Hubungan Tiongkok-Indonesia Tertinggi Dalam Sejarah, Investasi Mulai Berkembang ke Wilayah Sumatera
Yocerizal June 27, 2026 08:03 AM

SERAMBINEWS.COM, BEIJING – Pemerintah Tiongkok menyatakan hubungan bilateral dengan Indonesia saat ini berada pada titik tertinggi sepanjang sejarah.

Hubungan yang semakin erat itu ditandai dengan intensitas komunikasi para pemimpin kedua negara serta semakin luasnya kerja sama di berbagai bidang.

Hal tersebut disampaikan Kepala Divisi Urusan Asia Tenggara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Xiang Fangqiang, saat menerima rombongan jurnalis dari Sumatera, Indonesia, dalam pertemuan silaturahmi di Beijing, Kamis (26/6/2026).

Menurut Xiang, Presiden Prabowo Subianto telah berkunjung ke Tiongkok sebanyak tiga kali dalam dua tahun terakhir. Intensitas kunjungan itu mencerminkan eratnya hubungan kedua negara.

"Kedua pemimpin memiliki hubungan pribadi yang sangat erat dan kepercayaan yang tinggi. Kami telah mencapai konsensus untuk membangun komunitas Tiongkok-Indonesia dengan masa depan bersama," ujarnya.

Xiang Fangqiang mengatakan, kemitraan strategis Indonesia dan Tiongkok dibangun di atas lima pilar kerja sama, yakni politik, ekonomi, sosial budaya, keamanan, dan maritim.

Di sektor ekonomi, Xiang menyebut Tiongkok telah menjadi mitra dagang terbesar Indonesia selama 13 tahun berturut-turut sekaligus investor asing terbesar di Indonesia. 

Investasi Tiongkok kini tidak lagi terpusat di Pulau Jawa, tetapi mulai berkembang ke berbagai daerah, termasuk kawasan Sumatera.

Salah satu simbol keberhasilan kerja sama kedua negara adalah proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh) yang dibangun melalui skema Belt and Road Initiative (BRI). 

Menurut Xiang, proyek tersebut menjadi contoh konkret kemitraan strategis antara Indonesia dan Tiongkok.

Baca juga: Melihat Wajah Chongqing dari Atas Kapal, Kota Metropolitan di Tepi Dua Sungai

Baca juga: Dibom 200 Kali, Chongqing Menolak Melupakan Sejarah

Ke depan, kedua negara juga akan menyelaraskan Rencana Pembangunan Lima Belas Tahun ke-15 Tiongkok dengan visi Indonesia Emas 2045. 

Fokus kerja sama diarahkan pada pengembangan energi baru, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), ekonomi digital, serta hilirisasi sumber daya alam.

Bebas Visa Transit

Dalam kesempatan itu, Xiang mengumumkan pemerintah Tiongkok kini memberlakukan kebijakan bebas visa transit selama 10 hari atau 240 jam bagi warga negara Indonesia. 

Kebijakan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kunjungan wisatawan, pelaku usaha, maupun masyarakat Indonesia ke Tiongkok.

"Pintu Tiongkok akan semakin terbuka. Kami menyambut lebih banyak sahabat dari Indonesia untuk datang, melihat langsung, dan merasakan perkembangan Tiongkok," katanya.

Dalam sesi diskusi, perwakilan wartawan dari Sumatera Barat membagikan pengalamannya saat berkunjung ke Tiongkok sekitar sepuluh tahun lalu. 

Ia menilai kebijakan Tiongkok terhadap kunjungan jurnalis dan tokoh agama kini jauh lebih terbuka dibandingkan sebelumnya, termasuk dalam kemudahan memperoleh visa.

Menanggapi hal tersebut, Xiang mengatakan perubahan itu merupakan bagian dari komitmen Tiongkok untuk terus memperluas keterbukaan tingkat tinggi terhadap dunia luar. 

Menurutnya, pemerintah Tiongkok ingin semakin banyak masyarakat internasional datang dan melihat langsung perkembangan negaranya.

Ia pun mengajak para jurnalis Indonesia untuk tidak hanya mengunjungi Beijing, tetapi juga kota-kota lain seperti Hangzhou dan Shenzhen yang dikenal sebagai pusat inovasi teknologi.

"Tiongkok adalah negara yang besar, bagaikan buku yang tidak akan selesai kita baca. Untuk memahaminya, kita harus melihat langsung di lapangan," ujarnya.

Baca juga: Asrama Haji Siapkan Kamar hingga Fasilitas Manasik, Dukung Penerbangan Umrah Langsung

Baca juga: Menikmati Secangkir Kopi di Atas Cerobong, Menyaksikan Sampah Menjadi Listrik

Xiang berharap media Indonesia dapat menjadi jembatan yang memperkuat saling pengertian masyarakat kedua negara melalui penyampaian informasi yang seimbang dan objektif mengenai perkembangan Tiongkok.

Isu Umat Islam Tiongkok

Menanggapi isu mengenai umat Islam di Tiongkok, Xiang berharap umat Islam Indonesia jangan terjebak stigmatisasi yang dilakukan oleh media barat.

Ia bahkan mengajak umat muslim Indonesia untuk datang melihat langsung bagaimana sebenarnya kondisi kehidupan umat muslim Tiongkok.

Selama ini, untuk membantah stigma tersebut, pihaknya mengaku telah menjalin hubungan baik dengan organisasi Islam terbesar di Indonesia, seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. 

Pemerintah Tiongkok juga secara rutin mengundang para ulama Indonesia untuk berkunjung, termasuk ke Xinjiang.

"Setelah berkunjung langsung ke Xinjiang, banyak tamu Muslim Indonesia yang mengaku kagum. Kenyataannya sama sekali tidak seperti apa yang digambarkan media Barat. Itu semua adalah stigmatisasi," tegasnya.

Pada bagian akhir paparannya, Xiang menilai situasi global saat ini semakin kompleks. Namun, menurutnya, Asia tetap menjadi kawasan yang stabil dan memiliki semangat kerja sama yang kuat. 

Xiang juga memperkenalkan empat inisiatif global yang diusung Tiongkok, yakni Global Development Initiative (GDI), Global Security Initiative (GSI), Global Civilization Initiative (GCI), dan Global Governance Initiative (GGI), yang disebutnya sebagai kontribusi Tiongkok dalam mewujudkan tata kelola dunia yang lebih adil dan inklusif.

"Kami siap bekerja sama dengan Indonesia untuk meningkatkan solidaritas, kerja sama, dan pengaruh kita di kawasan maupun global," katanya.

Pertemuan yang berlangsung hangat tersebut diakhiri dengan harapan agar hubungan Indonesia dan Tiongkok, termasuk kerja sama antardaerah, terus diperkuat. 

Konsulat Jenderal Tiongkok di Medan, menurut Xiang, siap memfasilitasi berbagai bentuk kerja sama dan komunikasi langsung antara pemerintah daerah di Indonesia dengan mitranya di Tiongkok.(*)

Baca juga: Wali Kota Sabang Rotasi 20 Pejabat, Zulkifli Tekankan Peningkatan Kinerja Pelayanan Publik

Baca juga: Longsor Terjang 2 Rumah di Sabang, 5 Warga Terluka dan Dilarikan ke RSUD

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.