Wajah Lebam dan Syok, 2 Mahasiswa Unair Demo Indonesia Sekarat di Grahadi Akhirnya Dibebaskan Polisi
Sudarma Adi June 28, 2026 09:14 AM

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Luhur Pambudi

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Suasana haru dan sorak-sorai solidaritas pecah di depan pintu gerbang utama Mapolrestabes Surabaya, Sabtu (27/6/2026) malam.

Satu per satu demonstran aksi #IndonesiaSekarat yang sempat ditangkap paksa oleh aparat kepolisian sejak Jumat malam, kini mulai dibebaskan secara bertahap setelah terbukti bersih dari aksi perusakan fasilitas publik.

Pantauan di lokasi sejak pukul 20.15 WIB, beberapa demonstran tampak keluar menyusuri lapangan utama markas kepolisian dengan langkah kaki mantap sembari memanggul tas ransel.

Setibanya di luar gerbang, mereka langsung disambut pelukan erat serta isak tangis dari ratusan kerabat, sahabat, dan rekan seharian yang setia menunggu di pinggir jalan.

Di antara massa yang dibebaskan pada klaster pertama, tampak dua mahasiswa semester empat Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Airlangga (Unair), yakni RD dan RA.

Keduanya keluar dengan kondisi fisik memprihatinkan, kelelahan, dan mengalami syok berat sehingga belum sanggup memberikan pernyataan langsung kepada awak media.

Baca juga: Polisi Tangkap Belasan Demonstran saat Demo Ricuh di Depan Gedung Negara Grahadi Surabaya

Ketua HIMA Antropologi BEM Fisip Unair, Adam Wahyu Saputra, yang bertindak sebagai juru bicara kedua mahasiswa tersebut, membenarkan adanya indikasi tindakan represif berupa kekerasan fisik yang menimpa rekannya saat proses penangkapan oleh polisi berpakaian sipil di kawasan Jalan Pemuda.

"Kondisi terkini teman-teman kita bisa dibilang relatif stabil secara psikis namun butuh istirahat total. Dapat kita lihat bersama, wajah RD mengalami luka memar bengkak dan ada pendarahan lebam di bagian mata akibat pukulan atau benturan benda tumpul. Sementara RA terus mengeluhkan rasa sakit nyeri di daerah perut," ungkap Adam dengan nada getir di depan pagar Mapolrestabes Surabaya, Sabtu (27/6/2026) malam.

Adam menegaskan, momentum pembebasan ini menjadi refleksi penting bagi gerakan mahasiswa ke depan. "Ini pelajaran berharga. Satu-satunya cara membebaskan korban yang tertindas dan melindungi mereka secara hukum berkeadilan adalah dengan memperkuat simpul solidaritas bersama," imbuhnya.

Rincian Data KontraS: Dari Mahasiswa, Pelajar, hingga Penjual Kopi

Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Surabaya, Fatkhul Khoir, menjabarkan data resmi mengenai latar belakang 24 demonstran yang sempat mendekam di ruang pemeriksaan.

Dari total 24 orang, sebanyak 23 orang merupakan laki-laki dan satu orang berjenis kelamin perempuan.

Dilihat dari klaster pendidikan, terdapat empat orang berstatus mahasiswa aktif, dengan rincian dua mahasiswa Unair, satu mahasiswa UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, dan satu mahasiswa Universitas Terbuka (UT).

Selain itu, terdapat dua orang anak di bawah umur yang masih berstatus sebagai pelajar aktif berusia kisaran 16 tahun.

Sementara itu, untuk satu-satunya demonstran perempuan yang diamankan, Fatkhul meluruskan bahwa sosok tersebut bukanlah bagian dari komplotan perusuh, melainkan warga sipil biasa yang bekerja sebagai penjual kopi keliling (sektor informal).

"Satu demonstran perempuan ini statusnya murni sebagai saksi. Kesehariannya dia merupakan penjual kopi. Ia diamankan karena bertindak sebagai salah satu orator dalam konvoi aksi tersebut. Informasi yang kami terima, materi pemeriksaan penyidik terhadap dirinya lebih banyak menggali dan mempertanyakan seputar isi atau substansi orasi yang ia teriakkan di depan Grahadi sebelum kerusuhan pecah," beber Fatkhul Khoir.

Pengawalan 24 Jam Penuh Aliansi Masyarakat Sipil

Di sisi lain, proses pembebasan bertahap ini tidak lepas dari tekanan moral puluhan elemen mahasiswa gabungan BEM se-Surabaya dan aliansi masyarakat sipil.

Menteri Politik dan Kajian Strategis BEM Fisip Unair, M. Fajrul Mulk S. Putra Mahkota, mengungkapkan bahwa massa solidaritas telah mengokupasi teras gapura dan taman depan Mapolrestabes Surabaya sejak Jumat malam pukul 22.00 WIB.

Mereka secara bergiliran menggelar tikar, menjaga logistik makanan, serta mengawal jalannya pemeriksaan luar hingga Sabtu malam demi memastikan tidak ada hak hukum para demonstran yang dilanggar sepihak oleh penyidik.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.