Menyikapi Antrean Panjang Truk
Hari Widodo June 29, 2026 09:04 AM

BANJARMASINPOST.CO.ID- ANTREAN panjang truk, bus dan kendaraan angkutan lainnya di Stasiun Pengisian Bahan Bakar umum (SPBU) mulai menjadi pemandangan biasa yang terjadi pada hari-hari belakangan ini. Seperti Minggu (28/6) pagi, tampak deretan truk mengular di pinggir Jalan A Yani Km 5 hingga berkilometer panjangnya.

Pemandangan serupa juga tampak di Jalan A Yani Km 6–7 Banjarmasin, di Jalan A Yani Km 32–33 Loktabat Banjarbaru, dan kawasan lain yang dekat dengan SPBU.

Tidak hanya pinggir jalan, tapi trotoar yang menjadi hak bagi pejalan kaki pun jadi tempat parkir truk yang antre. Antrean panjang bisa berlangsung berjam-jam, hingga hari berganti.

Pemandangan ini mulai marak pascakenaikan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi biosolar  yang cukup drastis. Seperti diketahui, harga biosolar saat ini Rp 6.800 per liter. Angka itu jauh lebih murah dari BBM nonsubsidi Dexlite yang saat ini dibanderol Rp 24.000 per liter, dan Pertamina Dex Rp 29.500.

Pascakenaikan harga BBM nonsubsiDi, biosolar seolah langka. Konsumennya bertambah, sementara kuota diklaim tetap seperti biasa. Disparitas harga yang sangat besar itu membuat para sopir angkutan tak ingin rugi. Mereka rela antre mendapat BBM yang lebih murah, agar masih ada keuntungan dari upah jasanya untuk dibawa pulang ke rumah.

Tapi antrean panjang yang terjadi ini bukan sekadar masalah ekonomi. Ada dampak sosial dan potensi kerawanan yang perlu diantisipasi pihak terkait.

Saat ini antrean panjang itu juga berdampak pada warga dan tempat usaha sekitar SPBU. Akses jalan menyempit dan pemandangan terhalang deretan truk yang parkir. Bahu jalan umum yang seharusnya berfungsi untuk kelancaran arus lalu lintas dan keselamatan berkendara, kini beralih fungsi menjadi lahan parkir darurat tanpa izin.

Potensi kecelakaan pun meningkat, terutama pada titik-titik perlambatan arus yang rawan. Kondisi ini perlu disikapi serius oleh pihak keamanan, seperti dari kepolisian dan dinas perhubungan.

Imbauan agar para sopir tertib dan menyalakan lampu hazar saat mengantre di malam hari, seperti disampaikan Satlantas Polres Banjarbaru, bisa menjadi salah satu upaya penertiban dan antisipasi kecelakaan. Namun hal tersebut bukan solusi utama.

Pertamina bisa saja bergeming alasan kenaikan BBM nonsubsidi karena krisis global yang sedang terjadi saat ini membuat harga minyak dunia naik. Tapi kondisi yang terjadi saat ini bisa menjadi momentum pembenahan tata kelola distribusi BBM.

Mulai dari zonasi khusus untuk kendaraan besar yang boleh antre di SPBU dalam kota, hingga penerapan aplikasi digital pembelian BBM subsidi yang lebih diperketat. Mereka yang bisa membeli BBM bersubsidi hanyalah yang terdaftar dan masuk kuota.

Tentu saja pengawasan terhadap SPBU juga harus terus dilakukan. Jangan sampai ada yang main mata tengan spekulan atau orang yang sengaja memanfaatkan kondisi saat ini untuk meraih untung sendiri. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.