TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Bank Sampah Pusat (BSP) Pemerintah Kota Makassar kini mulai membeli tiga jenis hasil olahan sampah organik sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem pengelolaan sampah di Kota Makassar.
Kebijakan tersebut mulai diberlakukan sejak 8 Juni 2026 dan menjadi langkah baru agar sampah organik tidak lagi berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA).
Direktur Bank Sampah Pusat Makassar, Veronica Antonette Tinungki, mengatakan saat ini BSP menerima kompos kering, kompos basah, serta kasgot atau bekas maggot yang telah diolah.
“Hasil olahan sampah organik juga kami terima sekarang,” ujar Veronica kepada Tribun Timur, Minggu (28/6/2026).
Menurutnya, tambahan tiga produk tersebut membuat total produk sampah organik yang diterima BSP menjadi empat jenis. Sebelumnya, minyak jelantah telah lebih dulu diterima dan dikelola oleh Bank Sampah Pusat.
“Jadi sudah empat sekarang, bersama minyak jelantah,” katanya.
Veronica menjelaskan masing-masing produk memiliki harga beli berbeda. Kompos kering dihargai Rp1.000 per kilogram, kompos basah Rp500 per kilogram, dan kasgot Rp8.000 per kilogram.
Kasgot sendiri merupakan sisa hasil budidaya maggot berupa residu pakan dan kotoran yang telah dibersihkan, dikeringkan, lalu diayak sehingga dapat dimanfaatkan kembali, terutama untuk kebutuhan pertanian dan perkebunan.
“Itu bekas maggot yang sudah bersih, sudah kering, sudah diayak, harganya Rp8.000 per kilo,” ujarnya.
Sementara itu, minyak jelantah dibeli dengan harga Rp6.500 per kilogram.
Veronica mengatakan kebijakan ini lahir untuk menjawab keresahan pengelola bank sampah unit (BSU) yang selama ini kesulitan mencari saluran distribusi hasil pengolahan sampah organik selain digunakan untuk kebutuhan urban farming.
Menurutnya, keberadaan skema pembelian tersebut diharapkan dapat mendorong masyarakat lebih aktif memilah dan mengolah sampah rumah tangga, khususnya sisa makanan dan sampah daun.
“Supaya masyarakat yang mengelola sampah organik tidak lagi risau hasil olahannya mau disalurkan ke mana. Sekarang ada nilainya,” katanya.
Ia menambahkan, ke depan pengelolaan sampah diarahkan agar hanya residu yang masuk ke TPA, sedangkan sampah anorganik maupun organik dapat dimanfaatkan kembali.
Veronica mengungkapkan saat ini mulai banyak bank sampah unit yang menjual produk olahan organik mereka ke BSP.
Petugas penjemputan juga telah diberikan pembekalan untuk mengenali jenis produk yang diterima.
Di sisi lain, jumlah bank sampah unit di Makassar terus mengalami peningkatan.
Dari sekitar 300 unit sebelumnya pada Mei, kini jumlahnya telah mencapai lebih dari 600 unit.
“Sekarang sudah lebih dari 600. Meski begitu, kami tetap terus dorong supaya bank sampah yang sudah terbentuk benar-benar aktif,” ujarnya.(*)