Pildun 2026 Kian Dekat dengan Bugis-Makassar di Sulawesi, Dipicu Ousmane Dembele di Timnas Prancis
AS Kambie June 27, 2026 04:22 PM

TRIBUN-TIMUR.COM - Timnas Prancis mendekatkan Piala Dunia 2026 dengan emosi Bugis-Makassar di Sulawesi Selatan.

Mengiringi kemenangan telak Prancis atas Norwegia, 4-1, Sabtu siang, 27 Juni 2026, menyeruaki relung kesadaran.

Kemenangan telak Les Bleus atas Norwegia dengan skor 4-1, Sabtu siang, 27 Juni 2026, tidak hanya mengantarkan Prancis melangkah lebih jauh di Piala Dunia. 

Di Makassar, kemenangan itu justru melahirkan percakapan yang sama sekali berbeda dari analisis taktik atau statistik pertandingan.

Perbincangan itu mengalir di berbagai ruang, termasuk dalam Group WhatsApp Geng Makassar.

Seperti biasa, humor menjadi pintu masuk. Aidir Amin Daud mengunggah foto penyerang Prancis, Ousmane Dembélé, disertai tulisan sederhana, “Haji Ousmane Dembele.”

Tidak lama kemudian, Andi Suruji membalas dengan gaya khas Makassar, “H Usmang Daeng Belle.”

Percakapan itu spontan mengundang tawa.

Namun, bagi orang Bugis-Makassar, permainan kata seperti itu hampir selalu menyimpan lapisan makna yang lebih dalam. Nama asing segera diterjemahkan ke dalam struktur sosial lokal. Dembélé seakan berubah menjadi “Daeng Belle”. Ousmane menjadi “Usmang”.

Yang jauh terasa mendadak menjadi dekat.

Yang asing berubah menjadi keluarga. Humor itu sesungguhnya memperlihatkan bagaimana habitus bekerja. Pierre Bourdieu menyebut habitus sebagai seperangkat disposisi yang terbentuk oleh pengalaman sejarah sehingga seseorang secara spontan memaknai dunia dengan kerangka budayanya sendiri. Orang Makassar tidak sedang memelesetkan nama Dembélé. Mereka sedang “membugiskan” dunia.

Dan ternyata, asosiasi itu bukan sesuatu yang benar-benar baru.

Perjanjian Bongaya memang mengakhiri perang, tetapi tidak mematikan semangat orang-orang Gowa. Sebagian memilih meninggalkan tanah kelahirannya. Mereka berlayar ke berbagai negeri di Asia Tenggara membawa satu modal yang tidak dapat dirampas siapa pun: Siri’ na Pacce.

Dalam tulisannya, Ostaf menyebut salah satu tokoh penting diaspora itu adalah Daeng Mangalle.

Di Kerajaan Siam, kini Thailand, Daeng Mangalle dikenang sebagai sosok pemberani. 

Jejaknya bahkan dipercaya masih hidup melalui keberadaan Kampung Makassan. Lebih menarik lagi, menurut berbagai riwayat yang berkembang, dua keturunannya kemudian menjadi bagian penting dalam sejarah militer Prancis.

Mereka adalah Louis Pierre de Macassar Daeng Ruru dan Louis Dauphin de Macassar Daeng Tulolo.

Nama “de Macassar” bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah identitas. Sebuah pengingat bahwa darah Makassar pernah mengalir dalam tubuh para perwira yang mengabdi kepada Kerajaan Prancis pada masa Raja Louis XIV atau Louis yang Agung (1638–1715).

Kisah itu kembali diangkat oleh Wali Kota Makassar saat itu, Danny Pomanto, ketika memberikan kuliah umum di hadapan mahasiswa program doktor Monash University, Melbourne, Australia, pada 7 Juli 2022.

Danny mengisahkan heroisme Daeng Mangalle di Kerajaan Siam sekitar tahun 1664.

