WARTAKOTALIVE.COM, BEKASI - Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi terus mencari solusi untuk menangani persoalan sampah.
Sejumlah program hingga tindakan tahapan tercipta hasil kerja sama antara Pemkot Bekasi dengan warga.
Saat Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) pengelolaan sampah tahun 2026 gelaran Kementerian Lingkungan Hidup (Kemen LH) dan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) pada 25 Februari 2026, Kota Bekasi masuk wilayah dalam darurat sampah.
Pada 14 Februari 2026, Menteri LH RI yang saat itu dijabat Hanif Faisol Nurofiq, Kota Bekasi tercatat memiliki timbulan sampah mencapai 1.801 ton per hari.
Baca juga: RW 03 Kelurahan Setu Jadi RW Terbaik se-DKI, Sukses Kelola Sampah dengan Kampung Biopori
Keterbatasan daya tampung Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumur Batu kini mengalami overload.
Presiden Prabowo meminta agar masalah sampah ditindaklanjuti dan ditangani.
Pengelolaan sampah yang efektif tidak akan tercapai tanpa dimulai dari hulu, yaitu pemilahan yang baik di tingkat rumah tangga.
"Masyarakat harus dilibatkan dalam proses ini dan diberi pemahaman yang benar tentang pentingnya memilah sampah sejak awal," kata Faisol, Sabtu (14/2/2026).
Baca juga: Warga Gandaria Utara Punya Cara Unik Atasi Sampah, Dijemput Pakai Gerobak Listrik
Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bekasi, Junaedi, menyatakan Pemkot Bekasi siap menindaklanjuti arahan Presiden dan kebijakan strategis Kemen LH dengan penguatan implementasi di tingkat daerah.
Penguatan budaya bersih dan disiplin pengelolaan sampah harus dimulai dari lingkungan perkantoran pemerintah, sekolah, hingga permukiman warga, sebagai bagian dari strategi pengurangan sampah dari hulu ke hilir.
"Di Kota Bekasi, kami menggerakkan seluruh perangkat daerah (OPD), satuan pendidikan, hingga tingkat kelurahan dan kecamatan untuk meningkatkan kegiatan korve dan pengelolaan sampah berbasis partisipasi masyarakat," kata Junaedi.
Program Pemkot Bekasi
Melalui beragam program yang terintegrasi, Pemkot Bekasi menunjukkan komitmen kuat dalam mewujudkan lingkungan yang bersih, tertata, dan berkelanjutan sebagai fondasi ketahanan kota di masa depan.
Upaya pengelolaan sampah dari hulu ke hilir, penguatan peran Bank Sampah, serta dukungan Program RW Lingkar Beken mendorong partisipasi aktif masyarakat sekaligus membangun kemandirian lingkungan di tingkat lokal.
Sinergi dengan program nasional seperti Proklim serta pengembangan proyek strategis Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) semakin memperkuat arah kebijakan menuju kota yang tidak hanya mampu mengelola sampah secara efektif, tetapi juga menghasilkan nilai tambah berupa energi terbarukan.
Di sisi lain, penataan tata ruang kota melalui penertiban bangunan, pembangunan ruang terbuka publik, serta pengendalian banjir menunjukkan pendekatan menyeluruh dalam menciptakan kota nyaman, aman dan humanis.
Seluruh langkah ini tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga pada peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Kepala Bidang Penanganan Sampah dan Kemitraan Dinas Lingkungan Hidup (Kabid PSKM DLH) Kota Bekasi, Andy Frengky mengatakan, pihaknya mengimbau masyarakat untuk turut berperan aktif dalam mengendalikan produksi sampah dari sumbernya, khususnya dari rumah tangga.
Pengendalian sampah dapat juga dilakukan dengan memanfaatkan bank sampah.
Tercatat saat ini, Kota Bekasi telah memiliki lebih dari 1.020 bank sampah yang diharapkan dapat menjadi sarana edukasi bagi masyarakat dalam melakukan pemilahan dan pengurangan sampah.
"Upaya dapat dilakukan melalui pola komposting, juga bisa melakukan pengurangan ketika bisa memilah sampah dan memberikannya ke bank sampah yang ada di masing-masing wilayah," kata Frengky.
Bank Sampah Syarat Wajib
Untuk mendukung upaya warga dalam memanfaatkan bank sampah, Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto membuat strategi khusus.
Strategi itu yakni dengan mewajibkan setiap wilayah perlu memiliki bank sampah dengan pengelolaan yang sebagai syarat mengajukan dana hibah Rp 100 juta per RW.
Program itu meminta setiap RW bermusyawarah dengan warganya untuk menentukan program prioritas.
Rp 100 juta adalah uang negara yang wajib dipertanggungjawabkan dengan tertib administrasi sesuai prinsip clean government.
RW bisa mengajukan program Rp 100 juta dengan membentuk pengelolaan bank sampah dan pengelolaan persampahan di wilayahnya.
"Mindset memilah sampah itu sebetulnya harus tumbuh dari rumah, kalau RW punya kendala tempat, akan dibantu dari DLH atau BSIP,” kata Tri.
