Rekam Medis Penanganan Kasus Bayi Baru Lahir Meninggal versi RSUD Putussibau, Manajemen: Sesuai SOP
Faiz Iqbal Maulid June 27, 2026 08:31 AM

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KAPUAS HULU - Manajemen RSUD dr Achmad Diponegoro Putussibau, Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat buka suara soal kasus viral bayi meninggal usai dilahirkan pada 21 Juni 2026 lalu.

Sebelumnya, seorang bayi laki-laki yang baru lahir secara sesar dari pasangan suami istri yaitu Susanto dan Vetronela Susi asal warga Desa Nanga Tubuk Kecamatan Kalis, harus menghembus napas terakhirnya, di RSUD dr Achmad Diponegoro Putussibau, Minggu 21 Juni 2026.

Kedua pasangan suami istri tersebut, merasa kecewa atas pelayanan dari RSUD dr Achmad Diponegoro Putussibau. 

Manajemen mengklaim sudah memberikan pelayanan kesehatan terhadap pasien tersebut, sesuai dengan standarisasi operasional (SOP).

Direktur RSUD dr Achmad Diponegoro Putussibau, Paulus Miki, juga memastikan, berdasarkan dengan kronologi bahwa pelayanan kesehatan yang diberikan petugas medis sudah sesuai dengan SOP.

"Pastinya kita tidak padang siapa orangnya, semua datang berobat ke RSUD dr Achmad Diponegoro Putussibau, tetap dilayani dengan sebaik-baiknya, sesuai dengan SOP," ujarnya dari keterangan yang diterima TribunPontianak.co.id, Jumat 26 Juni 2026.

Untuk lebih memastikan kronologi, RSUD dr Achmad Diponegoro Putussibau kronologi rekam medis kelahiran bayi tersebut.

• Fakta Kasus Bayi Baru Lahir Meninggal di RSUD Putussibau yang Viral di Medsos

Kronologi Penanganan Bayi versi RSUD dr Achmad Diponegoro Putussibau

1. Sabtu 20 Juni 2026

17.17 WIB 

Bayi lahir melalui operasi sesar dari ibu Vetronela Susi (29 tahun, hamil 38–39 minggu, diagnosa hipertiroid, letak muka, lilitan tali pusat 2x di leher, IUGR dengan berat 1.788 gram).

Saat lahir bayi tidak bernapas, tubuh membiru (sianosis). Dilakukan ventilasi tekanan positif (VTP) selama ±15 menit. 

Setelah 1 menit bayi mulai bernapas satu-satu, merintih, refleks gerak minim. 

Dipasang oksigen 2 Lpm via nasal kanul. TTV: HR 158x/m, RR 15x/m, T 35°C, SpO2 51 persen.

17.50 WIB

Bayi dipindahkan ke ruang PIA. Kondisi sangat lemah. TTV: HR 162x/m, RR 56x/m, T 36,4°C, SpO2 92 % .

19.35 WIB

Setelah 2 jam observasi, kondisi tetap lemah. TTV: HR 160x/m, RR 62x/m, T 36,5°C, SpO2 90 % .

Instruksi dr. Adek Sp.A

Pasang UVC, oksigen nasal kanul, infus D10/5 % , antibiotik (Ampicillin, Gentamicin), Aminophylin, pasang NGT, puasa, cek laboratorium.

Keluarga setuju terapi.

21.00–23.30 WIB

Dilakukan pemasangan UVC oleh dr. Jusenda, bayi dipindahkan ke inkubator, dipasang monitor dan infus pump. Diberikan terapi Ampicillin, Aminophylin, Gentamicin. SpO2 sempat turun hingga 66 % , dipasang NRM 10 Lpm.
 
2. Minggu 21 Juni 2026

00.00 WIB 

Kondisi sangat lemah, sesak, SpO2 88 % , HR 117x/m, RR 72x/m.

Dilaporkan ke dr. Adek, Sp.A. Oksigen diganti NRM, SpO2 naik 88–95 % .

