Tinjau 18 Puskesmas, KPA Jayawijaya Perkuat Penanganan HIV/AIDS di Sejumlah Distrik
Astini Mega Sari June 27, 2026 04:29 PM


Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Noel Iman Untung Wenda

TRIBUN-PAPUA.COM, WAMENA - Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, mulai memperkuat koordinasi dengan seluruh puskesmas dalam upaya meningkatkan pelayanan bagi Orang Dengan HIV (ODHIV).

Langkah tersebut diwujudkan melalui kunjungan kerja ke 18 puskesmas yang tersebar di berbagai distrik, termasuk wilayah terpencil seperti Distrik Wolo.

Ketua Harian KPA Jayawijaya, Tonius Wenda, mengatakan kunjungan tersebut merupakan bagian dari intruksi Ketua Umum KPA Athenius Murib yang juga sebagai Bupati Jayawijaya  sebagai agenda perdana pengurus baru setelah menyelesaikan renovasi Kantor KPA Jayawijaya pada Juni 2026.

Baca juga: Ketua TP PKK Papua Ajak Mahasiswa Jadi Garda Terdepan Cegah HIV/AIDS, Kekerasan Seksual, dan Narkoba

Menurutnya, kunjungan lapangan dilakukan untuk melihat secara langsung kondisi pelayanan HIV/AIDS di setiap puskesmas, membangun kerja sama dengan petugas kesehatan, sekaligus mengidentifikasi berbagai kendala yang dihadapi dalam penanganan pasien.

"Kami ingin mengetahui bagaimana pelayanan di setiap puskesmas, apa saja kendala yang dihadapi petugas, dan bagaimana kita bisa bersama-sama meningkatkan pelayanan bagi pasien HIV/AIDS," kata Tonius.

Ia menjelaskan, selama kunjungan, rombongan KPA bertemu dengan dokter, petugas Program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), serta tenaga kesehatan lainnya untuk mendengarkan berbagai masukan terkait pelayanan HIV/AIDS di lapangan.

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian KPA adalah masih tingginya stigma dan diskriminasi terhadap ODHIV di Kabupaten Jayawijaya.

Kondisi tersebut membuat banyak pasien memilih mengambil obat di puskesmas lain daripada berobat di wilayah tempat tinggalnya.

Tonius mencontohkan, pasien dari Distrik Wolo ada yang mengambil obat di Yalengga maupun Bolakme. Begitu pula pasien dari Bolakme memilih berobat di Puskesmas Kota Wamena atau distrik lainnya demi menghindari diskriminasi.

"Fenomena ini menunjukkan bahwa stigma terhadap pasien HIV masih cukup tinggi sehingga banyak pasien tidak nyaman berobat di wilayahnya sendiri," ujarnya.

Baca juga: Lokalisasi Tutup, Puskesmas Sentani Kewalahan Lacak 143 Kasus HIV

Selain persoalan stigma, KPA juga menemukan masih banyak pasien berstatus lost to follow up, yakni pasien yang pernah terdata menjalani pengobatan tetapi tidak lagi rutin datang mengambil obat.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, KPA menggandeng berbagai lembaga swadaya masyarakat (LSM) serta kelompok kerja (Pokja) guna menjangkau kembali pasien yang terputus pengobatannya.

"Kami ingin memastikan pasien yang selama ini tidak lagi berobat dapat ditemukan kembali sehingga bisa melanjutkan terapi secara rutin," katanya.

Hasil kunjungan ke seluruh puskesmas juga menjadi dasar bagi KPA dalam memetakan jumlah pasien aktif, pasien yang putus berobat, serta kebutuhan pelayanan di masing-masing wilayah.

Sebagai bentuk dukungan terhadap peningkatan kualitas hidup pasien, KPA Jayawijaya juga akan menyalurkan bantuan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi pasien HIV/AIDS yang sedang menjalani terapi antiretroviral (ARV).

Tonius menjelaskan, anggaran PMT nantinya akan diserahkan kepada masing-masing puskesmas agar dikelola oleh tenaga gizi sesuai kebutuhan pasien.

"Kami tidak akan membeli langsung bahan makanannya. Anggarannya akan kami hibahkan kepada puskesmas agar dikelola oleh tenaga gizi yang lebih memahami kebutuhan nutrisi pasien," jelasnya.

Program hibah PMT tersebut direncanakan akan diserahkan secara simbolis oleh Ketua Umum KPA Kabupaten Jayawijaya yang juga Bupati Jayawijaya, Atenius Murib, kepada seluruh puskesmas.

Baca juga: Kasus HIV di Papua Tengah Mencapai 24.777, Kesadaran Periksa Meningkat

Dalam kunjungan selam satu minggu tersebut, Tonius Wenda didampingi Ketua I Endius Kogoya, Bendahara Dafid Murib, para koordinator bidang, serta anggota KPA Jayawijaya.

Selain memperkenalkan diri sebagai pengurus baru yang ditunjuk Bupati Jayawijaya, mereka juga mengajak seluruh puskesmas memperkuat kemitraan, khususnya dengan petugas P2P dalam penanganan pasien HIV/AIDS.

Kunjungan tersebut mendapat sambutan positif dari para tenaga kesehatan.

Mereka menilai langkah KPA turun langsung ke lapangan merupakan bentuk perhatian yang selama ini jarang dilakukan.

"Selama lima tahun KPA tidak pernah meninjau kami. Baru pada kepengurusan yang sekarang mereka datang langsung ke Puskesmas Wolo dan distrik-distrik. Kami sangat mengapresiasi kunjungan ini karena bisa mendengar langsung kebutuhan kami di lapangan," ujar dr. Erland Sibarani, Kepala Bidang P2P Puskesmas Distrik Wolo.

Melalui kunjungan tersebut, KPA Jayawijaya berharap sinergi antara pemerintah daerah, puskesmas, LSM, dan seluruh pemangku kepentingan dapat semakin kuat sehingga angka kasus HIV/AIDS dapat ditekan, stigma terhadap ODHIV berkurang, dan kualitas pelayanan kesehatan di Kabupaten Jayawijaya terus meningkat. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.