Jakarta (ANTARA) - Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) Jeddah menyatakan produk olahan perikanan Indonesia membidik pasar Arab Saudi dengan potensi transaksi mencapai 800 ribu dolar AS hingga 1 juta dolar AS.

Kepala Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) Jeddah Bagas Haryotejo, dalam pernyataan, yang terkonfirmasi di Jakarta, Sabtu, mengatakan pembeli dari Arab Saudi, Tamaiz Asia Trading, menunjukkan ketertarikan dengan produk perikanan dari pelaku usaha Indonesia, JAPFA, dalam business matching yang difasilitasi Kementerian Perdagangan.

Menurut Bagas, business matching tersebut ini membuka peluang besar bagi peningkatan ekspor produk pangan olahan Indonesia ke Arab Saudi.

"Selain menyasar konsumen lokal Arab Saudi, produk Indonesia juga berpotensi masuk ke rantai pasok konsumsi bagi jemaah haji dan umrah dari berbagai negara yang secara keseluruhan diperkirakan bernilai sekitar Rp50 triliun. Dalam kerja sama yang tengah dijajaki, potensi transaksi JAFPA dan Tamaiz mencapai sebesar 800 ribu dolar AS hingga 1 juta dolar AS," kata Bagas.

Produk olahan perikanan tersebut meliputi bakso ikan, nuget ikan, nuget udang, hingga filet ikan nila.

Menurut dia, sebagai tindak lanjut penjajakan tersebut, Tamaiz Asia Trading akan membawa sampel produk untuk pengujian pasar, sementara JAPFA menyiapkan daftar harga berbagai varian produk sebelum memasuki tahap negosiasi lebih rinci.

ITPC Jeddah juga akan memfasilitasi pertemuan lanjutan secara daring untuk membahas aspek teknis maupun komersial.

Bagas mengatakan peluang tersebut diharapkan menjadi pintu masuk bagi lebih banyak produk pangan olahan Indonesia untuk memperluas pasar di Arab Saudi dan kawasan sekitarnya.

Perwakilan Tamaiz Asia Trading, Saeed Alamoudi mengatakan Indonesia memiliki peluang besar memasok produk makanan halal ke Arab Saudi mengingat besarnya jumlah jamaah haji dan umrah asal Indonesia setiap tahun.

Menurut dia, produk pangan Indonesia tidak hanya berpeluang memenuhi kebutuhan jamaah Indonesia, tetapi juga masyarakat Arab Saudi dan negara-negara di kawasan tersebut.

"Fakta ini merupakan peluang untuk produk-produk makanan halal Indonesia agar dapat dipasarkan secara masif di Arab Saudi. Tidak hanya konsumen Indonesia, tetapi juga konsumen lokal Arab Saudi dan negara kawasan sekitar," kata Alamoudi.

Lebih lanjut, Bagas menambahkan masyarakat Arab Saudi memiliki konsumsi yang tinggi terhadap produk olahan boga bahari, terutama produk beku yang praktis, memiliki masa simpan panjang, dan harga yang kompetitif.

Ia menilai JAPFA memiliki kesiapan memasok pasar Arab Saudi dalam skala besar karena telah memiliki kapasitas produksi yang memadai, memenuhi standar keamanan pangan internasional, serta terdaftar di Saudi Food and Drug Authority (SFDA) sebagai eksportir produk olahan berbasis ikan.

Pada Januari-April 2026, nilai perdagangan Indonesia dan Arab Saudi mencapai 1,58 miliar dolar AS, terdiri atas ekspor Indonesia sebesar 675,8 juta dolar AS dan impor sebesar 912,1 juta dolar AS.