Trump Keluarkan Ultimatum Keras, Ancam Hancurkan Iran Usai Baku Tembak Berdarah di Selat Hormuz
Garudea Prabawati June 28, 2026 08:34 PM

TRIBUNNEWS.COM - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah Presiden AS Donald Trump mengeluarkan ancaman keras terhadap Teheran menyusul aksi saling serang yang terjadi di kawasan Selat Hormuz.

Melalui unggahan di platform Truth Social, Trump memperingatkan bahwa Amerika Serikat dapat mengambil langkah militer lebih besar apabila situasi terus memburuk.

“Jika itu terjadi, Republik Islam Iran tidak akan ada lagi,” tulis Trump dalam pernyataannya.

Ancaman tersebut menambah ketegangan yang sebelumnya sudah meningkat akibat saling tuduh antara Washington dan Teheran terkait pelanggaran kesepakatan gencatan senjata.

Mengutip dari The Guardian, ketegangan terbaru bermula setelah Amerika Serikat menuduh Iran bertanggung jawab atas serangan terhadap sebuah kapal dagang di sekitar Selat Hormuz.

Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran internasional yang sangat penting karena menjadi salah satu rute utama distribusi minyak dan gas dunia. Gangguan keamanan di kawasan tersebut berpotensi berdampak terhadap perdagangan energi global.

Menanggapi insiden itu, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) melancarkan operasi militer dengan sasaran sejumlah fasilitas di wilayah pesisir Iran.

Militer AS menyebut lokasi yang menjadi target mencakup fasilitas penyimpanan rudal, drone, serta sistem radar pantai yang dinilai berkaitan dengan kemampuan militer Iran.

Washington menyatakan operasi tersebut merupakan tindakan pertahanan dan respons terhadap dugaan ancaman terhadap pelayaran internasional.

Iran Klaim Lakukan Serangan Balasan terhadap Target AS

Namun, Iran membantah tuduhan tersebut. Pemerintah Teheran menilai serangan Amerika Serikat justru menjadi pelanggaran terhadap kesepakatan damai yang sebelumnya disepakati kedua negara.

Alasan itu yang kemudian mendorong Garda Revolusi Iran (IRGC) untuk melancarkan serangan balasan terhadap sejumlah target militer AS di kawasan Teluk.

Baca juga: Liga Muslim Dunia Kutuk Serangan Iran: Negara Arab Berang, Kuwait Cegat Rudal, Bahrain Desak PBB

IRGC menyatakan serangan tersebut merupakan tindakan balasan atas serangan Washington terhadap wilayah Iran.

Teheran juga memperingatkan bahwa respons berikutnya dapat dilakukan dengan skala lebih besar apabila Amerika Serikat kembali melakukan operasi militer terhadap Iran.

Kuwait dan Bahrain Aktifkan Sistem Pertahanan Udara

Hingga kini, belum terdapat konfirmasi independen mengenai tingkat kerusakan maupun dampak keseluruhan dari aksi saling serang antara Iran dan Amerika Serikat. 

Namun, meningkatnya eskalasi konflik membuat sejumlah negara Teluk mulai meningkatkan kesiapsiagaan keamanan untuk menghadapi kemungkinan meluasnya ancaman.

Kuwait menjadi salah satu negara yang meningkatkan kewaspadaan setelah melaporkan sistem pertahanan udaranya merespons ancaman rudal dan drone yang disebut berasal dari pihak yang bermusuhan. 

Respons tersebut dilakukan tidak lama setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan pernyataan keras terkait konflik dengan Iran.

Selain Kuwait, Bahrain juga memperketat pengamanan wilayahnya. Pemerintah Bahrain mengaktifkan sirene peringatan serangan udara dan meminta masyarakat segera mengikuti instruksi keselamatan dengan menuju lokasi yang dianggap aman.

Situasi tersebut menandai meningkatnya dampak langsung konflik Iran-Amerika Serikat terhadap negara-negara sekutu Washington di kawasan Teluk. 

Tidak hanya meningkatkan kesiagaan militer, Bahrain juga mengambil langkah diplomatik dengan meminta Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menggelar pertemuan darurat untuk membahas perkembangan terbaru.

Dalam pernyataannya, Kementerian Luar Negeri Bahrain menegaskan bahwa negaranya memiliki hak untuk mempertahankan kedaulatan, keamanan, dan integritas wilayah sesuai dengan hukum internasional.

Pemerintah Bahrain menilai serangan yang terjadi dapat mengganggu upaya diplomasi yang sedang berjalan untuk menurunkan ketegangan di kawasan Timur Tengah. Menurut Bahrain, eskalasi militer justru berpotensi mempersempit peluang tercapainya stabilitas regional.

Sementara itu, Kuwait juga mengecam meningkatnya ancaman keamanan akibat konflik tersebut. 

Pemerintah Kuwait menilai aksi militer yang mengarah ke wilayah negara-negara Teluk dapat menjadi tantangan serius terhadap upaya internasional dalam menjaga perdamaian.

Konflik Iran-AS Mengancam Stabilitas Timur Tengah

Meningkatnya aktivitas pertahanan udara di Kuwait dan Bahrain menunjukkan bahwa dampak konflik Iran dan Amerika Serikat mulai meluas melampaui perseteruan langsung antara kedua negara. 

Negara-negara di kawasan Teluk kini menghadapi risiko keamanan yang lebih besar akibat meningkatnya ketegangan militer di wilayah tersebut.

Situasi ini memicu kekhawatiran bahwa eskalasi yang tidak terkendali dapat berkembang menjadi krisis keamanan regional yang melibatkan lebih banyak negara. 

Terlebih, sejumlah negara Teluk memiliki hubungan strategis dengan Amerika Serikat sehingga berpotensi ikut terdampak apabila konflik terus meningkat.

Selain mengancam stabilitas keamanan, ketegangan Iran-AS juga berpotensi memberikan dampak terhadap perekonomian global. 

Perhatian internasional kembali tertuju pada Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu pintu utama distribusi minyak dan gas dunia.

Gangguan keamanan di kawasan tersebut dapat memengaruhi kelancaran lalu lintas kapal dagang, terutama pengiriman energi ke berbagai negara. 

Kondisi itu juga berisiko memicu tekanan terhadap pasar energi global apabila konflik terus berlanjut dan mengganggu aktivitas pelayaran internasional.

Sejumlah pengamat menilai jalur diplomasi menjadi langkah penting untuk mencegah konflik berkembang semakin luas. 

Upaya negosiasi dinilai diperlukan agar Iran dan Amerika Serikat dapat menahan diri serta menghindari tindakan militer yang berpotensi menyeret negara-negara lain di kawasan Teluk.

Dengan keterlibatan negara-negara regional dan meningkatnya aktivitas militer, penyelesaian konflik Iran-AS menjadi tantangan besar bagi komunitas internasional. 

Keberhasilan diplomasi dalam meredakan ketegangan akan menjadi faktor penentu untuk menjaga keamanan Timur Tengah sekaligus melindungi stabilitas ekonomi global.

(Tribunnews.com / Namira)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.