WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA – Gurita bisnis hiburan milik pasangan selebriti papan atas, Raffi Ahmad dan Nagita Slavina, yakni RANS Entertainment, bersiap mengambil langkah raksasa untuk melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui penawaran umum perdana saham (Initial Public Offering/IPO).
Perusahaan ini membidik valuasi fantastis di angka Rp1,7 triliun hingga Rp2 triliun, dengan target penghimpunan dana publik mencapai sekitar Rp430 miliar.
Namun, di balik angka-angka megah tersebut, konten kreator sekaligus investor Raymond Chin justru membongkar sebuah fakta mengejutkan yang tertuang langsung dalam dokumen prospektus resmi perusahaan.
Isu ini bukan lagi sekadar spekulasi pasar, melainkan risiko absolut yang diakui secara blak-blakan oleh manajemen RANS sendiri.
Pembagian Dividen yang Janggal Sebelum IPO
Dalam bedah bisnis yang diunggah di kanal YouTube-nya, Jumat (26/6/2026) Raymond Chin menyoroti beberapa kejanggalan pada performa keuangan RANS yang justru menunjukkan tren penurunan dalam tiga tahun terakhir.
Pada tahun 2025, pendapatan RANS tercatat merosot, di mana keuntungan bersihnya hanya berada di angka Rp56 miliar—turun drastis sebesar 41?ri tahun sebelumnya.
Anehnya, di tahun yang sama dengan penurunan profit tersebut, RANS justru membagikan dividen jumbo senilai Rp17 miliar kepada para pemegang saham lama.
"Kenapa mereka bagi dividen dari laba setahunnya sebelum IPO? Klaimnya mereka mengambil dari tabungan profit tahun-tahun sebelumnya. Ini tidak ilegal, tapi memicu pertanyaan: apakah IPO ini untuk beneran menumbuhkan bisnis atau jalan keluar (exit plan) yang direncanakan?" ujar Raymond Chin.
Penurunan Drastis Brand Deals dan Ketergantungan Figur
Raymond merinci bahwa pelemahan pendapatan RANS paling parah terjadi pada sektor utamanya, yaitu lini brand deal dan talent management yang anjlok hingga 51 % menjadi Rp51 miliar saja.
Penurunan tajam ini menjadi sinyal berbahaya bagi bisnis yang mengandalkan kemegahan "jalan tol" berupa total 155 juta pengikut (followers) di media sosial mereka.
Namun, dari seluruh data keuangan, aspek paling krusial yang dicatat Raymond adalah pengakuan risiko utama dalam dokumen OJK.
"Secara eksplisit, RANS menulis bahwa kelangsungan perusahaan mereka bertumpu secara absolut pada sosok Raffi Ahmad, Nagita Slavina, dan keluarga sebagai daya tarik utama," ujar Raymond.
Hal ini menurutnya dinilai menjadi red flag besar bagi para investor jangka panjang.
Berbeda dengan perusahaan teknologi yang memiliki sistem atau produk yang tetap berjalan meski CEO-nya mundur, produk utama dari RANS adalah manusia itu sendiri.
"Jika Raffi atau Nagita tiba-tiba tersandung isu reputasi, masalah kesehatan, atau memilih mundur dari ruang publik, maka lini bisnis periklanan dan manajemen talenta mereka akan langsung lumpuh total. Uang yang kita investasikan bertumpu pada kehidupan pribadi artis, bukan sistem," tegas Raymond.
Strategi Diversifikasi: AI hingga Cipung Land
Sadar akan kelemahan fatal tersebut, manajemen RANS mencoba melakukan diversifikasi agar tidak sepenuhnya bergantung pada figur utama.
Sekitar 8?na hasil IPO direncanakan untuk mendanai proyek Joint Venture teknologi AI bersama PT Fitloop Global Technology.
Selain itu, dana segar publik juga akan dialokasikan untuk pembangunan aset produktif seperti taman hiburan Cipung Land demi menggeser sumber pendapatan ke sektor penjualan tiket fisik.
Kendati demikian, papar Raymond dengan harga saham IPO yang diproyeksikan berada di angka Rp135 hingga Rp170 per lembar, nilai valuasi RANS dianggap sangat mahal (premium) karena memiliki Price to Earnings Ratio (PER) mencapai 30 hingga 38 kali lipat.
Angka ini jauh melampaui rata-rata PER IHSG yang hanya berada di kisaran 9,9 kali.
"Secara rekam jejak (track record) tiga tahun terakhir yang terus menurun, investasi ini dinilai no go. Namun, di era attention economy sekarang, jika Anda percaya pada prospek ekspektasi masa depan, keputusan akhir tetap berada di tangan Anda," kata Raymond.
Menurut Raymond, strategi mendanai proyek Joint Venture teknologi AI bersama PT Fitloop Global Technology masuk akal karena bertujuan menciptakan sumber pendapatan yang tidak sepenuhnya bergantung pada aktivitas Raffi Ahmad sebagai figur publik.
Meski demikian, ia mempertanyakan apakah dana IPO sekitar Rp430 miliar cukup untuk membiayai transformasi bisnis tersebut hingga menghasilkan pendapatan yang lebih stabil.
Valuasi Dinilai Bertumpu pada Ekspektasi
Dalam perhitungannya, harga IPO RANS di kisaran Rp135-Rp170 per saham membuat valuasi perusahaan berada pada rasio price to earnings (PER) sekitar 30-38 kali.
Angka tersebut jauh lebih tinggi dibanding rata-rata PER pasar saham Indonesia yang berada di kisaran 10 kali.
Raymond menyebut valuasi premium tersebut hanya dapat dibenarkan apabila berbagai proyek pengembangan RANS mampu menghasilkan pertumbuhan signifikan di masa depan.
"Yang dibeli investor adalah ekspektasi, bukan track record," ujarnya.
Di akhir analisanya, Raymond menegaskan dirinya tidak mengajak publik membeli ataupun menghindari saham RANS.
Ia justru mendorong calon investor memahami risiko serta membaca prospektus secara menyeluruh sebelum mengambil keputusan investasi.