FEATURE: Seluruh Ruangan Belajar di Unwira Kupang Menggunakan WIFI, 2030 Mahasiswa Unggul 
OMDSMY Novemy Leo June 28, 2026 01:19 PM

 

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang menargetkan akreditasi Unggul di tahun 2030 mendatang. Untuk itu, Unwira telah menyiapkan berbagai hal termasuk sumber daya manusia dan sarana prasarana yang diperlukan. 

Apa saja yang dipersiapkan dan dilakukan untuk meraih akreditasi unggul tersebut, berikut penuturan Rektor Unwira Kupang, Pater Dr. Stefanus Lio, SVD dalam Podcast Pos Kupang, Rabu (24/6)  yang dipandu jurnalis Pos Kupang, Ani Eno Toda. 

Seperti apa Unwira saat ini? 

Unwira merupakan universitas Katolik yang ada di Kota Kupang yang sudah lama berdiri. Kita sekarang hampir memasuki 44 tahun dengan 7 fakultas yaitu Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, FISIP, Fakultas Teknik, Fakultas Filsafat, Fakultas Hukum, Fakultas Sains dan Teknologi. 

Dari 7 fakultas itu ada 22 prodi yang tersebar 7 prodi ada di FKIP, ada Bahasa Inggris, Pendidikan Matematika, Pendidikan Biologi, Pendidikan Fisika, Pendidikan Kimia, kemudian Bimbingan Konseling dan Pendidikan Musik. 
Kemudian di FISIP ada 3 yaitu prodi Ilmu Pemerintahan, Ilmu Administrasi Publik dan Ilmu Komunikasi.  

Di Fakultas Teknik ada Ilmu Komputer, Teknik Arsitektur dan Teknik Sipil. Di Filsafat hanya ada Prodi Filsafat, kemudian Fakultas Hukum ada Prodi Hukum S1 dan kita mulai buka S2 Hukum di tahun ajaran baru ini, lalu di FEB ada Akuntansi, Manajemen,Ekonomi Pembangunan dan S2 Manajemen. Di FST ada Kimia, Biologi dan Teknologi Pangan.  

Sudah ada satu prodi Unggul yaitu Prodi Ilmu Komunikasi. Kira-kira itu dengan jumlah student yang aktif sekarang sekitar tujuh ribu lebih. 

Di mata Pater sendiri Unwira seperti apa? 

Unwira di mata saya adalah universitas Katolik yang memiliki visi menjadi komunitas akademik yang unggul berdasarkan iman Kristiani, berwawasan global dan berakar pada budaya lokal. Unwira di mata saya adalah universitas Katolik tetapi lebih berlandaskan nilai-nilai spiritual sang pendiri atau pelindung universitas yaitu St. Arnoldus Janssen. 

Jadi Unwira bagi saya adalah universitas Katolik tetapi sangat bersifat inklusif. Kita tidak hanya menerima yang Katolik tetapi menerima semua orang dengan segala latar belakang dan Unwira yang sekarang dengan brandnya adalah kearifan lokal, budaya, mengarahkan semua civitas akademika Unwira untuk mengembangkan kearifan lokal baik dalam hal pengajaran pendidikan, penelitian maupun pengabdian kepada masyarakat. 

Apa yang disiapkan pihak kampus ketika masyarakat memilih Unwira sebagai tempat untuk melanjutkan studi? 

Unwira tentu punya kewajiban menyediakan banyak hal untuk menjawab kebutuhan mahasiswa. Pertama, dosen. Kualitas SDM itu harus disiapkan betul sehingga Unwira Unggul itu bisa tercapai.

Dosen harus kita siapkan sehingga dia benar-benar melakukan Tri Dharma Pendidikan Tinggi yang bisa menyiapkan peserta didik untuk bekerja. Saya kita kualitas SDM itu penting. 

Yang kedua, tentu sarana prasarana perlu kita lengkapi supaya ketika ada beberapa program studi yang sudah tidak bisa menampung mahasiswa, itu salah satu karena kapasitas, maka kita perlu bekerja keras untuk membangun atau menambah ruang kelas supaya mahasiswa yang mungkin punya keinginan untuk masuk bisa diakomodir.

