TRIBUNPALU.COM - Kunjungan politik Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), ke Provinsi Lampung disorot tajam.
Safari politik bersama Partai Solidaritas Indonesia (PSI) itu dinilai menjadi sinyal melemahnya daya tarik politik mantan kepala negara tersebut.
Agenda yang berlangsung pada akhir Juni 2026 ini menuai respons yang tidak sesuai prediksi awal.
Antusiasme warga setempat dinilai tidak sebesar yang diperkirakan oleh pihak penyelenggara.
Selain jumlah peserta yang terbatas, kunjungan ini juga diwarnai aksi penolakan dari sekelompok masyarakat.
Penilaian tersebut disampaikan langsung oleh Pengamat Komunikasi Politik Universitas Esa Unggul, Jamiluddin Ritonga.
Menurutnya, realitas di lapangan sangat jauh dari target yang ingin dicapai oleh internal PSI.
PSI berharap kehadiran tokoh sekaliber Jokowi dapat memobilisasi massa dalam jumlah masif di Lampung.
Baca juga: Jadwal Kapal Pelni di Sulawesi Tengah Juni-Juli-Agustus: KM Lambelu Singgah di Balikpapan, Larantuka
Namun, Jamiluddin menyebut jumlah warga yang datang ke lokasi acara tergolong sangat sedikit.
"Safari politik Jokowi ke Provinsi Lampung tampaknya jauh dari harapan PSI. PSI berharap kehadiran Jokowi akan mendapat sambutan meriah dari warga Lampung. Nyatanya, dilihat dari warga yang hadir, jumlahnya terbilang terbatas," kata Jamiluddin dikutip dari Tribunnews, Minggu (28/6/2026).
Kondisi ini dinilai sangat kontras jika dibandingkan dengan pencapaian Jokowi terdahulu.
Pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019, Lampung merupakan salah satu basis lumbung suara Jokowi.
Saat itu, sekitar 59,3 persen pemilih di Lampung memberikan suaranya kepada Jokowi.
"Sambutan itu tak sesuai dengan jumlah yang memilih Jokowi pada Pilpres 2019. Saat itu, yang memilih Jokowi ada 59,3 persen dari warga Lampung yang memiliki hak pilih," ujarnya.
Menurut Jamiluddin, respons tersebut menunjukkan Jokowi tidak lagi memiliki magnet politik yang kuat untuk menarik perhatian masyarakat.
"Jokowi bagi warga Lampung bukan lagi sosok yang punya magnet politik, apalagi untuk menghipnotis warga Lampung agar berduyun-duyun menyaksikan kehadirannya," katanya.
Ia juga menyoroti aksi penolakan yang dilakukan sekelompok warga dalam kunjungan tersebut. Menurutnya, demonstrasi itu mencerminkan adanya perubahan persepsi sebagian masyarakat terhadap Jokowi.
"Jokowi malah dianggap sosok bermasalah. Hal itu terlihat dari demo emak-emak yang menolak kehadiran Jokowi di Lampung," ujarnya.
Baca juga: PSI Siapkan Momen Pas untuk Resmikan Jokowi Jadi Dewan Pembina
Lebih lanjut, Jamiluddin menilai kondisi tersebut membuat kehadiran Jokowi sulit memberikan dampak signifikan terhadap elektabilitas PSI.
"Karena itu, Jokowi bukan lagi dianggap solusi, apalagi untuk mengalihkan warga beralih ke PSI. Hal ini tentu mengindikasikan pula kehadiran Jokowi di Lampung tampaknya sulit mendongkrak elektoral PSI," ucapnya.
Ia memperkirakan fenomena serupa berpotensi terjadi di daerah lain apabila tingkat kepercayaan masyarakat terhadap Jokowi terus menurun.
"Kasus sambutan warga Lampung terhadap Jokowi berpeluang terjadi di daerah lain. Masyarakat di provinsi lain bisa saja mengabaikan kedatangan Jokowi," katanya.
"Hal itu sangat berpeluang terjadi karena trust masyarakat terhadap Jokowi sudah sangat rendah. Karena itu, safari politik Jokowi ke provinsi lain bisa saja disambut secara terbatas. Bahkan tak menutup kemungkinan gelombang demo menolak Jokowi akan semakin besar," imbuhnya.
Menurut Jamiluddin, jika kondisi tersebut terus berlanjut, Jokowi kemungkinan hanya akan mendapat sambutan dari kader PSI dan para relawannya.
"Kalau itu yang terjadi, kehadiran Jokowi di daerah memang sudah tidak dikehendaki. Jokowi paling disambut kader PSI dan relawan Jokowi. Hal itu tentu menjadi pukulan telak bagi Jokowi yang, menurut penilaian saya, masih merasa dirinya digdaya dan menjadi suhu politik di tanah air," pungkasnya.(*)