Namun, jalannya pertandingan akan sangat ditentukan oleh keputusan kedua pelatih dalam menyusun komposisi pemain. Jika Portugal dan Kolombia sama-sama menurunkan mayoritas skuad utama, laga ini akan berlangsung sengit sekali 

Jakarta (ANTARA) - Portugal akan menghadapi lawan terberatnya pada laga terakhir Grup K saat berjumpa Kolombia di Miami Stadium, Miami, Florida, Amerika Serikat, Minggu (28/6) pukul 06.30 WIB.

Baik Kolombia maupun Portugal memastikan tiket ke babak 32 besar. Kolombia memimpin klasemen dengan enam poin, sedangkan Portugal mengoleksi empat poin.

Kolombia yang sudah mengumpulkan enam poin cenderung mengistirahatkan skuad intinya, sebaliknya Portugal berusaha memburu gengsi sebagai tim top dunia.

Jika salah satu dari mereka finis sebagai juara grup, maka mereka akan menghadapi peringkat ketika Grup E (Ekuador), atau I (Senegal), atau L, yang mungkin ditempati Ghana atau Kroasia.

g berpotensi ditempati Ghana atau Kroasia.

Namun jika finis sebagai runner up, mereka akan menghadapi runner up Grup L, yang juga kemungkinan Ghana atau Kroasia.

Sebagai salah satu favorit juara dunia, Portugal tak terlalu memusingkan siapa lawan yang akan dihadapi di babak 32 besar. Yang lebih penting bagi Selecao adalah terus menunjukkan kapasitasnya sebagai kandidat kuat peraih gelar.

Karena itu, Portugal diperkirakan akan tampil lebih ngotot untuk mengamankan kemenangan, meski kemungkinan melakukan rotasi pemain. Dengan kedalaman skuad yang dimiliki, tim asuhan Roberto Martinez diyakini tidak akan mengalami penurunan kualitas yang berarti meski sejumlah pemain yang biasa menjadi starter diistirahatkan.

Martinez kemungkinan akan menjadikan laga ini sebagai barometer untuk mengukur kualitas riil timnya menjelang fase gugur.

Kolombia layak dijadikan tolok ukur bagi Portugal. Selain menyapu dua laga awal dengan kemenangan dan agregat gol 4-1, Los Cafeteros juga memainkan sepak bola menyerang yang menjadi karakter umum tim-tim kuat di Piala Dunia.

Dari dua pertandingan terdahulunya di Grup K, tim asuhan Nestor Lorenzo itu membuat 35 peluang gol yang 13 di antaranya tepat sasaran.

Jumlah itu melewati Portugal yang total membuat 24 peluang, dengan 10 di antaranya tepat sasaran. Padahal, Portugal memiliki rata-rata 70,5 persen penguasaan bola, sedangkan Kolombia 66,5 persen.

Kolombia juga menjadi sparring partner karena bisa menguji seberapa kuat sistem pertahanan Selecao, yang dalam dua laga sebelumnya belum teruji maksimal.

Dari dua laga Grup K sebelumnya, Kolombia total membuat 1.443 umpan yang 1.317 di antaranya akurat, dan 1.056 umpan antarlini yang 950 di antaranya akurat. Mereka juga 103 kali menembus sepertiga terakhir permainan.

Akan cukup senang

Angka-angka itu menunjukkan Kolombia memiliki kemampuan tinggi untuk menyulitkan Portugal, menciptakan peluang gol dan mencatat kemenangan.

Namun, catatan Kolombia itu masih di bawah Portugal yang 149 kali melakukan agresi ke sepertiga terakhirnya, dan akurat pada 1.317 umpan dari total 1.443 umpan yang dikirimkan pemain-pemainnya.

Meskipun demikian, Portugal akan cukup senang bahwa mereka bisa menguji supremasi lapangan tengah dan daya tangkal sistem pertahanannya yang sudah bisa diperkuat lagi oleh Ruben Dias.

Ujian dari tim yang setara menjadi bekal penting dalam menghadapi lawan-lawan yang semakin kuat pada babak berikutnya.

Namun itu semua hanya terjadi jika Kolombia tak mengikuti jejak Jerman, Norwegia, dan Amerika Serikat, yang mengistirahatkan banyak pemain intinya karena sudah lolos ke fase gugur dengan nilai enam poin.