02.41 WIB

Bayi mengalami sianosis dan kejang. Dokter memberi instruksi terapi phenobarbital (sibital).

03.00–04.00 WIB

Kondisi tetap lemah, saturasi oksigen fluktuatif 66–90 % .

06.00–09.00 WIB

Bayi sangat lemah, sesak, gerak minim, saturasi 78–80 % . Keluarga diberi penjelasan kondisi kritis.

10.16 WIB

Konfirmasi obat phenobarbital masih tersedia 1 ampul.

12.00–15.00 WIB

Kondisi tetap lemah, koma, saturasi 89–95 % . Diberikan terapi tambahan sibital.

17.20 WIB

Kondisi menurun drastis, bayi mengalami apnea. Dilakukan bagging dan resusitasi jantung paru (RJP). Saturasi turun hingga 36 % .

17.27–17.34 WIB

Dokter Asri Anisa hadir, dilakukan RJP berulang dan pemberian epinefrin.

17.50 WIB

Bayi dinyatakan meninggal dunia di hadapan keluarga.

• Kronologi Bayi Meninggal di RSUD Putussibau, Rumah Sakit Tegaskan Pelayanan Sesuai SOP

Kronologi Persalinan Versi Orang Tua Bayi

Susanto yang didampingi istrinya bernama Vetronela Susi, menceritakan pada Jumat 19 Juni 2026 sekitar pukul 23.30 WIB, dirinya membawa istri ke rumah sakit.

"Saya membawa istri ke rumah sakit setelah berkonsultasi ke klik Apotik Mura Putussibau, bahwa harus melahirkan secara sesar dan menurut dokter, kondisi bayi dalam kandungan sehat," ujarnya.

Terus saat tiba di rumah sakit, kondisi istrinya sudah darurat mau melahirkan dan sempat dirawat inap sambil menunggu jadwal operasi dari dokter.

"Saat itu kami belum tahu kapan jadwal operasi, tidak ada dijelaskan oleh petugas, sehingga terkatung-katung menunggu jadwal operasi, sampai istri saya sudah mengeluarkan cair daerah, di tempat tidur," ucapnya.

Seharusnya menurut Susanto, istrinya diutamakan untuk mendapatkan penanganan pelayanan operasi, karena sudah kondisi darurat. 

"Terus saat di ruangan, infus tidak jalan, dan perawat bilang tidak apa-apa. Pada hal kondisi sudah darurat," ujarnya dengan kondisi penuh kecewa.

Ibu bayi tersebut, Vetronela Susi menambahkan dirinya masuk dalam ruangan tunggu operasi, Sabtu 20 Juni 2026 sekitar pukul jam 12.40 siang, dan operasi sekitar 16.53 WIB.

Pada pukul 17.17 WIB sore, bayi keluar, dalam kondisi lemah, dan tidak bersuara sekitar 15 menit, sehingga dilarikan ke ruangan NICU, dan setelah itu ada perubahan kondisi bayi. 

"Pada saat bayi sudah keluar dari perut, saya mendengar, sempat dokter bilang bayi sudah buang air besar dalam perut," ujar ibu muda itu, dengan kondisi belum sembuh luka operasi sesar tersebut.

Tak lama kemudian, pada Minggu 21 Juni 2026, kondisi kesehatan bayi menurun, hingga sempat terjadi kejang-kejang, dan petugas meminta orang tua bayi untuk mencari obat phenobarbitol, ternyata rumah sakit tidak ada obat tersebut.

Setelah mencari keluar obat kejang-kejang itu, namun tidak kunjung didapatkan, dan menurut suami Susi, petugas bilang sudah diberikan obat, untuk sementara menggunakan obat milik pasien lain.

Sekitar pukul 16. 12 WIB sore, bayi tersebut dinyatakan meninggal dunia oleh petugas rumah sakit, hingga saat ini informasi dari orang tua bayi itu, pihak rumah sakit belum memberikan penjelasan terkait penyebab sebenarnya anak pertama mereka meninggal dunia.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.