Dapur MBG Libur Bikin Relawan Jadi Kuli Bangunan, Warga Gelar Demo
Daniel Ari Purnomo June 27, 2026 05:11 PM

TRIBUNBANYUMAS.COM, BANYUMAS - Gunungan yang berisi hasil panen sayuran, buah-buahan, hingga berbagai komoditas pertanian menjadi sebuah simbol unik dalam aksi damai mendukung keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Aksi penyampaian aspirasi tersebut digelar oleh Aliansi Masyarakat Banyumas Bersatu di kawasan Alun-alun Purwokerto, Sabtu (27/6/2026).

Gunungan yang dibawa secara bergotong royong oleh ratusan petani itu nyatanya bukan sekadar atribut aksi semata.

Baca juga: Menko Pangan Soal 2 Program Pemerintah Dikritik: MBG Dalam Pembenahan, KDMP Bukan Pesaing Ritel

Di balik tumpukan hasil panen tersebut, para petani, peternak ikan, pelaku UMKM, hingga relawan Program MBG menyuarakan satu kegelisahan yang sama. Mereka merasakan imbas hilangnya pasar potensial sejak Program MBG dihentikan sementara waktu selama masa libur sekolah bergulir.

Massa aksi secara tegas meminta pemerintah untuk memastikan Program MBG tetap berlanjut. Program ini dinilai telah sukses menjadi motor penggerak perputaran ekonomi masyarakat dari tingkat hulu hingga ke hilir.

Koordinator lapangan sekaligus penanggung jawab aksi, Imam Muntofik, mengatakan bahwa unjuk rasa tersebut sengaja digelar sebagai bentuk nyata dukungan terhadap program-program Pemerintahan Prabowo-Gibran yang dinilai berpihak kepada kepentingan masyarakat kecil.

"Kami tergabung dalam Aliansi Masyarakat Banyumas Bersatu. Hari ini kami menggelar aksi damai dalam rangka mendukung program-program Pemerintah Prabowo-Gibran yang pro-rakyat. Beberapa program tentu kami dukung apabila memang baik. Namun apabila ada yang tidak baik tentu akan kami kritisi," katanya kepada Tribunbanyumas.com.

Menurut penjelasan Imam, peserta aksi yang hadir berasal dari berbagai unsur. Elemen tersebut merentang mulai dari relawan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), perwakilan kelompok Tani Merdeka Indonesia, pemasok/supplier UMKM, hingga orang tua siswa penerima manfaat Program MBG.

Ia merinci bahwa jumlah peserta yang turun ke jalan mencapai sekitar 3.000 hingga 3.500 orang. Massa itu terdiri atas sekitar 3.000 relawan SPPG, 200 anggota Tani Merdeka Indonesia, dan sekitar 400 orang tua murid penerima manfaat MBG.

Dalam orasi aksi damai tersebut, massa juga membawa sejumlah tuntutan krusial. Salah satunya adalah meminta ketegasan pemerintah dalam memberantas praktik korupsi hingga ke akar-akarnya.

"Tidak boleh ada koruptor yang dibiarkan bebas begitu saja. Salah satu contohnya dugaan korupsi di Badan Gizi Nasional (BGN). Kami merasa menjadi korban atas dugaan tindak pidana tersebut karena akibat korupsi itulah Program MBG mulai mengalami kendala," ujarnya secara tegas.

Imam menambahkan, hingga kini pelaksanaan Program MBG di lapangan pada faktanya masih dihentikan.

Ia menyebut kebijakan penghentian tersebut mengacu pada terbitnya Surat Edaran Nomor 12 Tahun 2026 oleh pimpinan BGN terbaru, yang mengatur perihal penghentian sementara kegiatan operasional selama masa libur anak sekolah.

"Ya, sampai hari ini masih dihentikan. Hal itu mengacu pada Surat Edaran Nomor 12 Tahun 2026 yang dikeluarkan oleh pimpinan BGN terbaru yang menyatakan penghentian sementara program hingga masa libur sekolah," katanya.

