Diadaptasi dari kisah penelusuran populer Sara Wijayanto dalam kanal YouTube Diary Misteri Sara, film garapan sutradara Bobby Prasetyo ini menceritakan tentang arwah gadis kecil bernama Lila yang mencari saudari kembarnya, Lili.
Selain sukses meraup ratusan ribu penonton dalam waktu singkat, film ini juga ramai diperbincangkan di berbagai platform sosial media lantaran dinilai memiliki jalan cerita yang menarik.
Berkat kesuksesan besar tersebut, Akshay Melwani selaku Eksekutif Produser film Cerita Lila mengungkapkan pihaknya berencana mengangkat total lebih dari 30 judul film bergenre horor dan drama sepanjang tahun ini.
Ia mengakui tingginya kebutuhan pembiayaan masih menjadi salah satu tantangan utama yang dihadapi oleh industri film nasional saat ini.
Oleh karena itu, pihaknya mengembangkan sebuah ekosistem inovatif yang memungkinkan pendanaan proyek film dilakukan dengan pendekatan berbasis teknologi.
"Indonesia memiliki kekayaan narasi yang luar biasa, namun sering kali langkah kita terhenti di pasar domestik karena keterbatasan infrastruktur global," kata Akshay Melwani saat ditemui di kawasan Jakarta Pusat, Jumat (26/6/2026).
Lebih lanjut, CEO dari Show Token ini menjelaskan pihaknya ingin membangun ekosistem digital baru. Wadah ini diharapkan dapat membuat karya anak bangsa langsung diakses, dimiliki, dan diapresiasi oleh dunia internasional tanpa melalui perantara.
Setelah kesuksesan Cerita Lila, Show Token bersama rumah produksi MVP Pictures dalam waktu dekat akan segera merilis film Sihir Tanah Kubur yang dijadwalkan tayang pada Juli mendatang.
Tidak hanya dengan MVP Pictures, kolaborasi strategis juga dilakukan bersama A&Z Production.
Sejumlah judul film menarik pun sudah masuk dalam daftar antrean produksi, di antaranya Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati, Taboo, Siti Vampire, dan Sebelum Tiga Puluh.
Pada kesempatan yang sama, Joshua Khubani selaku Chief Operating Officer (COO) Show menyatakan komitmen besar pihaknya untuk mendukung industri kreatif.
Pihaknya telah menyiapkan investasi hingga US$ 100 juta atau sekitar Rp 1,7 triliun di kawasan Asia Tenggara.
Investasi ini merupakan bagian dari pengembangan ekosistem ekonomi kreatif digital, termasuk di sektor perfilman.
Menurut Joshua, Indonesia dipilih sebagai fokus utama karena memiliki potensi yang sangat besar dari sisi talenta kreatif, meskipun saat ini masih sering membentur tantangan dalam hal pembiayaan serta distribusi karya.
"Kami memandang Indonesia bukan sebagai pasar konsumtif, tetapi sebagai episentrum talenta yang selama ini kekurangan likuiditas dan sistem distribusi yang efisien," ujar Joshua.
Cerita Lila merupakan film horor Indonesia yang diangkat dari kisah mistis populer di YouTube.
Film ini mengisahkan tentang arwah gadis kecil bernama Lila yang terikat masa lalu, dan berusaha keras mencari saudari kembarnya yang hilang.
Kehidupan Lila kemudian berubah ketika ia menjalin persahabatan unik dengan seorang anak dari penyewa rumah baru.
Film ini memiliki premis yang sangat menarik dengan memadukan unsur teror mistis dan drama perjuangan seorang single mother.
Namun, dalam pengemasannya, eksekusi naskah dan jump scare dinilai sebagian penonton cenderung pasaran.
Fokus pada sisi emosional drama keluarga kerap diunggulkan, meskipun alur penyelesaiannya dikritik terkadang terasa kurang mendalam.
Film yang mengambil lokasi syuting di Yogyakarta ini menampilkan jajaran aktor dan aktris ternama, di antaranya Lutesha, Shareefa Daanish, Firzanah Alya, Myesha Lin, Sara Wijayanto, hingga Wafda Saifan.
(Tribunnews.com/ M Alivio Mubarak Junior)