‎Bank Sampah Pusat Makassar Kini Beli Hasil Olahan Sampah Organik
Saldy Irawan June 28, 2026 09:22 PM

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Bank Sampah Pusat (BSP) Pemerintah Kota Makassar kini mulai membeli tiga jenis hasil olahan sampah organik sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem pengelolaan sampah di Kota Makassar.

‎Kebijakan tersebut mulai diberlakukan sejak 8 Juni 2026 dan menjadi langkah baru agar sampah organik tidak lagi berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA).

‎Direktur Bank Sampah Pusat Makassar, Veronica Antonette Tinungki, mengatakan saat ini BSP menerima kompos kering, kompos basah, serta kasgot atau bekas maggot yang telah diolah.

‎“Hasil olahan sampah organik juga kami terima sekarang,” ujar Veronica kepada Tribun Timur, Minggu (28/6/2026).

‎Menurutnya, tambahan tiga produk tersebut membuat total produk sampah organik yang diterima BSP menjadi empat jenis. Sebelumnya, minyak jelantah telah lebih dulu diterima dan dikelola oleh Bank Sampah Pusat.

‎“Jadi sudah empat sekarang, bersama minyak jelantah,” katanya.

‎Veronica menjelaskan masing-masing produk memiliki harga beli berbeda. Kompos kering dihargai Rp1.000 per kilogram, kompos basah Rp500 per kilogram, dan kasgot Rp8.000 per kilogram.

‎Kasgot sendiri merupakan sisa hasil budidaya maggot berupa residu pakan dan kotoran yang telah dibersihkan, dikeringkan, lalu diayak sehingga dapat dimanfaatkan kembali, terutama untuk kebutuhan pertanian dan perkebunan.

‎“Itu bekas maggot yang sudah bersih, sudah kering, sudah diayak, harganya Rp8.000 per kilo,” ujarnya.

‎Sementara itu, minyak jelantah dibeli dengan harga Rp6.500 per kilogram.

‎Veronica mengatakan kebijakan ini lahir untuk menjawab keresahan pengelola bank sampah unit (BSU) yang selama ini kesulitan mencari saluran distribusi hasil pengolahan sampah organik selain digunakan untuk kebutuhan urban farming.

‎Menurutnya, keberadaan skema pembelian tersebut diharapkan dapat mendorong masyarakat lebih aktif memilah dan mengolah sampah rumah tangga, khususnya sisa makanan dan sampah daun.

‎“Supaya masyarakat yang mengelola sampah organik tidak lagi risau hasil olahannya mau disalurkan ke mana. Sekarang ada nilainya,” katanya.

‎Ia menambahkan, ke depan pengelolaan sampah diarahkan agar hanya residu yang masuk ke TPA, sedangkan sampah anorganik maupun organik dapat dimanfaatkan kembali.

‎Veronica mengungkapkan saat ini mulai banyak bank sampah unit yang menjual produk olahan organik mereka ke BSP. 

‎Petugas penjemputan juga telah diberikan pembekalan untuk mengenali jenis produk yang diterima.

‎Di sisi lain, jumlah bank sampah unit di Makassar terus mengalami peningkatan. 

‎Dari sekitar 300 unit sebelumnya pada Mei, kini jumlahnya telah mencapai lebih dari 600 unit.

‎“Sekarang sudah lebih dari 600. Meski begitu, kami tetap terus dorong supaya bank sampah yang sudah terbentuk benar-benar aktif,” ujarnya.(*) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.