Menurut kacamata Imam, dampak penghentian program ini paling besar dirasakan oleh kalangan petani, pelaku UMKM, serta para relawan dapur yang selama ini menggantungkan sumber penghasilannya dari Program MBG.

"Para petani sebelumnya sudah mempersiapkan hasil panen untuk disalurkan ke dapur-dapur SPPG. Ketika program dihentikan mereka kehilangan pasar. Hasil panen yang sebelumnya diserap oleh program kini tidak lagi memiliki tujuan penjualan yang jelas," katanya mengeluhkan situasi.

Ia mengaku bahwa imbas dari kondisi mandeknya rantai pasok tersebut sudah mulai terlihat jelas memengaruhi harga di tingkat pasar tradisional.

"Silakan dicek saja di Pasar Wage maupun pasar lainnya. Harga timun sekarang sudah sangat anjlok sebagai dampak dari penghentian Program MBG. Harga telur juga mengalami penurunan," ujarnya membeberkan contoh.

Selain merugikan kelangsungan hidup petani, nasib para relawan dapur juga terkatung-katung karena harus kehilangan pekerjaan sementaranya.

"Banyak relawan sebelumnya kesulitan memperoleh pekerjaan. Setelah mendapatkan pekerjaan melalui program ini, sekarang justru harus menghadapi penghentian kegiatan selama tiga minggu," katanya.

Menurut data yang dimiliki Imam, di wilayah Kabupaten Banyumas saat ini setidaknya terdapat lebih dari 200 unit dapur MBG.

Apabila diasumsikan setiap dapur memiliki tenaga kerja sekitar 50 relawan, maka secara akumulatif terdapat sekitar 10.000 hingga 11.000 relawan yang menggantungkan dapur keluarganya pada program tersebut.

Namun dalam aksi turun ke jalan kali ini, ia menyebut hanya sekitar setengah dari total relawan yang dapat hadir. Hal ini lantaran sebagian lainnya harus tetap banting tulang mencari nafkah pengganti maupun memiliki urusan keperluan mendesak lain.

Gunungan hasil panen yang diarak berkeliling dalam aksi tersebut murni berasal dari swadaya para petani yang tergabung dalam Tani Merdeka Indonesia.

Menurut Imam, gunungan itu bukan sekadar hiasan estetis, melainkan menjadi simbol keberhasilan dari kerja keras para petani selama Program MBG berjalan lancar lantaran hasil panen mereka terbukti terserap dengan baik.

"Gunungan tersebut merupakan hasil karya para petani yang tergabung dalam Tani Merdeka. Melalui gunungan ini mereka ingin menunjukkan hasil-hasil pertanian yang mereka peroleh selama Program MBG berjalan," katanya.

Ia mengatakan ada sekitar 200 orang petani Tani Merdeka yang ikut andil dalam aksi massa tersebut. Mereka datang secara sukarela untuk menyampaikan pesan bahwa Program MBG selama ini telah membantu meningkatkan jalur pemasaran hasil panen lokal.

"Mereka sangat terbantu dengan program-program Pemerintah Prabowo-Gibran, khususnya Program MBG. Karena itu mereka berharap program tersebut dapat terus berlanjut," ujarnya.

Menurut Imam, penghentian operasional program yang hanya berlangsung selama tiga minggu saja nyatanya sudah memberikan efek domino ekonomi yang cukup memukul akar rumput.

"Ketika program berhenti mereka tidak tahu lagi harus menjual hasil panennya ke mana. Harga timun turun drastis, harga telur juga menurun. Para pekerja yang sebelumnya memperoleh penghasilan dari Program MBG ikut kehilangan mata pencaharian," katanya.

Selama masa-masa sulit menunggu kepastian kelanjutan program, sebagian relawan kini terpaksa memutar otak dan bekerja serabutan.

"Mereka tetap memiliki kebutuhan hidup, termasuk biaya sekolah anak-anak. Saat ini banyak yang menjadi buruh bangunan," katanya memungkasi. (jti)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.