SURYA.CO.ID, SURABAYA – Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) meluncurkan Sekolah Manajemen dan Kesehatan Berkelanjutan (SMKB) sekaligus membuka Program Magister Manajemen (MM) dengan konsentrasi Manajemen Berkelanjutan, Jumat (26/6/2026).
Langkah ini menjadi bagian dari transformasi akademik Unusa dalam menyiapkan pemimpin masa depan yang memadukan nilai-nilai Islam dengan konsep keberlanjutan global.
Peluncuran sekolah baru tersebut menjadi salah satu agenda utama Dies Natalis ke-13 Unusa. Acara dihadiri Ketua Yayasan Rumah Sakit Islam (Yarsis) Prof. Mohammad Nuh, DEA, jajaran pimpinan universitas, akademisi, mitra industri, serta pakar internasional, termasuk Prof. Amrit Thapa dari University of Pennsylvania (UPenn), Amerika Serikat.
Kehadiran berbagai pemangku kepentingan itu menegaskan komitmen Unusa membangun ekosistem pendidikan yang mampu menjawab tantangan perubahan iklim, transformasi dunia kesehatan, hingga kebutuhan kepemimpinan berkelanjutan di tingkat global.
Rektor Unusa, Prof. Tri Yogi Yuwono, menegaskan bahwa kehadiran SMKB dan Program Magister Manajemen bukan sekadar penambahan program studi baru, melainkan bagian dari strategi kampus dalam mencetak pemimpin yang adaptif terhadap perubahan zaman.
Baca juga: 84 Persen Dokter Baru Unusa Dari Keluarga Non-Dokter, Bukti Akses Pendidikan Terbuka
"Peradaban dunia sedang menghadapi perubahan iklim, krisis lingkungan, ketimpangan sosial, hingga tantangan baru di sektor kesehatan. Karena itu, ukuran keberhasilan sebuah organisasi tidak lagi hanya ditentukan oleh keuntungan finansial, tetapi juga oleh kontribusinya terhadap keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat," ujarnya.
Menurut Tri Yogi, konsep keberlanjutan sejatinya telah lama menjadi bagian dari ajaran Islam melalui prinsip Khalifah fil Ardh, yakni amanah manusia untuk menjaga keseimbangan alam dan memakmurkan bumi.
"Di Unusa, keberlanjutan bukan sekadar mengadopsi konsep global, tetapi merupakan penerjemahan nilai-nilai Islam ke dalam kurikulum sains modern. SMKB menjadi bentuk ijtihad akademik untuk melahirkan pemimpin yang mampu menghadapi tantangan masa depan," katanya.
Program Magister Manajemen Unusa dirancang dengan pendekatan yang berbeda dibandingkan program serupa di perguruan tinggi lain.
Kurikulumnya dibangun di atas dua pilar utama, yakni penguasaan manajemen modern secara komprehensif yang mencakup manajemen pemasaran, keuangan, operasi dan rantai pasok, serta pengembangan sumber daya manusia.
Baca juga: Umsura Raih Penghargaan Kampus Unggul dengan Hibah Pengabdian Terbanyak
Pilar kedua menitikberatkan pada kemampuan analisis data dan pengambilan keputusan berbasis bukti (data-driven decision making) yang dipadukan dengan kerangka kerja Environmental, Social, and Governance (ESG) serta Sustainable Development Goals (SDGs).
"Lulusan MM Unusa akan mampu merancang strategi bisnis yang bukan hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga memenuhi prinsip tata kelola yang baik, berorientasi lingkungan, dan memberikan dampak sosial yang nyata," jelasnya.
Tri Yogi menambahkan, lahirnya SMKB juga menjadi langkah strategis yang mengintegrasikan keunggulan Unusa di bidang kesehatan dengan ilmu manajemen.
Menurutnya, hal itu semakin relevan setelah Unusa menempati peringkat ke-86 dunia dan peringkat ketiga nasional untuk indikator SDG 3 (Good Health and Well-being) dalam Times Higher Education (THE) Impact Rankings 2025.
"Capaian tersebut menjadi modal kuat bagi Unusa untuk mengembangkan kepemimpinan dan tata kelola sektor kesehatan yang berorientasi pada keberlanjutan. Kami ingin melahirkan manajer rumah sakit, pemimpin industri kesehatan, dan birokrat yang mampu mengelola sumber daya secara efektif demi kemaslahatan masyarakat," tuturnya.
Sementara itu, Dekan Sekolah Manajemen dan Kesehatan Berkelanjutan, Dr. Handayani, dr., M.Kes., mengatakan peluncuran sekolah baru tersebut juga diikuti berbagai agenda akademik berskala nasional maupun internasional sebagai upaya menjaga kualitas lulusan.
Salah satunya melalui Lokakarya Kurikulum Magister Manajemen yang menghadirkan Prof. Werner R. Murhadi dari Asosiasi Magister Manajemen Indonesia (AMMI). Lokakarya tersebut difokuskan untuk menyusun kurikulum yang adaptif terhadap kebutuhan industri global, transformasi digital, ekonomi sirkular, dan prinsip keberlanjutan.
"Melalui SMKB kami ingin membangun ekosistem pendidikan yang mampu melahirkan pemimpin masa depan dengan perspektif global, tetapi tetap berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan dan keberlanjutan," ujar Handayani.