Dalam 9 Hari, 5 Calon Manajer Kopdes Merah Putih Tewas saat Ikuti Latsarmil
muh radlis June 28, 2026 09:14 AM

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Jumlah korban meninggal dalam Latihan Dasar Militer (Latsarmil) Calon Manajer Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih (KDKMP) terus bertambah.

Yang, terbaru dua peserta Latsarmil meninggal, pada Jumat (26/6/2026).

Hingga hari ini, korban tewas dalam latsarmil calon manajer Kopdes Merah Putih telah berjumlah lima orang.

Jika dihitung dari korban meninggal pertama, pada 17 Juni silam, berarti hanya dalam tempo sembilan hari, lima peserta latsarmil tumbang.

Mereka meninggal sebelum sempat bertugas sebagai manajer KDKMP.

Dua korban terakhir, yakni Muhammad Rifki Renaldi Gunawan, dari Satdik Yon Parako 465, dan Nola Dya Sari, dari Satuan Pendidikan C Kalimantan, yang meninggal dunia, pada Jumat lalu.

Rifki meninggal setelah mengalami pneumonia atau infeksi paru-paru yang disertai komplikasi medis.

Berdasarkan riwayat kesehatannya, almarhum juga memiliki hipertensi dan obesitas.

Adapun Nola semula mengikuti kegiatan pembelajaran tanpa keluhan, pada Jumat lalu.

Namun, pada malam harinya ia mengalami sesak napas dan demam sebelum akhirnya meninggal dunia setelah mendapatkan penanganan di dua rumah sakit.

Sebelumnya, Yonanda Muhammad Taufiq, menjadi korban meninggal pertama dalam Latsarmil Calon Manajer KDKMP.

Taufiq meninggal setelah mengalami penurunan kesadaran saat kegiatan pengenalan lingkungan di Puslatpur Kodiklatad Baturaja, pada 17 Juni 2026.

Berdasarkan diagnosis medis, penyebab kematiannya adalah cardiac arrest atau henti jantung. 

Peserta kedua, Anisa Muyassaroh, mengeluhkan sesak napas dan mual sebelum kegiatan pembelajaran di Dodik Kejuruan Rindam VI/Mulawarman, Balikpapan, pada 18 Juni.

Setelah menjalani perawatan di rumah sakit, ia dinyatakan meninggal dunia akibat heat stroke.

Adapun korban ketiga, yakni Novia Ramadani Sihotang dari Satdik Pusbahasa Kodiklatau, yang sempat menjalani perawatan intensif setelah didiagnosis menderita tuberkulosis paru aktif.

Ia meninggal dunia, pada 23 Juni 2026, akibat penyakit tersebut.

Bela sungkawa

Kementerian Pertahanan (Kemenhan) menyampaikan belasungkawa mendalam atas meninggalnya lima peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) 2026 saat mengikuti Latsarmil Calon Manajer KDKMP.

"Kami menyampaikan belasungkawa yang mendalam kepada seluruh keluarga almarhum-almarhumah," kata Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kemenhan, Mayjen TNI Ketut Gede Wetan, dalam konferensi pers di Gedung Kemenhan, Jakarta, Sabtu (27/6/2026). 

Ketut mengatakan, sejak mengalami gangguan kesehatan, kelima peserta telah memperoleh penanganan dari tenaga kesehatan di satuan pendidikan sebelum dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan lanjutan.

Menurut dia, masing-masing peserta memiliki karakteristik dan kondisi medis yang berbeda sehingga penanganannya juga disesuaikan dengan kondisi masing-masing. 

“Seluruh peserta telah dinyatakan memenuhi syarat kesehatan sebelum mengikuti pelatihan,” katanya.

Ketut mengatakan, Menteri Pertahanan (Menhan), Sjafrie Sjamsoeddin, telah menginstruksikan evaluasi menyeluruh terhadap penyelenggaraan latihan, terutama pada aspek kesehatan peserta.

"Atas arahan Menteri Pertahanan, penguatan aspek kesehatan peserta menjadi perhatian utama. Pemeriksaan berkala bagi peserta yang memiliki faktor risiko, penyesuaian intensitas kegiatan sesuai dengan kondisi peserta, serta penguatan pengawasan medis di satuan pendidikan," terang Ketut. 

Kemenhan juga menggandeng Kementerian Kesehatan untuk memperkuat upaya pencegahan dan penanganan penyakit, khususnya penyakit paru dan penyakit menular di lingkungan pendidikan.

Selain itu, pendampingan keluarga korban, membantu proses pemulangan jenazah, memberikan santunan, serta mengurus seluruh hak para peserta juga sudah dilakukan.

Santunan

Di sisi lain, Kemenhan memberikan santunan Rp 50 juta kepada tiap keluarga lima peserta Latsarmil calon manajer KDKMP.

"Ada santunan yang diberikan kepada keluarga yang bersangkutan langsung sampai pengantaran mulai dari proses di kejadian di tempat sampai dengan pemakaman sebagai bentuk tanggung jawab dan perhatian kita sebagai penyelenggara khususnya sebagai representasi negara," kata Ketut.

Dia menyebutkan, bantuan yang diberikan pun tidak hanya berupa santunan, tetapi juga pendampingan sejak proses evakuasi hingga pemakaman.

Menurut dia, Kemenhan juga membantu seluruh proses penanganan jenazah, mulai dari lokasi kejadian, pengantaran ke daerah asal, hingga pemakaman. 

Selain itu, komunikasi dengan keluarga korban disebut tetap dilakukan, meski seluruh proses pemakaman telah selesai.

"Tidak putus di sana, kita juga tetap melaksanakan komunikasi dengan keluarga yang ditinggalkan untuk koordinasi dan mengomunikasikan lebih lanjut," kata Ketut. 

Pernyataan itu disampaikan saat menjawab pertanyaan mengenai permintaan pertanggungjawaban dari keluarga salah satu korban, Novia Rahmadhani Sihotang.

Sebelumnya, kakak kandung Novia, Heri Sihotang mengatakan, keluarganya telah mengikhlaskan kepergian Novia.

Namun, ia meminta agar peristiwa tersebut menjadi bahan evaluasi sehingga tidak kembali terulang.

Heri juga berharap, ada bentuk tanggung jawab moral dari penyelenggara program hingga pemerintah. 

"Kami juga berharap, atas kejadian ini ada bentuk tanggung jawab moral dari instansi terkait juga sampai kepada pemimpin negara ini," ujarnya. (Kompas.com/Tribunnews) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.