak melihat tumpukan sampah di area terbuka sebagaimana lazimnya tempat pembuangan sampah. Seluruh sampah langsung diarahkan menuju bunker penampungan sebelum diolah.
Dari ruang observasi, saya melihat derek raksasa bergerak tanpa henti mengangkat dan mencampur sampah sebelum memasukkannya ke dalam tungku pembakaran.
Pemandangan itu mengubah cara pandang saya. Gunungan sampah yang biasanya dianggap sebagai persoalan perkotaan justru menjadi bahan baku utama pembangkit listrik.
Teknologi menjadi jantung seluruh proses di fasilitas ini.
Sistem kontrol cerdas memanfaatkan kecerdasan buatan (AI), lidar, pemindaian tiga dimensi (3D), serta Industrial Internet of Things (IIoT) untuk mengatur proses pengolahan sampah secara otomatis, mulai dari pengoperasian derek hingga pengendalian pembakaran.
AI memantau suhu tungku, komposisi sampah, tekanan boiler, efisiensi turbin, hingga kualitas emisi secara real time sehingga proses pembakaran berlangsung optimal.
Karena sebagian besar pekerjaan dilakukan secara otomatis, fasilitas seluas 18 hektare ini hanya mempekerjakan sekitar 80 orang.
Baca juga: Aceh Besar Masuk Daftar Wilayah Waspada, BMKG Warning Potensi Hujan Lebat dan Angin Kencang
Baca juga: Update Gempa Dahsyat Guncang Venezuela: 235 Orang Tewas, Tim SAR Kewalahan Evakuasi Korban
Besarnya skala fasilitas itu juga tercermin dari nilai investasinya.
"Pembangunan proyek ini menelan investasi sekitar 2 miliar yuan atau setara sekitar 300 juta dolar Amerika Serikat," ujar Sophie Yang.
Perjalanan kemudian berlanjut ke bagian yang menjadi inti seluruh operasi. Saya melihat bagaimana sampah yang telah ditampung di bunker dimasukkan ke dalam tungku pembakaran bersuhu tinggi.
Panas yang dihasilkan digunakan untuk memanaskan air hingga berubah menjadi uap bertekanan tinggi. Uap itulah yang memutar turbin dan generator sehingga menghasilkan energi listrik.
Di Chongqing, sampah tidak lagi berakhir di tempat pembuangan akhir. Sampah menjadi bahan bakar.
Ternyata pemanfaatan sampah tidak berhenti sampai di situ.
Saat saya menanyakan nasib abu yang tersisa setelah proses pembakaran, pihak perusahaan menjelaskan bahwa residu pembakaran yang telah melalui proses pengolahan masih dapat dimanfaatkan sebagai bahan untuk kebutuhan konstruksi.
Antara lain sebagai material campuran jalan dan sejumlah pekerjaan konstruksi lainnya.
Pertanyaan yang muncul di benak saya adalah soal polusi. Bagaimana mungkin ribuan ton sampah dibakar setiap hari tanpa menimbulkan pencemaran? Jawabannya terdapat pada sistem pengolahan emisi.
Gas hasil pembakaran tidak langsung dilepaskan ke atmosfer, melainkan terlebih dahulu melewati teknologi pemrosesan gas buang yang mampu menghasilkan emisi di bawah sepersepuluh standar Uni Eropa 2010.
Sementara itu, cairan lindi hasil rembesan sampah juga diolah melalui instalasi khusus sebelum dimanfaatkan kembali atau dibuang sesuai standar lingkungan.
Mungkin karena itulah saya tidak mencium aroma sampah sedikit pun sepanjang kunjungan berlangsung.
Bagian paling berkesan justru datang di penghujung perjalanan. Setelah melihat seluruh proses pengolahan sampah, saya bersama rombongan diajak menuju bagian atas cerobong utama pabrik.
Lift membawa kami naik hingga ketinggian sekitar 79 meter. Sesampainya di atas, lanskap perbukitan Chongqing dengan hutannya yang hijau terbentang luas.
Di tempat itulah pihak perusahaan menjamu rombongan dengan secangkir kopi dan makanan ringan.
Sambil menyeruput kopi, saya memandangi kota Chongqing dari atas cerobong yang menjadi bagian akhir dari proses pengolahan sampah.
Sulit membayangkan bahwa tepat di bawah tempat saya berdiri, sekitar 3.000 ton sampah rumah tangga sedang diproses setiap hari menjadi energi listrik.
Momen itu terasa kontras sekaligus mengesankan. Di bawah terdapat gunungan sampah yang menjadi bahan bakar pembangkit listrik.
Di atasnya, saya menikmati secangkir kopi sambil memandang sebuah kota modern yang berhasil mengubah salah satu persoalan terbesarnya menjadi sumber energi.
Kunjungan ke Chongqing Sanfeng Yulin Environmental Energy Project memberi saya satu pelajaran sederhana. Persoalan sampah tidak selalu harus berakhir di tempat pembuangan akhir.
Dengan investasi besar, teknologi modern, kecerdasan buatan, serta tata kelola yang baik, sampah dapat diubah menjadi sumber daya yang bernilai.
Di Chongqing, sampah bukan lagi sekadar limbah yang harus dibuang. Sampah adalah bahan bakar. Sampah adalah energi.
Dan dari atas cerobong setinggi 79 meter itu, saya menyaksikan sendiri bagaimana gunungan sampah dapat berubah menjadi listrik yang membantu menerangi sebuah kota.(*)
*) PENULIS adalah jurnalis Serambinews.com (Serambi Indonesia) yang mengikuti program kunjungan media ke Chongqing dan Beijing, Tiongkok, pada Juni 2026.
Baca juga: Iran Kembali Serang Kapal Kargo di Selat Hormuz, Kesepakatan Damai dengan AS Terancam
Baca juga: VIDEO - Bupati Tarmizi Tes Urine Mendadak ke Seluruh Peserta JPT di Aceh Barat