Respon Orangtua Siswa di Surabaya Soal MBG Disetop Sementara: Eman-eman Kalau Berhenti
Putra Dewangga Candra Seta June 27, 2026 04:32 PM

 

SURYA.co.id, SURABAYA – Penghentian sementara program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama masa libur sekolah menuai beragam respons dari orangtua siswa di Surabaya.

Sebagian besar orangtua mengaku memahami keputusan pemerintah karena selama liburan anak-anak lebih banyak berada di rumah dan kebutuhan makan dapat dipenuhi keluarga.

Namun, mereka juga menilai penghentian sementara ini sebaiknya tetap mempertimbangkan kondisi keluarga yang belum tentu mampu menyediakan makanan bergizi setiap hari.

Meski tidak mempersoalkan kebijakan tersebut untuk keluarganya sendiri, sejumlah orangtua berharap pemerintah memiliki skema khusus agar tujuan utama program MBG dalam meningkatkan kualitas gizi anak tetap berjalan selama masa libur sekolah yang cukup panjang.

Orangtua Pahami MBG Dihentikan karena Anak Libur di Rumah

Lestari, salah seorang wali murid di salah satu SMP Negeri Surabaya, mengatakan keluarganya tidak lagi menerima MBG selama masa libur sekolah.

Berbeda dengan masa libur sebelumnya, kali ini pihak sekolah juga tidak meminta orangtua datang untuk mengambil makanan.

DAPUR MBG — Sejumlah petugas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Surabaya sedang menyiapkan Makanan Bergizi Gratis (MBG) untuk siswa sekolah beberapa waktu lalu. Gabungan Pengusaha Makan Bergizi Indonesia (GAPEMBI) Jawa Timur menilai perlu ada solusi yang mampu mengakomodasi kepentingan pemerintah sekaligus menjaga keberlangsungan usaha para pengelola SPPG selama kebijakan penghentian sementara operasional Program MBG saat libur sekolah.
DAPUR MBG — Sejumlah petugas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Surabaya sedang menyiapkan Makanan Bergizi Gratis (MBG) untuk siswa sekolah beberapa waktu lalu. Gabungan Pengusaha Makan Bergizi Indonesia (GAPEMBI) Jawa Timur menilai perlu ada solusi yang mampu mengakomodasi kepentingan pemerintah sekaligus menjaga keberlangsungan usaha para pengelola SPPG selama kebijakan penghentian sementara operasional Program MBG saat libur sekolah. (Surya.co.id/Bobby Constantine Koloway)

Menurutnya, penghentian sementara program masih bisa dipahami karena selama libur sekolah anak-anak tidak lagi mengikuti kegiatan belajar mengajar.

Meski begitu, ia menilai kebijakan tersebut masih menyisakan pertanyaan mengenai keberlanjutan tujuan program.

"Kalau ditanya setuju atau tidak, saya sebenarnya di tengah. Anak-anak memang sedang libur dan saya setiap hari tetap memasak di rumah. Tetapi kalau melihat tujuan awal MBG, menurut saya sebaiknya tetap diberikan karena tidak semua anak memiliki makanan bergizi di rumah," kata Lestari, dikutip SURYA.co.id dari Kompas.com.

Tidak Semua Keluarga Mampu Penuhi Gizi Anak

Lestari menjelaskan kebutuhan gizi anaknya tetap terpenuhi karena keluarganya sudah terbiasa menyiapkan makanan lengkap sejak sebelum adanya program MBG.

Setiap hari, anak mendapatkan nasi, lauk, sayur, hingga bekal sekolah dari rumah.

Namun, menurutnya kondisi tersebut belum tentu dialami seluruh keluarga. Inilah alasan utama ia berharap pemerintah tetap mempertimbangkan penyaluran MBG selama masa libur.

"Kalau anak saya sendiri saya tidak khawatir karena dari dulu makanannya memang dari rumah. Yang saya pikirkan justru anak-anak lain malah. Mereka mungkin tetap makan, tetapi belum tentu makanan yang dikonsumsi bergizi seimbang," ujarnya.

