Dikaitkan Peserta SPPI Meninggal, Apa Hubungan Heat Stroke dan Henti Jantung?
GH News June 29, 2026 11:08 AM
Jakarta -

Peserta sarjana penggerak pembangunan Indonesia (SPPI) program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan Koperasi Nelayan Merah Putih (KNMP) yang meninggal dunia kian bertambah. Kini tercatat sudah ada lima peserta yang meninggal.

Pemicu meninggalnya peserta beragam, tapi salah satu peserta dilaporkan karena heat stroke dan berakhir dengan hasil Elektrokardiogram (EKG) yang menunjukkan flat asystole, yang diduga adalah tanda henti jantung (cardiac arrest).

"Kondisi terus memburuk hingga pukul 18.51 WITA, hasil EKG menunjukkan flat asystole. Pada pukul 19.00 Wita, dokter menyatakan almarhumah meninggal dunia. Berdasarkan keterangan medis, penyebab kematian adalah heat stroke," kata Kepala BPSDMD Kemhan, Mayjen Ketut Gede Wetan saat melaporkan meninggalnya salah satu peserta.

Apa Hubungannya?

Ditanya mengenai hal ini, dokter spesialis jantung dr Vito Anggarino Damay, SpJP(K), FIHA, FICA mengatakan Asystole atau 'flat line' pada EKG artinya tidak ada aktivitas listrik jantung merupakan salah satu tanda EKG pada pasien cardiac arrest (henti jantung).

"Kalau aktivitas listrik jantung sudah tidak ada, maka jantung tidak lagi mampu memompa darah ke seluruh tubuh. Pada kondisi ini penderita tidak sadar, umumnya sudah tidak bernapas, dan tidak teraba denyut nadinya," kata dr Vito saat dihubungi detikcom, Senin (29/6/2026).

"Asystole merupakan salah satu irama henti jantung dengan prognosis yang paling berat sehingga memerlukan resusitasi jantung paru (CPR) dan penanganan medis secepat mungkin," sambungnya.

Senada, dr Vito juga mengatakan bahwa kondisi ini bisa dipicu oleh suhu panas tubuh ekstrem atau heat stroke.

Saat suhu tubuh mencapai lebih dari sekitar 40 derajat celsius, tubuh mengalami stres yang sangat berat. Terjadi kehilangan cairan, tekanan darah dapat turun, denyut jantung menjadi sangat cepat, dan kebutuhan oksigen jantung meningkat.

"Pada saat yang sama, gangguan elektrolit seperti kadar kalium atau natrium yang tidak normal dapat memicu gangguan irama jantung (aritmia) atau analoginya seperti korslet listrik jantungnya," katanya.

Panas ekstrem juga dapat menyebabkan kerusakan langsung pada sel-sel tubuh, memicu peradangan hebat, gangguan pembekuan darah, hingga kerusakan otot yang berat (rhabdomyolysis).

"Kombinasi berbagai kondisi tersebut dapat menyebabkan jantung tidak lagi mampu mempertahankan sirkulasi darah dan pada kasus yang berat dapat berujung pada cardiac arrest," tegasnya.

"Jadi, pada heat stroke, henti jantung umumnya bukan terjadi karena penyakit jantung semata, melainkan merupakan akibat dari kegagalan fungsi berbagai organ tubuh yang dipicu oleh suhu tubuh yang sangat tinggi," sambungnya.

Menurut dr Vito, heat stroke merupakan keadaan gawat darurat medis yang memerlukan pendinginan tubuh secepat mungkin dan penanganan intensif untuk meningkatkan peluang keselamatan pasien.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.