Laporan Wartawan Serambi Indonesia, Yusmandin Idris | Bireuen
SERAMBINEWS.COM, BIREUEN – Jembatan Apung Kepala Hiu di Desa Pante Lhong, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen, dipadati kendaraan roda dua dan roda empat, Sabtu (27/6/2026) siang hingga malam.
Para pengendara terpaksa menggunakan jalur alternatif tersebut setelah Jembatan Krueng Tingkeum di Kecamatan Kutablang ditutup sementara untuk perbaikan.
Penutupan dilakukan mulai pukul 13.00 hingga 20.00 WIB karena sekitar 20 keping lantai Jembatan Bailey mengalami kerusakan dan harus segera diperbaiki.
Setelah informasi penutupan beredar, kendaraan dari arah Kutablang maupun Peusangan, termasuk minibus dan angkutan umum jenis Hiace, beralih melintasi Jembatan Apung Kepala Hiu.
Sementara itu, truk seperti Colt Diesel memilih memutar melalui Jembatan Awe Geutah Paya di Teupin Reudeup, Kecamatan Peusangan Selatan.
Ratusan sepeda motor juga tampak mengantre untuk menyeberangi jembatan swadaya masyarakat tersebut.
Pantauan Serambinews.com seusai salat Magrib, puluhan kendaraan silih berganti melintasi jembatan dengan pengawalan warga setempat. Pengemudi mobil terlihat sangat berhati-hati karena jembatan yang ditopang drum besi tersebut bergoyang saat dilintasi kendaraan.
Pengaturan arus lalu lintas dilakukan secara bergantian oleh puluhan warga Desa Pante Lhong dan Desa Pante Baro Kumbang, Kecamatan Peusangan Siblah Krueng. Mereka saling berkoordinasi menggunakan handy talky (HT) dan peluit untuk mengatur kendaraan dari kedua arah.
Baca juga: Jembatan Kutablang Ditutup, Sebagian Minibus Gunakan Jembatan Apung Kepala Hiu
Selain warga, personel Polsek Peusangan, Koramil Peusangan, serta perangkat desa juga berada di lokasi untuk membantu menjaga ketertiban.
Pada malam hari, cahaya lampu kendaraan yang mengantre menciptakan pemandangan tersendiri di kawasan tersebut. Meski harus menunggu giliran, para pengendara tampak sabar hingga bisa melintasi jembatan.
Penanggung jawab lapangan, Muakhir, didampingi Ketua Pemuda Pante Lhong, Nasruddin, mengatakan pihaknya langsung berkoordinasi dengan warga di seberang sungai setiap kali Jembatan Kutablang ditutup agar antrean kendaraan tidak terlalu panjang.
"Beginilah kondisi di sini ketika Jembatan Kutablang ditutup. Mau melarang bagaimana, semua ingin melintas. Kami hanya mengatur agar semua pelintas bisa lewat dengan tertib," ujarnya.
Menurutnya, Jembatan Apung Kepala Hiu memiliki lebar sekitar 2,5 meter dengan panjang sekitar 70 meter. Kondisinya memang darurat karena lantainya terbuat dari papan pohon kelapa, sehingga setiap pengendara diminta melintas dengan sangat hati-hati.
Arus Sungai Peusangan yang deras membuat jembatan semakin bergoyang saat kendaraan melintas. Warga pun rutin memeriksa kondisi jembatan, dan apabila ditemukan papan lantai yang rusak, langsung diperbaiki di lokasi.
Salah seorang pengguna jalan, Jefri, warga Aceh Tamiang yang sedang dalam perjalanan pulang dari Banda Aceh, mengaku mengapresiasi inisiatif masyarakat menyediakan jalur alternatif.
"Masyarakat Aceh punya ide yang brilian. Walaupun akses utama rusak, tetap diupayakan ada jalan alternatif terbaik bagi para pelintas," katanya.
Jefri mengaku mengetahui keberadaan Jembatan Apung Kepala Hiu setelah bertanya kepada sejumlah warga yang kemudian menunjukkan arah menuju lokasi tersebut. (*)