Kala itu, Daeng Mangalle bersama sekitar 40 prajurit Kerajaan Gowa menetap di Siam setelah terusir dari tanah airnya. Mereka kemudian terseret konflik politik akibat pengkhianatan yang berujung pada pengepungan besar-besaran.

Kerajaan Siam meminta bantuan pasukan sekutu. Termasuk armada laut Prancis. Jumlah lawan jauh lebih besar.

Peluang menang nyaris tidak ada. Namun, bagi orang Bugis-Makassar, kekalahan tidak identik dengan menyerah.

Daeng Mangalle justru memerintahkan seluruh pengikutnya menancapkan tiang ke tanah. Setiap prajurit mengikat tubuhnya pada tiang itu sambil berdiri menggenggam badik.

Mereka memilih mati dalam posisi tegak. Pantang mundur. Para perempuan dan anak-anak pun ikut mengikat diri. Mereka tidak sedang mempertahankan wilayah. Mereka mempertahankan martabat.

Itulah Siri’.

Seluruh rombongan Daeng Mangalle akhirnya gugur, kecuali dua bayi.

Dua bayi itulah yang kemudian menarik perhatian pimpinan pasukan Prancis. Mereka dibawa ke negeri itu, dibesarkan, dan diberi nama Louis Pierre de Macassar Daeng Ruru serta Louis Dauphin de Macassar Daeng Tulolo.

Dalam berbagai kisah yang berkembang di masyarakat Bugis-Makassar, keduanya kelak menjadi jenderal sekaligus pemimpin armada laut Prancis pada dekade 1680-an.

Danny Pomanto bahkan menyampaikan satu cerita yang telah lama hidup sebagai folklore sejarah di Makassar.

“Ada yang menyebut ayam jantan yang menjadi lambang Prancis berasal dari Asia, bahkan bisa jadi dari Makassar. Ada pula yang menyebut Napoleon Bonaparte memiliki garis keturunan Daeng Tulolo,” kata Danny Pomanto di hadapan ratusan mahasiswa S3 dan dosen Monash University. 

Maqbul Halim dan Ihsan Latief dari Makassar ikut menjadi saksi "kampanye" Makassar Danny Pomanto di Melbourne, Australia, di tengah perayaan Iduladha 1443 H/2022 M itu.

Apakah seluruh kisah itu telah terverifikasi secara akademik? Sebagiannya masih menjadi ruang diskusi para sejarawan.

Namun, terlepas dari perdebatan historis tersebut, cerita-cerita itu hidup sebagai ingatan kolektif masyarakat Bugis-Makassar. Ia diwariskan dari generasi ke generasi, membentuk imajinasi bersama tentang keberanian, diaspora, dan hubungan Makassar dengan dunia.

Di sinilah sepakbola kembali menunjukkan kekuatannya.

Piala Dunia bukan sekadar kompetisi.Ia menjadi panggung tempat berbagai memori budaya dipanggil pulang.

Ketika orang Makassar menyebut Ousmane Dembele sebagai “Usmang Daeng Belle”, mereka sesungguhnya sedang merayakan sesuatu yang lebih besar daripada sebuah pertandingan. Mereka sedang menghubungkan lapangan hijau dengan jalur pelayaran nenek moyangnya.

Menghubungkan stadion modern dengan benteng-benteng Kerajaan Gowa. Menghubungkan gol-gol Prancis dengan kisah Daeng Mangalle yang memilih gugur dalam keadaan berdiri.

Mungkin karena itulah, setiap kali Prancis bermain di Piala Dunia, ada sebagian orang Bugis-Makassar yang merasa pertandingan itu sedikit lebih personal.

Sedikit lebih dekat. Seolah-olah, di balik seragam biru Les Bleus, terselip sepotong sejarah yang pernah berlayar dari pesisir Makassar menuju Eropa, lalu menetap sebagai bagian dari memori dunia.

Catatan Sipil Kalau oleh Memori Kolektif

Secara administratif, dalam catatan sipil Prancis, Ousmane Dembele jauh dari Bugis-Makassar dan Indonesia.