Ia berharap pemerintah dapat mencari mekanisme yang memungkinkan program tetap berjalan meski sekolah sedang libur, mengingat MBG sejak awal dirancang untuk meningkatkan kualitas gizi anak.

Ada Orangtua yang Menilai Penghentian MBG Tidak Jadi Masalah

SPPG JOMBANG - Petugas dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kepatihan, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jombang saat mengantarkan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) ke sekolah Selasa (2/9/2025) lalu. Berhenti beroperasi karena dana belum cair.
SPPG JOMBANG - Petugas dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kepatihan, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jombang saat mengantarkan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) ke sekolah Selasa (2/9/2025) lalu. Berhenti beroperasi karena dana belum cair. (Surya.co.id/Anggit Puji Widodo)

Pandangan berbeda disampaikan Sri Mulyani, wali murid SD swasta di Surabaya. Menurutnya, penghentian sementara MBG tidak menjadi persoalan karena kebutuhan makan anak tetap dipenuhi keluarga seperti biasa.

"Sebelum ada MBG pun anak saya sudah makan tiga kali sehari dan saya juga biasa menyiapkan bekal saat sekolah, jadi kalau selama liburan dihentikan, menurut saya ngga masalah," ujar Sri.

Meski demikian, ia memahami apabila ada orangtua lain yang berharap program tetap berjalan selama masa liburan.

"Mungkin ada yang merasa ‘eman-eman’ kalau program ini berhenti sementara karena anggarannya juga besar, jadi mereka berharap anak-anak tetap bisa menerima manfaatnya," katanya.

Sri juga mengungkapkan bahwa pada masa libur sebelumnya dirinya masih diminta mengambil paket MBG di sekolah.

Namun, menu yang diterima saat itu berbeda dibandingkan menu ketika kegiatan belajar mengajar berlangsung.

Jarak Sekolah Jadi Alasan Tak Mengambil MBG

Sementara itu, Hanifa, wali murid dari salah satu SMP negeri di Surabaya, juga tidak mempermasalahkan penghentian sementara program MBG.

Selama anak berada di rumah, ia tetap memasak dengan menu yang bervariasi sehingga kebutuhan gizinya tetap terpenuhi.

"Saya tidak masalah kalau sementara dihentikan programnya. Di rumah saya tetap memasak seperti biasa dan berusaha menyiapkan makanan yang bergizi untuk anak," kata Hanifa.

Ia menambahkan, pada masa libur sebelumnya dirinya juga tidak mengambil paket MBG karena lokasi rumah cukup jauh dari sekolah.

Meski demikian, kondisi tersebut tidak memengaruhi kebutuhan makan anak karena seluruhnya dipenuhi keluarga.

Bagi Hanifa, yang terpenting adalah anak tetap memperoleh asupan gizi yang cukup, baik melalui program pemerintah maupun dari makanan yang disiapkan di rumah.

"Kalau untuk anak saya, saya tidak khawatir karena setiap hari tetap makan masakan rumah," pungkasnya.

Respons para orangtua menunjukkan bahwa penghentian sementara MBG selama libur sekolah tidak sepenuhnya ditolak.

Mayoritas memahami alasan pemerintah menghentikan distribusi karena anak tidak lagi berada di lingkungan sekolah dan kebutuhan makan umumnya dipenuhi keluarga.

Namun, muncul kekhawatiran bahwa kondisi setiap rumah tangga tidak sama. Bagi keluarga yang memiliki keterbatasan ekonomi, penghentian sementara program berpotensi mengurangi akses anak terhadap makanan bergizi.

Karena itu, sejumlah orangtua menilai pemerintah dapat mempertimbangkan skema alternatif, seperti penyaluran bagi kelompok penerima prioritas atau mekanisme distribusi tertentu selama masa liburan, sehingga tujuan pemerataan gizi anak tetap terjaga tanpa mengabaikan efisiensi pelaksanaan program.