Pemkot Bekasi menargetkan persoalan pengolahan sampah dapat selesai pada 2027 dengan dukungan Kemen LH.
"Kalau kami ingin kota ini bersih, harus dijaga bersama, persoalan sampah adalah bom waktu, dan hanya bisa kami selesaikan dengan kepedulian serta komunikasi bersama," tegasnya.
Pembangunan PSEL
Di hulu, Tri mengefetifkan pengoperasian Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL).
Langkah ini menjadi titik balik manajemen limbah di Kota Bekasi, mengubah paradigma dari sekadar menumpuk sampah di tempat pembuangan akhir (Landfill) menjadi sumber energi terbarukan.
Pihaknya memastikan pembebasan lahan seluas 5 hektar akan rampung tahun ini.
Tak berhenti di situ, ekspansi lahan seluas 1,1 hektar juga disiapkan untuk tahun 2027.
Tri menjanjikan wajah baru pengelolaan sampah yang jauh dari kesan kumuh dan bau.
Ia mengusung konsep teknologi ramah lingkungan yang dipadukan dengan sabuk hijau.
"Ke depannya, lokasi ini bukan hanya tempat sampah, tapi kami siapkan menjadi hutan kota, kami pastikan teknologinya adaptif terhadap lingkungan," jelas Tri.
Rp 10 Miliar untuk Jalan Mulus Truk Sampah
Keseriusan Pemkot Bekasi juga terlihat dari alokasi anggaran infrastruktur pendukung.
Dana sebesar Rp 10 miliar telah disiapkan khusus untuk membangun akses jalan menuju lokasi PSEL.
Hal ini krusial untuk mencegah antrean truk sampah yang kerap mengular dan mengganggu lalu lintas warga sekitar.
"InsyaAllah bulan Juli atau Agustus 2026 sudah mulai proses fisik jalannya," ujar Tri.
Tri menggambarkan konsep pembangunan PSEL yang akan dibangun di Kota Bekasi sebagai fasilitas modern dan berwawasan lingkungan.
Menurutnya, pembangunan PSEL tidak hanya berfokus pada fungsi pengolahan sampah semata, melainkan juga mengedepankan aspek estetika serta keberlanjutan lingkungan.
Ia menyebut tampilan bangunan PSEL nantinya akan dirancang lebih megah dibandingkan sejumlah kawasan dan bangunan komersial yang selama ini dikenal warga Kota Bekasi.
"Bukan hanya sekadar membangun pabrik, tetapi membangun konsep pembangunan berkelanjutan, berwawasan lingkungan, bangunannya itu akan lebih mewah daripada Summarecon dan Four Points," lugasnya.
Tri menyampaikan, stigma masyarakat terhadap bangunan pabrik yang identik dengan kesan kumuh ingin diubah melalui proyek tersebut.
Pemkot Bekasi bersama pihak pelaksana berupaya menghadirkan fasilitas pengolahan sampah yang tetap ramah lingkungan dan nyaman dipandang.
"Pabrik yang ada bukan hanya seperti kayak sekarang, melihat pabrik kok kayaknya kesannya kumuh dan sebagainya, kita membangun," ucapnya.
Orang nomor satu di Kota Bekasi itu menegaskan, nantinya residu hasil pengolahan di PSEL tidak akan terbuang percuma.
Namun akan diolah kembali menjadi berbagai produk yang dapat dimanfaatkan.
"Hasilnya akan kami produksi ulang, jadi batako, semen, biji besi dan lain sebagainya, konsepnya seperti itu dan ini harus dijelaskan," tegasnya.
Perihal PSEL, Ketua DPRD Kota Bekasi, Sardi Efendi mengatakan pengelolaan sampah tidak hanya mengandalkan teknologi, tetapi juga harus didukung oleh pengolahan mandiri melalui bank sampah.
Dalam pembangunan PSEL, penggunaan teknologi menjadi aspek yang harus mendapat perhatian serius dari seluruh pihak.
Warga Sambut Baik Upaya Pemkot Bekasi
Menanggapi program dan upaya itu Ketua RT 05 RW 10 Kelurahan Kranji, Bekasi Barat, Arif Mufarik, menyambut baik upaya pemerintah dalam mengelola sampah.
Hadirnya bank sampah justru menghasilkan dampak baik bagi masyarakat.
Arif menjelaskan, setelah hadirnya bank sampah, warga terbangun jiwa inisiatif yang tinggi untuk mengolah sampah.
"Yang tadinya mungkin abis beli minum di botol, di gelas, ketika habis main buang begitu aja, sekarang warga merasa dikoordinir, bisa jadi uang kalau dikiloin, lalu jadi pada pintar dan paham memilah sampahnya," jelasnya.
Terkait rencana pembangunan PSEL, Arief juga menyambut baik dan berharap listrik yang kelak dihasilkan dapat berdampak terhadapt warga.
"Harapan PSEL ya minimal bisa mengurangi beban pembayaran listrik," harapnya.
Tidak hanya itu, Arief juga berharap PSEL dapat menjadi solusi tepat menangani penumpukan sampah. (m37)