TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Kementerian Agama (Kemenag) RI menyiapkan transformasi besar bagi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) di Indonesia melalui restrukturisasi program studi (prodi). Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan daya saing PTKIN sekaligus menjawab kebutuhan dunia kerja dan perkembangan industri.
Rencana tersebut disampaikan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, Prof. Amien Suyitno, saat bertemu dengan para pimpinan PTKIN dalam rangkaian Sidang Kelulusan Ujian Masuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (UM-PTKIN) 2026 di The Grand Platinum Hotel, Jakarta, Sabtu (27/6/2026).
Dalam forum nasional itu, hadir pula Rektor UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, Prof. Ridwan, didampingi Penanggung Jawab (PJ) Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) UIN Saizu, Fatwa Kurniawan, bersama para pimpinan PTKIN dari seluruh Indonesia.
Amien Suyitno mengatakan, Kemenag saat ini tengah memfinalisasi konsep pengembangan program studi baru yang akan dibagi dalam tiga kategori utama, yaitu program akademik, program profesi, dan program vokasi.
Menurutnya, skema baru tersebut akan memperluas pilihan pendidikan di PTKIN sekaligus meningkatkan minat masyarakat untuk melanjutkan studi di perguruan tinggi keagamaan.
"Saat ini jumlah prodi kita baru 54. Ke depan, kita akan membaginya ke dalam tiga kategori varian besar, yaitu prodi akademik seperti design technology, prodi profesi, dan prodi vokasi. Ini akan menjadi daya magnet baru agar animo masyarakat masuk PTKIN semakin luas," ujar Prof. Amien Suyitno.
Dia menjelaskan, rancangan restrukturisasi tersebut segera memasuki tahap uji publik dengan melibatkan akademisi, pakar, asosiasi profesi, serta berbagai pemangku kepentingan. Salah satu inovasi yang tengah dipersiapkan Kemenag ialah pembukaan program pendidikan profesi di lingkungan Fakultas Syariah.
Program yang sedang dibahas bersama asosiasi profesi meliputi Pendidikan Profesi Advokat Syariah dan Pendidikan Profesi Akuntan Syariah. Menurut Prof. Amien Suyitno, selama ini pendidikan profesi di bidang tersebut masih didominasi organisasi profesi. Karena itu, PTKIN dinilai sudah saatnya mengambil peran lebih besar dalam menyelenggarakan pendidikan profesi secara resmi.
"Selama ini bidang ini hanya diurusi oleh asosiasi. Sudah saatnya PTKIN mengambil peran strategis untuk menyelenggarakan pendidikan profesi ini secara resmi," katanya. Selain pembaruan kurikulum dan program studi, Kemenag juga memperkuat strategi internasionalisasi PTKIN.
Prof. Amien Suyitno mengungkapkan, pihaknya akan menggelar pertemuan dengan para duta besar negara sahabat untuk membangun kerja sama internasional melalui skema reciprocal program atau program timbal balik.
Melalui program tersebut, PTKIN tidak hanya mengirim mahasiswa dan dosen belajar ke luar negeri, tetapi juga aktif menarik mahasiswa asing untuk menempuh pendidikan di Indonesia.
"Kita ingin membangun reciprocal program yang berdampak nyata. Kita tidak boleh hanya mengekspor mahasiswa atau dosen ke luar negeri, tetapi juga mendatangkan mahasiswa asing untuk belajar di PTKIN," jelasnya.
Menurutnya, peningkatan jumlah mahasiswa internasional akan memperkuat reputasi PTKIN di tingkat global sekaligus memperluas jejaring akademik internasional. Di sisi lain, Kemenag menegaskan bahwa penguatan kompetensi keagamaan tetap menjadi fondasi utama pendidikan di PTKIN.
Karena itu, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam akan melakukan evaluasi terhadap kampus-kampus PTKIN yang belum memiliki fasilitas Ma'had Al-Jamiah atau pesantren kampus.
Kemenag telah menetapkan tiga model penyelenggaraan Ma'had melalui Petunjuk Teknis (Juknis), yakni pembangunan Ma'had mandiri, kerja sama dengan pesantren di sekitar kampus, atau pemanfaatan ruang kelas sebagai Ma'had sementara.
Kebijakan tersebut diambil agar seluruh mahasiswa PTKIN memiliki kemampuan dasar keislaman yang memadai, terlepas dari program studi yang dipilih.
"Apapun program studinya, tidak bisa mengaji itu adalah aib bagi kita semua. Ma'had Al-Jamiah menjadi salah satu instrumen paling efektif untuk memastikan seluruh mahasiswa PTKIN memiliki kompetensi keagamaan yang kuat," tegas Prof. Amien Suyitno.
Keikutsertaan Rektor UIN Saizu Purwokerto, Prof. Ridwan, bersama PJ TIK Fatwa Kurniawan dalam Sidang Kelulusan UM-PTKIN 2026 menjadi bagian dari komitmen UIN Saizu mendukung transformasi pendidikan tinggi keagamaan yang sedang dijalankan Kementerian Agama.
Melalui forum nasional tersebut, seluruh pimpinan PTKIN tidak hanya menetapkan hasil seleksi UM-PTKIN 2026, tetapi juga membahas arah pengembangan perguruan tinggi Islam agar semakin adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, kebutuhan industri, serta tuntutan persaingan global.(***)