Sebaliknya, jika Kolombia tetap menurunkan tim utama seperti dilakukan Prancis dan Meksiko, maka Ronaldo cs mendapatkan "mitra tanding" yang bisa menguji kekuatan mereka sebenarnya.

Laga ini sendiri menjadi kesempatan bagi Ronaldo untuk mengembalikan ketajamannya.

Dia tak pernah lagi mencetak gol dalam dua pertandingan berturut-turut Piala Dunia, sejak terakhir melakukannya pada Piala Dunia 2018 di Rusia.

Peluang itu seharusnya terbuka, mengingat Ronaldo memiliki probabilitas gol atau xG tinggi (2,1) yang hanya kalah dari Erling Haaland (2,7) dan pemain Kanada Jonathan David (2,4).

Dia juga mendapatkan rekan-rekan di lini depan yang sudah mulai kohesif, termasuk Bruno Fernandes, yang kerap dirumorkan tak akur dengannya.

Fernandes pula, bersama Joao Neves dan Vitinha, yang menjadi bagian integral dari rencana bermain Roberto Martinez, yang menekankan dominasi lapangan tengah.

Lapangan tengah yang kuat tak hanya menunjang ketajaman lini depan, tapi juga membuat lini pertahanan Portugal menjadi semakin sulit dijamah lawan.

Sama-sama suka menyerang

Uniknya, kiblat bermain seperti itu pula yang dianut pelatih Kolombia, Nestor Lorenzo, yang juga menekankan permainan cair berbasis pada penguasaan bola.

Lorenzo sering memasang formasi yang juga acap dipasang Martinez, dengan menempatkan striker tunggal di ujung sistem permainan.

Bedanya, Martinez setia pada formula lima gelandang yang dua di antaranya berperan sebagai gelandang bertahan, dalam pola 4-2-3-1. Sedangkan Lorenzo menjalankannya lebih luwes.

Martinez memasang formasi itu kala melawan Kongo dan Uzbekistan, sedangkan Lorenzo hanya mengadopsinya saat menghadapi Kongo.

Saat melawan Uzbekistan, Lorenzo memasang tiga gelandang yang berdiri sejajar di tengah, dan dua lainnya menyangga ujung tombak Luis Suarez dalam pola 4-3-2-1.

Namun, setelah Kongo berhasil mementahkan gempuran Portugal, Lorenzo melakukan penyesuaian. Ia menempatkan tiga gelandang serang tepat di belakang Suarez untuk meningkatkan daya gedor Los Cafeteros.

Di lini tengah, Gustavo Puerta dan Jefferson Lerma dipercaya menjadi poros permainan Kolombia, serupa dengan peran yang diberikan Roberto Martinez kepada Vitinha dan Joao Neves di kubu Portugal.

Meski demikian, sosok yang paling patut diwaspadai Portugal bukanlah para gelandang tersebut, melainkan James Rodriguez. Gelandang veteran itu tampil sebagai motor kreativitas Kolombia dengan melepaskan total 10 umpan silang berbahaya dalam dua pertandingan sebelumnya.

Setelah itu ada Jefferson Lerma yang membuat tiga peluang, dan Daniel Munoz yang mencetak gol ke gawang Uzbekistan dan Kongo.

Portugal sendiri bakal sulit dihentikan Kolombia. Selecao memiliki ancaman di setiap lini, ditopang kedalaman skuad yang memungkinkan mereka tetap berbahaya, termasuk melalui eksekusi bola mati.

Namun, jalannya pertandingan akan sangat ditentukan oleh keputusan kedua pelatih dalam menyusun komposisi pemain. Jika Portugal dan Kolombia sama-sama menurunkan mayoritas skuad utama, laga ini akan berlangsung sengit sekali

Sebaliknya, jika Kolombia memilih mengistirahatkan para pemain utamanya, pertandingan berpotensi berlangsung berat sebelah. Portugal akan lebih leluasa mengendalikan permainan dan berpeluang besar meraih kemenangan, sekaligus membuka kesempatan lebih besar bagi Cristiano Ronaldo untuk kembali menambah koleksi golnya.