Lalu yang berikut, IT dalam hal ini jaringan internet mesti disediakan karena sekarang ini mahasiswa masuk kampus kan mereka hemat data. Di kampus mereka harus gunakan itu jadi kita konsentrasi ke sana. 

Kita sudah buat setiap kelas ada WiFinya jadi mahasiswa ketika pembelajaran dia sudah menggunakan jaringan itu, apalagi sekarang kita kuliah by system, Sevima, Siakad, Edlink, jadi semua daftar hadir, mata kuliah, semua ada dalam sistem.

Kalau tidak ada jaringan internet, mahasiswa mau akses bagaimana? Karena itu saya mengimbau para orangtua di rumah, kalau anak-anak minta HP android itu berarti tidak bisa ditolak, itu wajib. Kalau tidak ada handphone paling tidak ada laptop karena kita siapkan internetnya.

Prinsip saya, bapak dan mama, pergi kebun harus bawa pacul, parang, alat kerja kan? Maka alat kerja anak-anakmu di kampus adalah handphone dan laptop. 

Hal lain Unwira juga dilihat di brosur itu ada beberapa beasiswa yang kita tawarkan diantaranya ada beasiswa KIP Kuliah, beasiswa KIP UKT, beasiswa Van Deventer, beasiswa Solidaritas Unwira dan beasiswa lainnya yang kadang ditawarkan mitra lalu kita open kepada para mahasiswa untuk boleh mendaftar.

Sudah ada syarat di antaranya kalau KIP desil 1 sampai 5 dan diusahakan sejak SMA mereka sudah ada Kartu Indonesia Pintar. Kalau itu sudah ada maka agak lebih mudah karena KIP yang disediakan ini memang bergantung pada kuota yang disediakan oleh negara untuk universitas. 

Dari segi kurikulum seperti apa untuk mempersiapkan Unwira menuju akreditasi Unggul? 

Sekarang karena yang dituntut adalah kurikulum OBE (Outcome-Based Education), kebetulan sekarang ini saya pastikan bahwa seluruh program studi yang ada di Unwira sejak tahun akademik yang baru akan berlaku kurikulum OBE.

Karena dari bulan April, Mei, Juni, kita sudah mulai pelatihan dengan kurikulum OBE bekerjasama dengan Sevima. Minggu ini sebenarnya kami istirahat dulu karena masih UAS, mulai minggu depan semua sudah kembali ke proyek kurikulum OBE.

Itu kurikulum yang dirancang supaya mahasiswa setelah tamat sarjana mau bekerja sesuai dengan kompetensinya. 

Kalau syarat Unggul lainnya kita lagi berusaha supaya di tahun 2029-2030 Unwira bisa Unggul dengan syarat 30 persen dari prodi yang ada itu harus unggul maka kerja kami adalah membuat pemetaan prodi-prodi mana yang bisa Unggul di dua tahun berikut ini.

Kita sudah petakan, sudah dapat tujuh atau delapan prodi maka Unwira bisa Unggul. Yang kedua, SDM doktor paling tidak harus lebih dari 50 persen dari jumlah sekarang yang saya lihat di sistem, sekitar 254 itu harus doktor.

Itu yang kita lagi kirim para dosen untuk studi doktor baik biaya beasiswa oleh yayasan, maupun lewat LPDP dan beasiswa lainnya. Lalu yang berikut adalah gabungan lektor, lektor kepala dan guru besar itu diperkirakan harus 70 persen. 

Sekarang berapa yang ada? 

Sekarang kita sudah 60-an persen untuk sampai ke sana maka kita dorong semua dosen untuk tenaga pengajar dan asisten ahli untuk kejar ke lektor.

Itu kita wajibkan untuk memiliki jabatan fungsional lektor, lalu setelah sekian tahun lektor kepala, sekian tahun menuju guru besar. Unwira sekarang kan belum punya guru besar.  Diharapkan di 2027 itu kami sudah bisa dapat satu atau dua orang guru besar. (uzu)

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.