Spektakuler DASS 100 Tahun Gontor Semua Disiapkan Mandiri oleh Santri dan Guru
Wiwit Purwanto June 28, 2026 09:50 AM

 

SURYA.CO.ID, PONOROGO – Pagelaran Darussalam All Star Show (DASS) dalam rangka peringatan 100 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) berlangsung spektakuler dan sukses memikat ribuan penonton di Ponorogo, Sabtu (27/6/2026) malam.

Kemegahan pertunjukan yang digarap secara mandiri oleh santri dan guru itu berulang kali disambut riuh tepuk tangan.

Lapangan sepak bola Pondok Modern Darussalam Gontor di Desa Gontor, Kecamatan Mlarak, berubah menjadi panggung kolosal yang dipenuhi cahaya, musik, dan ragam pertunjukan seni.

Sejak pembukaan hingga penampilan terakhir, ribuan penonton larut dalam kemeriahan yang menampilkan kreativitas lebih dari 1.200 santri dan guru PMDG Kampus 1 dan Kampus 2.

Menariknya, seluruh rangkaian acara hampir sepenuhnya disiapkan oleh warga pondok sendiri tanpa bergantung pada sponsor maupun tenaga profesional dari luar, menjadikan DASS sebagai cerminan kemandirian sekaligus pendidikan karakter yang selama ini diterapkan Gontor.

Baca juga: Pendidikan Pesantren Jadi Sorotan Dunia, Gontor Gelar GIHES 2026 di Jakarta 

Pantauan di lokasi, pembukaan DASS 100 Tahun Gontor berlangsung meriah. Dua santri membuka acara dengan membawakan lagu tema (OST) DASS yang kemudian dilanjutkan penampilan kolosal ribuan santri dan guru, diiringi pesta kembang api yang memukau.

Tepuk tangan penonton terus bergema saat satu demi satu pertunjukan ditampilkan. Mulai teater, reog, tarian daerah, tari Jepang, tari India, drama kehidupan hingga konser musik tampil silih berganti di panggung megah tersebut.

Berbeda dengan Drama Arena maupun Panggung Gembira yang rutin digelar di Gontor, DASS menjadi pertunjukan istimewa karena melibatkan tidak hanya santri, tetapi juga para guru.

Pagelaran yang hanya diselenggarakan setiap satu dekade ini menjadi ruang ekspresi sekaligus unjuk kemampuan seni dalam skala nasional hingga global.

Ketua DASS, Al-Ustadz Hasan Mutaqin, mengatakan penyelenggaraan DASS merupakan bentuk rasa syukur atas perjalanan satu abad Pondok Modern Darussalam Gontor sekaligus implementasi nyata sistem pendidikan yang diterapkan di lingkungan pondok.

Baca juga: 100 Tahun Gontor Meriah, Wayang Kulit Jadi Ruang Pendidikan dan Spirit Dakwah 

“Gabungan dari Pondok Gontor 1 dan 2. Yang jumlahnya lebih dari 1.200 guru dan santri. Mereka telah mempersiapkan acara kurleb 3 minggu,” ungkap Ketua DASS Al-Ustadz Hasan Mutaqin, Sabtu malam.

Ia menjelaskan, ribuan santri dan guru yang terlibat tidak hanya menjadi pengisi acara, tetapi juga menangani berbagai kebutuhan mulai persiapan penampilan, sarana prasarana hingga pembuatan properti.

“Kami meyakini bahwa setiap gerak, setiap nada, setiap karya dan setiap tetes keringat jerih payah santri dan guru adalah sebuah proses dari pendidikan yang membentuk karakter, kepribadian, kedisiplinan dan keikhlasan,” tegasnya.

Seluruh Pertunjukan Digarap Warga Pondok

Pagelaran DASS secara resmi dibuka oleh Pimpinan PMDG, K.H. Hasan Abdullah Sahal dan Drs. K.H. M. Akrim Mariyat, Dipl.A.Ed. Dalam sambutannya, K.H. Hasan Abdullah Sahal menegaskan bahwa hampir seluruh proses penyelenggaraan berasal dari dalam lingkungan pondok.

“Saya sama pak Akrim (Drs. K.H. M. Akrim Mariyat, Dipl.A.Ed.) cuma 5 persen. Lainnya anak-anakku semua,” ungkap Pimpinan PMDG, K.H. Hasan Abdullah Sahal.

Ia kemudian mengenang perjalanan panjang peringatan hari lahir Pondok Modern Darussalam Gontor yang telah diikutinya sejak masih duduk di bangku sekolah dasar.

“Kemudian mengikuti 40 th Pondok Modern, tahun 1967. Kemudian mengikuti lagi 50 tahun, 1978. Sebenarnya tahun 1976 tapi diperingati 1978,” kenangnya.

Menurutnya, pada peringatan satu abad ini, dirinya bersama pimpinan pondok hanya berperan kecil dalam kepanitiaan karena seluruh proses menjadi ruang belajar bagi generasi penerus.

“Acara ini jujur saja saya katakan, sy dg pak akhrim hanya 5 persen ikut dalam kepanitiaan ini. Karena anak-anak ini generasi untuk 200 tahun yang akan datang,” terangnya.

Ia menegaskan bahwa hampir seluruh penyelenggaraan berasal dari internal pondok.

“Dari penyelenggaraannya, penampilan dan fasilitas semuanya insya allah 95-99 persen dari dalam Pondok Modern Darussalam Gontor,” tuturnya.

Menurutnya, DASS dibangun atas semangat kebersamaan, pengorbanan, dan kesungguhan sebagai bentuk syukur kepada Allah sekaligus hiburan bagi masyarakat.

“DASS ini pertama untuk mengingat allah, bersyukur kepada allah dan bertambah beribadahnya,” pungkasnya.

Dalam puncak peringatan 100 tahun PMDG, DASS menjadi ruang yang memperlihatkan bagaimana pendidikan di Gontor tidak hanya menekankan penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter, kreativitas, kepemimpinan, kedisiplinan, serta kemampuan bekerja sama berlandaskan nilai-nilai Islam.

Lebih dari sekadar pertunjukan seni, DASS 100 Tahun Gontor menjadi etalase perjalanan panjang pengabdian Pondok Modern Darussalam Gontor dalam mencetak kader umat dan calon pemimpin bangsa. Pagelaran ini diharapkan mampu menginspirasi masyarakat sekaligus menegaskan kesiapan Gontor memasuki abad kedua pengabdiannya.

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.