TRIBUNPADANG.COM, PADANG- Menghabiskan waktu hingga berjam-jam di dalam kabin truk yang panas demi mengantre solar, kini sudah dianggap Dava sebagai bagian dari risiko pekerjaan.
Sopir truk CPO ini pun harus menerima dengan lapang dada.
Berjuang dengan rekan sopir truk lainnya, antrean panjang di SPBU pun sudah menjadi rutinitas hidupnya.
Sejak bahan bakar subsidi solar tak lagi mudah didapatkan kapan saja, Dava dan sesama pengemudi truk pun harus meluangkan waktu lebih banyak hanya untuk antre solar.
Baca juga: Antre Sejam Asal Tangki Penuh Solar, Sopir Truk: Daripada di Tengah Jalan Pusing dan Mengantre Lagi
Kini waktu tidak lagi bisa digunakan secara maksimal di jalan.
Waktu pun harus disediakan lebih banyak untuk antre solar yang tidak sebentar.
Ditemui saat antre solar di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Pertamina Kayu Gadang, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, Minggu (28/6/2026), Dava mengakui bahwa perjalanannya membawa muatan berton-ton CPO sering kali harus tersendat cukup lama hanya untuk mengamankan pasokan solar di dalam tangki kendaraannya.
"Antre Solar di sini memang butuh waktu yang sangat lama, tidak bisa sebentar atau sekadar lewat saja," keluh Dava.
Di bawah terik matahari Kota Padang, puluhan truk berukuran besar tampak mengular panjang, menciptakan barisan barikade besi yang memadati area pengisian hingga meluber ke bahu jalan raya.
Bagi para sopir truk, pemandangan antrean yang padat merayap di jalur solar bersubsidi ini sudah menjadi menu wajib yang harus mereka santap hampir setiap hari.
Baca juga: Curhat Sopir Truk di Padang: Rela Antre Solar Demi Kejar Muatan Esok Pagi
Durasi mengantre di SPBU Simpang Kampus tersebut menjadi sangat lambat karena volume kendaraan besar yang masuk sangat melimpah.
Tak hanya itu, setiap truk yang masuk ke jalur pengisian dipastikan akan memakan waktu lama karena rata-rata melakukan pengisian hingga kapasitas maksimal.
Langkah pengisian hingga tangki penuh (full tank) tersebut terpaksa dilakukan para sopir sebagai bagian dari strategi operasional kerja mereka selama di perjalanan.
"Sebab, rata-rata sopir yang masuk ke sini pasti langsung isi penuh tangki mereka. Ini semua demi operasional kerja di jalan," jelas Dava menerangkan situasi di lapangan.
Bagi Dava dan rekan-rekan seprofesinya, strategi langsung mengisi penuh bahan bakar ini jauh lebih efisien ketimbang mereka harus berulang kali mampir ke SPBU lain.
Mereka enggan mengambil risiko kehabisan bahan bakar di tengah jalan atau harus membuang waktu berharga untuk mengantre lagi di daerah lain yang belum tentu menyediakan stok Solar.
"Daripada nanti di tengah jalan kita harus pusing dan mengantre lagi dari awal, lebih baik sekali masuk langsung kita penuhi semuanya," tambahnya.
Ia mengaku tidak keberatan jika harus kehilangan waktu berharga demi memastikan kendaraannya mendapatkan pasokan bahan bakar yang cukup untuk menempuh perjalanan jauh.
Bagi Dava, yang terpenting adalah kepastian mendapatkan Solar agar operasional armada truk pengangkut CPO yang ia kemudikan bisa berjalan dengan aman dan lancar sampai ke tujuan.
"Biar sajalah kita harus antre lama sampai satu jam lebih di sini, yang penting tujuan utama kita dapat Solar. Kalau bahan bakar sudah terisi penuh, operasional dan kerjaan kami jadi tenang,"ucapnya.
Sementara itu, Irwan seorang sopir truk jenis Colt Diesel mengaku sudah terjebak di dalam barisan antrean selama hampir tiga puluh menit.
"Sabar aja dulu, mau bagaimana lagi. Kemudian kita juga harus bersyukur karena harga solar sampai saat ini masih aman dan tidak mengalami kenaikan," ungkap Irwan.
Ia menilai, stabilitas harga Solar bersubsidi saat ini sangat membantu kelangsungan mata pencaharian para sopir logistik, di tengah fluktuasi harga BBM nonsubsidi lainnya.
"Harganya masih stabil, beda cerita kalau dibanding dengan Pertamax atau Dexlite yang harganya naik melejit," tuturnya membandingkan.
Lebih lanjut, Irwan berharap pemerintah bisa mempertahankan harga subsidi ini agar tidak memberatkan masyarakat kecil, khususnya para pekerja sektor transportasi.