Sempat Viral Ribut dengan Direktur BUMD Tanjungpinang, Koboi Akui Emosi dan Pilih Berdamai
Dewi Haryati June 28, 2026 10:25 PM

TANJUNGPINANG, TRIBUNBATAM.id - Perselisihan antara Pedagang Gurindam 12, Koboi dengan Direktur BUMD TMB Tanjungpinang, Guntoro memasuki babak baru.

Koboi menyatakan niat tulus untuk berdamai dengan sang Direktur BUMD Tanjungpinang itu.

"Saya tak ingin perpanjangkan masalah ini lagi. Tadi malam kami sudah dipertemukan Wali Kota Tanjungpinang Lis Darmansyah," kata Frans alias Koboi saat ditemui wartawan Tribun Batam.id di Gurindam 12 Tanjungpinang, Minggu (28/6/2026).

Dalam pernyataannya, Koboi mengakui kejadian itu akibat ketidakadilan berbuntut emosi.

Mulanya, keributan itu terjadi karena ada kebijakan dari Pemerintah Kota Tanjungpinang soal relokasi.

Setiap pedagang diberi satu kontainer, sementara sebagian pedagang ada yang tidak memiliki kontainer menempati lokasi Melayu Square.

Disampaikannya, pada Rabu (24/6/2026) tiba-tiba ada beberapa pedagang yang tidak masuk dalam undian, namun seenaknya mengambil lapak sendiri tanpa melalui prosedur. Tindakan itu mendapat protes dari pedagang lain.

"Atas hal itu saya pun mulai menentukan lapak saya sendiri, dari pada tidak dapat sama sekali," ujarnya.

"Kala itu saya mengambil empat lapak. Langkah ini saya lakukan sebagai bentuk protes saya ke pemerintah karena tidak tegas," sambungnya. 

Saat aksi itu, ada seorang pedagang yang tidak terima dan melapor ke petugas BUMD Tanjungpinang.

"Saya pun didatangi hingga perkelahian terjadi dan viral," katanya. 

Diketahui, Koboi sudah berjualan di kawasan Tepi Laut Tanjungpinang sejak tahun 2021. Belajar dari pengalaman sejak dulu sebelum ada pengurus, penempatan lapak memang berebutan.

"Saya memang beberapa kali berkelahi tapi saya orangnya tidak ingin cari masalah," katanya.

Saat ini, Koboi mengakui dirinya hanya mendapatkan satu lapak saja. Kebetulan lokasinya di hook, sehingga terlihat sedikit besar.

Sementara itu, Wali Kota Tanjungpinang Lis Darmansyah menegaskan kedua belah pihak sudah berdamai.

Lis memberi pesan, yang lalu biarlah berlalu. Yang namanya perbedaan itu biasa, tetapi sebagai pembelajaran keduanya.

"Yang satu harus paham posisi sebagai pejabat publik. Yang satu juga harus paham semua persoalan diselesaikan dengan musyawarah," pesan Lis.

Tidak ada permasalahan yang tak bisa diselesaikan dengan musyawarah. 

"Jangan gunakan ego masing-masing," kata Lis.

Perlu diketahui terkait dengan pedagang tepi laut, pemerintah hanya memfasilitasi agar pedagang bisa berjualan pasca pembangunan kawasan Gurindam 12 berlanjut.

"Jual baik-baik saja, jangan sampai berkelahi antara pedagang. Jika ada masalah diselesaikan dengan kepala dingin," ujarnya berharap. (TRIBUNBATAM.id/ Ronnye Lodo Laleng)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.