Kadin Jatim Kumpulkan Pengelola SPPG Cari Solusi Keberlanjutan MBG

Sementara itu, Kamar Dagang dan Industri Jawa Timur bergerak cepat mengumpulkan puluhan pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dari berbagai daerah demi menyelamatkan keberlangsungan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kini tengah dihantam berbagai kendala operasional.

Pertemuan krusial itu digelar langsung di kantor Kadin Sidoarjo pada Rabu (24/6/2026).

Langkah itu diambil untuk mencari solusi atas nasib investasi para mitra serta perputaran ekonomi rakyat di daerah.

Ketua Umum Kadin Jatim, Adik Dwi Putranto, menegaskan bahwa sejak awal Kadin merupakan salah satu pihak yang mendukung penuh pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis karena manfaatnya yang sangat besar bagi masa depan bangsa.

"Kami sejak awal mendukung program ini karena tujuannya sangat baik, yakni meningkatkan gizi anak-anak. Kalau berbicara gizi, tentu berkaitan langsung dengan kesehatan dan kualitas generasi masa depan," kata Adik, Rabu (24/6/2026) kepada SURYA.CO.ID.

"Kalau ada kesalahan atau penyimpangan, itu urusan hukum. Tetapi tujuan program MBG yang sangat mulia ini tidak boleh bergeser. Programnya harus tetap berjalan dan mendapat dukungan penuh dari pemerintah," jelas Adik.

Ia menyebut adanya MBG membuat terjadi perputaran ekonomi di daerah. Ada petani, peternak, pedagang, dan banyak pelaku usaha lain yang ikut terlibat. 

Dari sisi tenaga kerja, satu dapur bisa menyerap sekitar 50 orang. Kemudian ada sekitar 15 supplier yang terlibat.

"Kami ingin mengajak seluruh pelaku usaha yang menjadi mitra untuk duduk bersama, merembukkan bagaimana menyikapi kondisi yang ada. Soal efisiensi dan penegakan aturan kami tentu setuju, tetapi nasib SPBG juga harus dipikirkan karena sejak awal mereka hadir untuk mendukung pemerintah mewujudkan makan bergizi gratis bagi anak-anak Indonesia," terang Adik.

Ketua Kadin Sidoarjo Ubaidillah Nurdin mengatakan para pelaku usaha yang terlibat dalam program MBG telah merasakan langsung dampak positif yang ditimbulkan terhadap perekonomian masyarakat.

"Sebagai pelaku dan mitra, kami sudah merasakan dampak positif peningkatan ekonomi. Mulai dari UMKM, pedagang sayur, pedagang buah hingga pelaku usaha lainnya ikut bergerak. Kalau program ini dihentikan, mereka pasti menjadi korban dan kami juga akan menjadi korban," ujar Ubaidillah.

Sementara itu, salah satu pemilik SPBG di Surabaya, Yayuk E Agustin, berharap para mitra yang selama ini telah berinvestasi dan berupaya menjalankan program dengan baik dapat memperoleh kepastian serta ruang komunikasi yang lebih terbuka.

"Sejak awal kami diajak untuk menjadi mitra dan berinvestasi karena program ini membutuhkan dukungan banyak pihak. Kami sudah berupaya memberikan yang terbaik bagi anak-anak penerima manfaat. Harapan kami tentu ada kepastian dan komunikasi yang baik agar program ini bisa terus berjalan dan berkembang," tambah Yayuk.

Wakil Ketua Umum Kadin Jatim, M Rizal, menambahkan bahwa Kadin akan terus berupaya menjembatani berbagai persoalan yang dihadapi mitra SPBG melalui komunikasi dengan pemerintah pusat maupun pihak terkait lainnya.

"Program ini bukan hanya tentang makanan bergizi, tetapi juga tentang penciptaan lapangan kerja dan pergerakan ekonomi rakyat. Karena itu kami akan terus memperjuangkan aspirasi para mitra agar tujuan besar program ini tetap dapat diwujudkan," pungkas Rizal.

(Sri Handi Lestari/Putra Dewangga/SURYA.co.id dan Kompas.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.