Lahir di Vernon, Prancis, 15 Mei 1997, Dembele putra pasangan imigran Afrika Barat. Ayahnya berasal dari Mali, sedangkan ibunya memiliki garis keturunan Mauritania dan Senegal. 

Karier profesionalnya dimulai di Rennes, kemudian melesat ke Borussia Dortmund, Barcelona, hingga akhirnya menemukan puncak performa bersama Paris Saint-Germain.

Kecepatan, kemampuan menggiring bola dengan kedua kaki, serta kreativitasnya menjadikan Dembélé salah satu winger paling berbahaya di dunia. Di Piala Dunia 2026, ia kembali menjadi motor serangan Prancis yang membuat pertahanan Norwegia porak-poranda.

Tapi, bagi sebagian warga Makassar, Dembele bukan pertama-tama dipandang sebagai pemain PSG atau Prancis. Ia lebih dulu menjadi “Usmang Daeng Belle”. Nama global itu segera dipeluk ke dalam kosmos budaya Bugis-Makassar.

Tim Miniatur Dunia

Tim Prancis sendiri sejak lama merupakan miniatur dunia. Dalam skuad Les Bleus mengalir darah Aljazair, Mali, Senegal, Kamerun, Kongo, Guadeloupe, Martinique hingga Kaledonia Baru.

Prancis modern dibangun oleh sejarah kolonial, migrasi, dan perjumpaan berbagai bangsa. Karena itu, identitas “Prancis” hari ini bukan semata identitas etnis, melainkan identitas politik yang mempersatukan beragam akar budaya.

Di tengah mosaik identitas itu, ingatan orang Makassar melompat jauh ke abad ke-17, ketika nama “de Macassar” pernah tercatat dalam sejarah Prancis.

Sesungguhnya, orang Bugis-Makassar telah menjadi warga dunia jauh sebelum istilah globalisasi dikenal. Setelah Perang Makassar dan Perjanjian Bongaya tahun 1667, ribuan pelaut, saudagar, dan prajurit meninggalkan tanah Sulawesi.

Mereka berlayar menuju Johor, Riau, Semenanjung Melayu, Kalimantan, Nusa Tenggara, Filipina Selatan, Kamboja, Vietnam hingga Kerajaan Siam. Mereka tidak sekadar berdagang. 

Mereka membangun kampung, menjadi panglima perang, penasihat raja, bahkan mendirikan dinasti politik baru.

Karena itulah, nama Makassar dapat ditemukan di berbagai belahan dunia. Di Bangkok pernah berdiri Kampung Makassan. Di Australia Utara terdapat Makassan Route yang mengingatkan hubungan nelayan Sulawesi dengan suku Aborigin.

Bahkan dalam sejumlah manuskrip Eropa abad ke-17 dan ke-18, nama “Macassar” bukanlah nama kota kecil di Timur, melainkan simbol pelaut-pelaut tangguh dari Nusantara.

Mungkin karena itulah, ketika nama Dembele berubah menjadi “Usmang Daeng Belle”, orang Makassar sesungguhnya tidak sedang bercanda. Mereka sedang melakukan apa yang oleh Pierre Bourdieu disebut reproduksi habitus.

Pengalaman sejarah diwariskan menjadi cara berpikir. Ingatan kolektif berubah menjadi refleks budaya. Dunia tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang asing, tetapi sebagai ruang yang sejak lama pernah dijelajahi leluhurnya.

Piala Dunia akhirnya bukan sekadar pertandingan sepak bola. Ia berubah menjadi panggung tempat sejarah, identitas, diaspora, dan memori kolektif saling bertemu.

Di kaki-kaki lincah Ousmane Dembele, sebagian orang Bugis-Makassar seperti melihat bayangan layar pinisi yang pernah berlayar menuju Siam, lalu menghubungkan Makassar dengan Prancis.

Lapangan hijau pun seakan menjadi pelabuhan tempat masa lalu dan masa depan kembali bersua. Dan, Dembele, bukan mustahil, bagian dari sejarah itu.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.