Jakarta (ANTARA) - Hindrasi atau pasokan cairan yang cukup menjadi salah satu fondasi untuk menjaga stamina terutama saat menjalankan aktivitas fisik seperti olahraga.
Ahli gizi Kinita Kadakia Patel bahwa hidrasi jauh lebih kompleks daripada sekadar minum lebih banyak air. Rehidrasi atau proses penggantian cairan tubuh yang hilang terutama untuk atlet tidak dapat mencakup air putih saja.
“Anda perlu memiliki rencana strategis yang menggabungkan cairan kaya elektrolit bersama dengan air putih,” kata Patel, dikutip laporan Hindustan Times, pada Sabtu (27/6).
Menurut Patel, hidrasi yang optimal tidak hanya bergantung pada asupan cairan, tetapi juga pada keseimbangan elektrolit dalam tubuh.
Mengenai frekuensi minum, Patel menjelaskan bahwa kebutuhan setiap orang dapat berbeda tergantung jenis olahraga yang dijalani.
Meski begitu, ada beberapa pedoman dasar yang dapat diterapkan oleh para atlet, meliputi pastikan tubuh sudah dalam kondisi terhidrasi dengan baik sebelum memulai latihan dengan mengonsumsi cairan yang cukup.
Selama latihan, terus mengganti cairan dan garam mineral yang hilang melalui keringat, segera setelah latihan selesai, penuhi kembali kebutuhan cairan dan elektrolit agar proses pemulihan berlangsung lebih cepat.
Selain itu, jangan menunggu hingga merasa haus karena rasa haus merupakan tanda bahwa tubuh sudah mulai mengalami dehidrasi.
Jika sensitif terhadap kafein, perhatikan total asupan kafein, bukan hanya dari kopi, tetapi juga dari minuman energi, suplemen, maupun teh hijau.
Patel menyampaikan bahwa salah satu penghambat performa yang paling umum, yakni dehidrasi berupa kondisi yang tidak hanya terjadi akibat kurang minum air.
Dehidrasi dapat muncul dalam berbagai bentuk dan tidak hanya terjadi saat menjalani latihan yang sangat berat. Pola makan maupun kondisi lingkungan saat berlatih juga dapat memengaruhinya.
Sejumlah tanda yang dapat mengindikasikan seseorang mengalami dehidrasi seperti berkeringat berlebihan selama latihan, kurang mengonsumsi cairan sepanjang hari, berlatih di lingkungan yang panas dan lembap.
Kemudian, menjalani diet tinggi protein tanpa diimbangi asupan air yang cukup, hingga melakukan latihan berdurasi panjang atau berintensitas tinggi beberapa kali dalam sehari.
Ia juga mengingatkan kehilangan cairan melalui keringat dan dehidrasi dapat berdampak pada performa atlet, antara lain tubuh lebih cepat lelah, stamina menurun, daya tahan berkurang, hingga nyeri otot meningkat karena dehidrasi menghambat pasokan oksigen dan nutrisi ke jaringan otot.
Keringat menyebabkan tubuh kehilangan natrium dan kalium, sehingga energi menurun serta meningkatkan risiko kram, sakit kepala, dan brain fog atau kesulitan berkonsentrasi selama latihan.





